Qian Baidu
Kesepakatan yang dicapai antara Amerika Serikat dan Iran dinilai berhasil mengakhiri konfrontasi kedua negara dengan biaya serendah mungkin sekaligus memperkuat dominasi Amerika di Timur Tengah. Dengan demikian, empat tujuan utama yang ingin dicapai Presiden Trump disebut telah berhasil diwujudkan.
Pada malam 14 Juni, Trump mengumumkan di platform Truth Social: “Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai. Selamat untuk semuanya!”
Menurut Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang berperan sebagai mediator penting dalam perundingan tersebut, upacara penandatanganan resmi kesepakatan AS-Iran dijadwalkan berlangsung di Swiss pada 19 Juni.
Berdasarkan informasi yang telah diungkap media, dokumen ini merupakan nota kesepahaman sementara, bukan perjanjian damai final.
Isi pokok kesepakatan- Gencatan senjata segera diberlakukan, termasuk di medan konflik terkait seperti Lebanon.
- Selat Hormuz dibuka kembali sehingga sekitar 20% jalur pengiriman minyak dunia dapat kembali beroperasi.
- Amerika Serikat mencabut blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan memberikan pelonggaran sanksi secara bertahap.
- Kedua pihak memulai perundingan selama 60 hari untuk mencapai kesepakatan final.
- Pembahasan akan difokuskan pada program nuklir Iran, pencabutan sanksi jangka panjang, dan isu keamanan kawasan.
- Iran berjanji tidak akan mengembangkan senjata nuklir serta akan membahas masa depan fasilitas nuklir dan pengayaan uranium.
Meskipun sebagian aset Iran yang dibekukan mungkin akan dilepaskan di masa mendatang, proses tersebut akan dilakukan secara bertahap dan disertai persyaratan verifikasi yang ketat.
Dengan kata lain, tanpa persetujuan Amerika Serikat, aset Iran senilai puluhan miliar dolar AS yang masih dibekukan tetap tidak dapat digunakan.
Trump disebut berhasil mencapai seluruh targetnya, sementara Iran dinilai banyak mengalahMenurut artikel ini, tujuan utama Trump dalam menghadapi Iran sejak awal adalah:
- Membendung perluasan program nuklir Iran.
- Menstabilkan situasi energi di Timur Tengah.
- Mengakhiri konfrontasi AS-Iran dengan biaya serendah mungkin.
- Memulihkan dominasi Amerika Serikat dalam urusan Timur Tengah.
Penulis berpendapat bahwa melalui kesepakatan ini, keempat tujuan tersebut telah tercapai.
Dari sudut pandang Amerika Serikat, pembatasan ambisi nuklir Iran merupakan prioritas utama di Timur Tengah. Artikel tersebut menyatakan bahwa Iran kini berkomitmen untuk membatasi penelitian nuklirnya, menghentikan produksi uranium yang diperkaya pada tingkat tinggi, serta menerima inspeksi internasional secara rutin.
Menurut penulis, hal ini merupakan kemenangan strategis besar bagi Amerika Serikat dan memenuhi tuntutan lama pemerintah Trump mengenai pengendalian ketat terhadap program nuklir Iran.
Dalam konteks kawasan, artikel tersebut menyebut bahwa selama bertahun-tahun Iran menggunakan ancaman penutupan Selat Hormuz dan ketegangan militer regional sebagai alat tawar terhadap Amerika Serikat.
Dengan dibukanya kembali Selat Hormuz dan diberlakukannya gencatan senjata regional, penulis menilai kemampuan Iran untuk memberikan tekanan strategis telah berakhir. Amerika Serikat disebut dapat mengalihkan lebih banyak sumber daya militer dan diplomatiknya ke kawasan lain seperti Asia-Pasifik, sesuai dengan strategi global Trump.
Iran dinilai kehilangan dua posisi tawar utamanyaArtikel ini juga menyatakan bahwa dua tujuan utama Iran dalam perundingan adalah:
- Mendapatkan pencabutan menyeluruh atas sanksi Amerika Serikat sehingga dapat kembali menjalankan perdagangan internasional secara normal.
- Mempertahankan ruang gerak bagi pengembangan program nuklirnya.
Namun, menurut penulis, hasil akhirnya hanya berupa penangguhan sebagian sanksi secara bertahap, sementara sanksi utama di sektor keuangan, militer, dan energi tetap berlaku. Selain itu, kewenangan untuk mengaktifkan kembali sanksi sepenuhnya masih berada di tangan Amerika Serikat.
Penulis juga berpendapat bahwa Iran terpaksa mengurangi kendali atas program nuklirnya dan menghentikan strategi konfrontasi regionalnya, dengan menukar kepentingan strategis inti demi memperoleh ruang bernapas sementara yang belum tentu stabil. Oleh karena itu, artikel ini menyimpulkan bahwa langkah tersebut lebih merupakan bentuk kompromi daripada kemenangan.
Tidak mengherankan, menurut artikel tersebut, Wakil Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Mahad Nabavian, memperingatkan bahwa apabila kesepakatan tersebut benar-benar ditandatangani, pemerintahan Republik Islam Iran dapat mengalami dampak yang sangat besar.
Diterbitkan ulang dari The Epoch Times / Editor: Sheng Rui





