Kafe di SMK Negeri 15 Bandung, Titian Siswa ke Dunia Kerja

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Segarnya triple peach americano menemani Senin (15/6/2026) pagi di Kota Bandung, Jawa Barat. Kopi dengan cita rasa peach segar, hasil racikan para siswa SMK Negeri 15 Bandung, itu menjadi salah satu sajian di Coffee Shop Libels. Kedai itu menempati salah satu area di lantai dua SMK Negeri 15, tempat para siswa mempraktikkan keterampilannya agar siap masuk ke pasar kerja.

Di teaching factory  (Tefa) Coffee Shop Libels itu, para siswa SMK bidang kuliner dan perhotelan secara bergantian mempraktikkan keterampilannya. Tefa ini merupakan unit usaha, tempat para siswa praktik keterampilannya sekaligus untuk merasakan dunia kerja.

”Belajar di Tefa di SMK itu mendukung capaian pembelajaran siswa. Jika mampu terus berproduksi layaknya bisnis sungguhan, tentu bisa berkembang lagi,” kata Kepala SMK Negeri 15 Bandung Rohayati di Bandung, Jawa Barat, Senin (15/6/2026).

Apa yang dilakukan SMK Negeri 15 itu merupakan ikhtiar untuk memberi peluang lulusannya agar siap bekerja, melanjutkan studi dan wirausaha (BMW). Ketika memilih bekerja atau melanjutkan kuliah, pilihannya tidak terbatas di dalam negeri saja, tetapi juga terbuka hingga ke luar negeri.

Berdasarkan hasil tracer study (penelusuran alumni) SMK Tahun 2024, pilihan ”BMW” yang disiapkan di pendidikan SMK itu telah dioptimalkan. Lulusan SMK paling banyak langsung bekerja yakni 47,63 persen, disusul wirausaha sebesar 23,64 persen dan sekitar 13,37 persen melanjutkan studi. Sisanya,  11,12 persen, melakukan kegiatan lainnya dan 4,24 persen pengangguran. 

Baca JugaSMK Kecil pun Berjuang untuk Unggul
Baca JugaPerkuat Mutu Lulusan SMK untuk Bekerja ataupun Berwirausaha

Lulusan SMK yang disebutkan punya pilihan ”BMW” ditopang dengan pembelajaran yang lebih menitikberatkan pada praktik guna mengasah hardskills dan softskills siswa sesuai bidang keahlian, seperti yang diterapkan di SMK Negeri 15 Bandung. Mereka tak hanya ditempa di sekolah, tetapi juga langsung ke dunia usaha dan dunia industri yang terkait dengan bidang keahlian.

Seperti halnya di SMK Negeri 15 Bandung, siswa punya pilihan untuk terampil di bidang perhotelan, kuliner, pekerja sosial, atau desain komunikasi visual. Tak sekadar teori, siswa mempraktikkan tiap keterampilan yang diajarkan guru layaknya di dunia kerja.

Dengan berseragam putih lengan panjang dipadu vest (rompi) hitam, dasi kupu-kupu, dengan celana atau rok hitam, beberapa siswa menyambut tamu di Tefa Coffee Shop Libels. Siswa lainnya membantu pelanggan untuk memilih menu minuman kopi atau non-kopi yang diinginkan.

Di balik meja, beberapa siswa menjalankan perannya sebagai barista untuk meracik kopi pesanan pelanggan. Triple peach americano, salah satunya, dijual seharga Rp 17.000 per gelas.

Tak sekadar teori, siswa mempraktikkan tiap keterampilan yang diajarkan guru layaknya di dunia kerja.

Potensi kembangkan usaha

Rohayati mengaku, agar kedai kopi itu bisa mendatangkan keuntungan, SMK membutuhkan payung hukum menjadi badan layanan umum daerah (BLUD). ”SMK milik pemerintah butuh payung hukum untuk menjadi BLUD supaya leluasa untuk mengembangkannya (usaha) agar juga bisa dapat profit,” ucapnya.

Baca JugaMengasah Kecakapan Kerja di ”Teaching Factory” Sekolah Vokasi

Jika payung hukum BLUD itu ada, menurut Rohayati, Coffee Shop Libels bisa dipindah ke bagian muka sekolah. Dengan demikian, kafe kopi yang tadinya melayani internal bisa melayani juga pembeli dari luar dan beroperasi lebih panjang, tidak bergantung jam sekolah.

”Kami berharap pengembangan Tefa ini bisa lebih menyiapkan para siswa semakin terbiasa dengan budaya kerja. Mereka nantinya diasah lagi dengan praktik kerja di dunia industri,” kata Rohayati.

