Judi Online Masih Merajalela di Indonesia, Padahal Dilarang Keras? Ini Penyebab Utama dan Solusi yang Perlu Dilakukan

tvonenews.com
10 jam lalu
Cover Berita

tvOnenews.com - Perang melawan judi online tampaknya masih jauh dari kata usai. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai langkah masif untuk memberantas praktik perjudian digital, mulai dari pemblokiran jutaan situs, pembekuan rekening, penangkapan pelaku, hingga pembentukan satuan tugas lintas lembaga. 

Namun kenyataannya, judi online masih terus tumbuh dan menjangkau lapisan masyarakat yang semakin luas.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Negara-negara maju seperti Inggris, Australia, hingga Amerika Serikat juga menghadapi tantangan serupa. Bedanya, sebagian negara memilih melegalkan dan mengatur industri perjudian secara ketat, sementara Indonesia menerapkan larangan total. 

Meski demikian, perkembangan teknologi membuat batas-batas negara semakin sulit menjadi penghalang bagi operator judi yang beroperasi dari luar negeri.

Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat. Jika sudah ada undang-undang yang melarang, ribuan situs ditutup setiap hari, dan aparat terus melakukan penindakan, mengapa judi online tetap sulit diberantas? Jawabannya ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar menutup situs atau menangkap pemain.

Judi Online Bukan Lagi Sekadar Website

Banyak orang masih menganggap judi online hanya berbentuk situs internet yang dapat diblokir sewaktu-waktu. Padahal, model bisnis perjudian digital saat ini telah berkembang menjadi ekosistem yang sangat kompleks dan terorganisasi.

Website hanyalah etalase depan. Di baliknya terdapat jaringan yang melibatkan bandar, operator teknologi, penyedia server, afiliator, promotor media sosial, influencer, hingga sistem pembayaran lintas negara.

Ketika satu domain diblokir, pelaku dapat membuat puluhan domain baru hanya dalam hitungan menit. Bahkan kini banyak promosi judi yang tidak lagi mengandalkan website utama, melainkan melalui grup Telegram, WhatsApp, akun media sosial anonim, hingga siaran langsung di berbagai platform digital.

Fenomena serupa juga ditemukan di Inggris dan Australia. Laporan UK Gambling Commission menunjukkan operator ilegal kerap menggunakan jaringan situs "mirror" atau situs kembar untuk menghindari pemblokiran. Teknik ini memungkinkan layanan tetap berjalan meskipun alamat utama telah ditutup oleh regulator.

Karena itu, keberhasilan pemberantasan judi online tidak bisa hanya diukur dari jumlah situs yang diblokir.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
OJK Tanggapi Review MSCI, Janji Perkuat Transparansi Pasar Modal RI
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
BGN Berencana Pakai Ribuan Motor Listrik yang Diselidiki Kejagung
• 13 jam lalukatadata.co.id
thumb
Demi Kepentingan Rakyat, Pemerintah Diminta Evaluasi Lapangan Golf Otto Hasibuan
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
BI Naikkan Suku Bunga ke 5,75%, Samuel Sekuritas: Pengetatan Belum Usai
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
Daftar Negara yang Paling Bergantung pada Minyak Timur Tengah
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.