SEMARANG, KOMPAS — Masyarakat mengeluhkan pemadaman listrik yang terjadi selama berjam-jam di sejumlah daerah di Jawa Tengah beberapa waktu terakhir. Kondisi itu mengakibatkan terganggunya proses seleksi penerimaan peserta didik baru hingga menghambat aktivitas warga yang menjalani sistem bekerja dari rumah atau work from home (WFH).
Di wilayah Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, pemadaman listrik terjadi setidaknya dua kali dalam pekan ini, yakni pada Senin (15/6/2026) dan Rabu (17/6/2026). Pemadaman pada Senin terjadi mulai pukul 10.00 WIB, mengganggu proses seleksi penerimaan peserta didik baru.
"Karena sekolah tidak punya genset, jadinya ditunggu senyalanya. Tapi sampai siang juga belum nyala, akhirnya tidak bisa dilakukan pendaftarannya," kata Lutfia (37), seorang guru Madrasah Tsanawiyah di Boja, saat dihubungi, Kamis (18/6/2026).
Oleh karena listrik mati, pompa air di sekolah yang biasanya beroperasi dengan tenaga listrik juga tidak beroperasi. Akibatnya, penyediaan air di MTs tempat Lutfia mengajar jadi terganggu.
Kemudian, pemadaman listrik yang terjadi pada Rabu pukul 17.00-19.00 WIB. Kondisi itu membuat aktivitas Lutfia di rumahnya terganggu. Sejumlah bahan makanan yang disimpan di kulkas juga jadi berair dan menurun kualitasnya.
Menurut Lutfia, pemadaman yang terjadi tidak diinformasikan sebelumnya oleh pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN). Oleh karena itu, warga tidak bisa bersiap-siap.
"Padahal posisinya juga padam bukan karena ada kondisi darurat, misalnya pohon tumbang atau hujan petir. Ini tidak ada apa-apa, tiba-tiba listrik padam dalam waktu yang cukup lama," ucap Lutfia.
Pemadaman listrik juga dikeluhkan oleh Yeni (33), warga Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri. Dalam dua pekan terakhir, pemadaman listrik terjadi setidaknya tiga kali. Kondisi tersebut membuat aktivitas bekerja dari rumah atau WFH yang dijalani perempuan itu menjadi terhambat.
"Jadi pernah waktu saya lagi interview calon karyawan, tiba-tiba mati listrik. Karena saya pakai wifi, tiba-tiba koneksi internetnya terputus. Ini sangat mengganggu," ujar Yeni yang bekerja sebagai manajer sumber daya manusia di sebuah perusahaan di Jakarta.
Selain itu, Yeni juga pernah mengalami mati listrik ketika dirinya sedang melakukan presentasi secara daring. Dia pun terpaksa harus berpindah perangkat menggunakan ponsel untuk bisa meneruskan presentasinya.
Pemadaman terakhir kali terjadi di Girimarto pada Rabu, dari pukul 16.30-18.30 WIB. Lagi-lagi, pekerjaan Yeni terhambat dalam pekerjaannya. File-file yang tengah diunduhnya tiba-tiba rusak karena koneksi internet putus mendadak.
Yeni menyebut, PLN sering kali memadamkan listrik tanpa pemberitahuan sebelumnya. Pemberitahuan biasanya baru disampaikan jika warga sudah melakukan protes, baik dengan cara menelepon maupun protes di media sosial. Padahal, pemberitahuan dinilai penting supaya warga yang bakal terdampak bisa menyiapkan mitigasi.
Kondisi serupa juga dikeluhkan Ema Rahmawati (60), warga Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Menurut Ema, pemadaman listrik tanpa pemberitahuan rutin terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Lama waktu pemadaman juga tidak sebentar, rata-rata sekitar 3 jam.
Akibat pemadaman listrik tersebut, nasi yang dihangatkan Ema dalam penanak nasi jadi berbau. Makanan yang ia simpan di kulkas juga jadi rusak. Selain itu, Ema khawatir, pemadaman listrik yang semakin sering terjadi membuat peralatan elektronik di rumahnya jadi mudah rusak.
"Saya berharap, PLN jangan seenaknya sering memadamkan listrik, apalagi tanpa pemberitahuan. Kami bayar listrik selalu tepat waktu, bayarnya juga mahal karena setiap tahun naik. Pemerintah juga harus bertanggung jawab karena kita kan penghasil batu bara terbesar, pembangkit listrik tenaga uap dimana-mana, kok bisa pasokan listriknya tidak stabil?" katanya.
Ilma Salsabila (28), warga Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, juga mengeluhkan dampak pemadaman listrik. Pekan lalu, listrik di lingkungan rumah Ilma dua kali padam. Listrik baru kembali nyala setelah 4 jam. Akibatnya, aktivitas Ilma di rumah terganggu.
Sebelumnya, pemadaman listrik disebut Ilma cukup jarang terjadi di wilayahnya. Dalam sebulan, biasanya hanya satu kami listrik padam. Pemadaman itu juga biasanya terjadi jika sedang ada angin kencang atau hujan lebat yang membuat pohon tumbang menimpa kabel listrik.
Oleh karena takut pemadaman listrik terus terjadi, Ilma sampai mengganti bolam-bolam lampu di rumahnya dengan bolam darurat. Setelah listrik padam, bolam lampu darurat itu bisa tetap menyala maksimal 4 jam.
"Saya juga mulai berjaga-jaga dengan selalu memastikan daya pada power bank (bank daya) penuh. Saat ini, saya punya empat power bank yang masing-masing bisa digunakan untuk dua kali mengisi daya ponsel sampai penuh. Ke depan, saya ada rencana beli lagi, biar cadangannya semakin banyak, bisa digunakan sekeluarga," ucap Ilma.
Ilma juga berharap, PLN maupun pemerintah memastikan ketersediaan pasokan listrik masyarakat tidak terganggu. Hal itu karena hampir seluruh kehidupan masyarakat bergantung pada listrik.
Jadi pernah waktu saya lagi interview calon karyawan, tiba-tiba mati listrik. Karena saya pakai wifi, tiba-tiba koneksi internetnya terputus. Ini sangat mengganggu
Sementara itu, Manager Komunikasi PLN Unit Induk Distribusi Jateng Prayudha Fasya Perdana mengatakan, pihaknya mengerahkan seluruh sumber daya untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan di wilayahnya. Hal itu menyusul adanya kendala teknis operasional pada pembangkit yang menyebabkan penurunan kapasitas suplai listrik.
"Untuk menjaga stabilitas dan keandalan sistem kelistrikan, PLN melakukan manajemen beban secara terbatas di sejumlah wilayah terdampak di Jateng serta terus mengupayakan percepatan pemulihan kondisi operasi pembangkit agar pasokan listrik dapat kembali normal," ujar Prayudha dalam keterangannya.
Menurut Prayudha, PLN akan terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan proses penanganan berjalan optimal serta pasokan terjaga. Perkembangan proses penanganan dan pemulihan disebut Prayudha akan disampaikan melalui kanal komunikasi resmi PLN.