Sekolah juga punya potensi mengembangkan hotel pendidikan yang selama ini hanya dipakai sebagai praktik house keeping. Ada juga  potensi siswa bidang keahlian pekerjaan sosial yang dapat praktik langsung di Day Care hingga pelayanan kesehatan kunjung ke rumah, termasuk untuk warga lanjut usia.

Menurut Rohayati, dari laporan alumni di tahun 2024,  lulusan yang bekerja sebanyak 42 persen, yang berwirausaha sekitar 30 persen, dan sisanya melanjutkan kuliah.

”Lulusan SMK, kan, disiapkan bisa menjadi BMW. Pilihan berwirausaha juga dilirik siswa karena bisa jualan online, kan, seperti yang lulusan bidang kuliner,” ujar Rohayati.

Baca JugaSekolah Kejuruan Akan Diperkuat
Baca JugaSiswa SMK di Aceh Produksi Pelindung Wajah dan Cairan Antiseptik
Magang di perkapalan

Kesiapan lulusan SMK untuk bekerja sambil kuliah dibuktikan Rieke, alumni SMK Kelautan dan  Perikanan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Sekolahnya punya program mengirimkan lulusan untuk magang ke perusahaan perkapalan hingga pengolahan makanan di luar negeri, salah satunya Jepang.

Rieke memilih untuk bekerja di Jepang seusai lulus. ”Belajar selama tiga tahun di SMK membuat saya siap untuk bekerja di luar negeri. Saya tertarik karena gajinya lebih besar dibandingkan di Indonesia sehingga bisa membantu perekonomian keluarga. Untuk saya sendiri bisa menambah pengalaman dan bisa belajar bahasa Jepang langsung di negaranya,” kata Rieke.

Rieke tak berpuas diri meski di Jepang gajinya tinggi. Sambil bekerja, dia melanjutkan kuliah secara daring di salah satu perguruan tinggi di Indonesia sehingga menambah daya saing dirinya di dunia kerja.

Peningkatan mutu SMK menjadi kunci untuk menyiapkan lulusan dalam membuat keputusan, apakah hendak bekerja, melanjutkan studi, atau berwirausaha.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Tatang Muttaqin mengatakan, peningkatan mutu SMK menjadi kunci untuk menyiapkan lulusan dalam membuat keputusan, apakah hendak bekerja, melanjutkan studi, atau berwirausaha. Salah satu dukungan Kemendikdasmen dengan mendukung penyediaan ruang praktik siswa guna mendukung pembelajaran vokasional.

”Pembelajaran di SMK diperkuat melalui project based learning  atau pembelajaran berbasis proyek serta pembelajaran berbasis industri  atau Tefa yang menjadi  salah satu kekhasan pembelajaran di SMK,” katanya. 

Daya saing lulusan SMK juga didorong ke pasar global. Mulai tahun ini dijalankan program Kelas Kebekerjaan Luar negeri SMK 3+1 untuk menyiapkan lulusan SMK yang berminat bekerja di luar negeri. Sebab, permintaan tenaga kerja di berbagai negara tujuan cukup tinggi, seperti bidang hospitality, caregiver, maritim, dan manufaktur, yang sumber daya manusianya sudah ada yang dididik di SMK.

Selain menyiapkan peningkatan kemampuan bahasa asing, siswa juga dibekali budaya kerja dan hidup di negara tujuan. Selain itu, penyiapan mental dan softskills agar tangguh dan terus berkembang.

Baca JugaVokasi yang Tepat Perbaiki Produktivitas
Baca JugaVokasi Belum Selaras dengan Dunia Industri

Menurut Tatang, dunia kerja saat ini tidak lagi hanya melihat ijazah, tetapi juga kompetensi dan kemampuan berkomunikasi secara global. Bahasa telah menjadi jembatan masa depan, dan lulusan SMK harus percaya diri untuk bersaing tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga internasional.

”Pemerintah terus berupaya memastikan lulusan SMK tidak hanya siap menerima ijazah, tetapi juga benar-benar siap menghadapi dunia kerja global yang semakin kompetitif,” kata Tatang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Upaya Dedolarisasi BI Gandeng PBOC Perluas Penggunaan Rupiah-Yuan
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
OJK Minta Direksi BEI Baru Lanjutkan Reformasi Integritas di Pasar Modal
• 20 jam laluidxchannel.com
thumb
Indef: Komitmen manajer KDMP lebih tepat dijaga dengan kontrak kerja
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
Tinggalkan Dolar AS, Transaksi Mata Uang Lokal RI-China Tembus Rp233,7 Triliun dalam 4 Bulan
• 16 jam laluidxchannel.com
thumb
Cukup Alat Bukti, Kejagung Tetapkan GHS Tersangka Kasus Korupsi Tata Kelola MBG
• 16 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.