Cahaya matahari masih mengintip malu-malu dari balik lantai bagian atas saat Sharfina Diah Nuratikah bersama ibu dan bapaknya, Lilis Arofiyanti dan Andradiet Ixvetrial Jacob Alis, serta kakaknya, Aditya Kemal, tiba di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, Kamis (18/6/2026). Pagi itu, mereka akan melaksanakan tawaf wada.
Tawaf wada adalah tawaf perpisahan dengan Masjidil Haram dan simbol keagungannya, Kabah, yang baru tiga hari berselimutkan kiswah baru. Tak terasa, sebulan lebih keluarga asal Tangerang Selatan, Banten, itu berada di Mekkah. Setelah paripurna seluruh rangkaian haji mereka, Jumat (19/6/2026), mereka bergeser ke Madinah.
Sebelum memulai tawaf wada, Lilis mengikatkan tali di tubuhnya dengan badan Sharfina. Tali pengikat ini diikatkan ke tubuh keduanya agar mereka tidak terpisah saat menyibak kerumunan jemaah tawaf yang sering berdesakan.
Sharfina (30), menurut Lilis, mengalami gangguan spektrum autisme atau autism spectrum disorder (ASD) level menengah ke bawah. Dalam sejumlah literatur, ASD kerap didefinisikan sebagai gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi cara seseorang berpikir, berkomunikasi, dan bersosialisasi.
Lilis menjelaskan, karakteristik anak-anak autistik sama dalam tiga hal, yaitu kesulitan berkomunikasi, kesulitan sosialisasi, dan memiliki perilaku berulang. Selain itu, kemampuan kognitif (IQ) mereka juga terdampak. Lilis mengatakan, hasil skor tes IQ yang pernah dilakukan pada Sharfina adalah 70.
Meski demikian, dengan segala keterbatasan tersebut, praktis tak ada kendala dalam tawaf wada yang dijalani Sharfina, Kamis pagi itu. Segalanya berjalan mulus. Dalam tujuh kali putaran mengelilingi Kabah, ia dan Lilis berjalan di depan. Andre, panggilan ayahnya, dan Kemal, sang kakak, berjalan di belakang mereka.
Lilis atau Andre hanya perlu memberi tahu Sharfina saat mereka harus melakukan istilam (isyarat memberi lambaian tangan dan isyarat ciuman jauh ke Hajar Aswad). Menjelang akhir tawaf, Sharfina tidak mengalami kesulitan diajak menyibak kerumunan jemaah menepi, lalu berdoa di area searah dengan multazam.
Bagi umat Islam, area itu diyakini sebagai salah satu tempat paling mustajab untuk melantunkan doa-doa. Tawaf wada diakhiri dengan lambaian tangan ke arah Kabah saat mereka meninggalkan pelataran utama Masjidil Haram.
Paripurna sudah perjalanan haji Sharfina bersama keluarganya, yang dimulai dari umrah wajib, lalu wukuf di Arafah, mabit murur di Muzdalifah, mabit di Mina, melempar jamrah di Jamarat, nafar awal, hingga tawaf ifadah, sai, dan tahalul. Dengan seluruh rangkaian haji itu telah dijalani tuntas olehnya, seperti jemaah haji lainnya, Sharfina pun berhak menyandang sebutan hajah.
”Saya paham, dia kurang terlalu mengerti tentang makna haji. Tetapi, (perjalanan haji) ini lebih memberikan pengalaman aktivitas (haji) pada dia,” kata Lilis dalam wawancara seusai tawaf di hotel mereka, Hotel Al-Hidayah, kawasan Al-Aziziyah. ”Saya melihat, dia seperti mengalami suatu tur ke suatu negara.”
Dengan seluruh rangkaian haji itu telah dijalani tuntas olehnya, seperti jemaah haji lainnya, Sharfina pun berhak menyandang sebutan hajah.
Lilis bercerita, ia mendaftarkan haji Sharfina bersama keluarga pada 2013 atau sekitar lima tahun setelah umrah mereka. Pada 2023, mereka umrah lagi plus berkunjung ke Turki. Pengalaman bepergian ke sejumlah negara, dengan masa tinggal hingga belasan hari, menjadi bekal penting bagi Sharfina untuk pergi haji dengan durasi hingga 40 hari.
”Dik, kita mau pergi haji. Pergi haji itu seperti pergi umrah,” kata Lilis kepada Sharfina saat mereka akan berangkat haji bersama Kloter 23 embarkasi Banten (JKB 23), pertengahan Mei lalu.
”Kalau disampaikan pergi umrah, dia sudah tahu akan pergi ke Mekkah, melakukan tawaf dan sai, karena sudah pernah dua kali umrah. Jadi, pemahaman kegiatannya (di Tanah Suci) dia tahu karena sudah mengalami. Tapi, makna haji seperti orang normal yang kognitifnya tidak bermasalah, dia enggak sampai,” tutur Lilis.
Lilis menyebut praktik keagamaan yang dijalani Sharfina, termasuk shalat, puasa, dan membaca Al-Quran, lebih bersifat hafalan. Sharfina sejak SD biasa menjalani puasa sunah Senin-Kamis dan belakangan hanya Senin karena masalah kesehatan. Ia juga bisa membaca Al-Quran, meski lebih bersifat hafalan, dan khatam beberapa kali sejak SMP.
”Ritual kegiatan atau aktivitas (keagamaan) tetap dijalankan, tetapi pemaknaan dan gerakan-gerakannya masih perlu dikontrol,” ujar Lilis dan Andre.
Dengan kondisi mental dan kognitif seperti itu, Sharfina menunaikan ibadah haji. Lilis menuturkan, seluruh fase puncak haji atau Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) bisa dijalani Sharfina. Kuncinya, memberi tahu lebih dulu gambaran aktivitas ibadah yang akan dijalani pada fase-fase puncak haji tersebut.
”(Saat akan wukuf) Kami sudah bilang padanya bahwa kita akan pergi ke Arafah, kita nginep-nya di tenda, tidurnya di kasur bawah, rame-rame sama banyak orang. Itu sudah saya tanamkan pada dia sejak dua hari sebelumnya,” ujar Lilis.
Fase Muzdalifah dilalui dengan murur (melintas dengan naik bus, tanpa turun). Saat akan bergerak ke Mina, Lilis kembali memberi tahu Sharfina, ”Kita pindah ke Mina. Nanti di tenda lagi. Ukuran (tenda)-nya lebih kecil.”
Saat waktunya melempar jamrah di Jamarat, Sharfina melempar jamrah aqabah sendiri pada 10 Zulhijah atau sehari setelah wukuf. Bersama jemaah lainnya, ia ikut berjalan kaki lebih dari 7 kilometer. Namun, pada lemparan jamrah kedua dan ketiga, ia dibadalkan (diwakilkan) karena kurang sehat.
”Intinya, memfamiliarkan pada ananda dengan banyak bepergian, ikut grup-grup seperti grup wisata untuk membiasakan bagaimana bepergian dalam kelompok. Mengenai ibadah hajinya, bisa disimulasikan dengan umrah dulu,” kata Lilis mengenai pengalaman haji bersama anaknya yang autis.
Dari pengalaman Sharfina, haji bagi penyandang autisme jelas butuh pendampingan ekstra. Lilis juga menggarisbawahi pentingnya aspek kepatuhan jemaah dengan autisme pada instruksi pendamping. Dari pengalaman dirinya, aspek kepatuhan ini ditempa melalui berbagai terapi sejak Sharfina kecil.
Terkait jemaah haji penyandang autisme, Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas Deka Kurniawan kepada Media Center Haji mengatakan, jemaah haji penyandang disabilitas autisme, seperti Sharfina, amat jarang. Sementara jemaah haji penyandang disabilitas netra, tuli, dan berkursi roda sudah sering diangkat.
Deka paham, dari segi syariat tidak ada kewajiban bagi penyandang autisme untuk berhaji terkait persyaratan berakal. ”Namun, sebagai warga negara, mereka punya hak sama (untuk berhaji),” ujarnya.
Ada sejumlah tantangan yang kompleks untuk memberangkatkan jemaah disabilitas autisme, mulai dari saat pemberangkatan di Tanah Air, saat di Tanah Suci, hingga puncak haji. Perjalanan haji Sharfina bisa menjadi inspirasi bagi penyandang disabilitas lain untuk memiliki hak yang sama menunaikan rukun Islam kelima.





