PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menilai ruang penyesuaian BI-Rate diperkirakan semakin terbatas usai naik ke level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada Juni 2026.
Chief Economist BTN, Myrdal Gunarto, mengatakan bahwa kebijakan suku bunga acuan akan bergantung pada perkembangan nilai tukar Rupiah, inflasi domestik, harga energi global, serta dinamika arus modal internasional.
Menurutnya, apabila tekanan eksternal mereda, maka BI-Rate berpotensi dipertahankan pada level 5,75% hingga akhir tahun.
“Selama tekanan eksternal mulai mereda dan harga minyak dunia tetap terkendali, kami memperkirakan BI-Rate berpotensi dipertahankan pada level 5,75% hingga akhir tahun,” kata Myrdal dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (19/6/2026).
Dengan asumsi tersebut, prospek perekonomian Indonesia diperkirakan tetap terjaga dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,17% pada tahun 2026 dan inflasi sebesar 3,09%.
Sementara itu, pertumbuhan intermediasi perbankan diperkirakan lebih moderat dengan kredit tumbuh di bawah 9 persen.
“Sektor-sektor yang diproyeksikan menjadi motor utama pertumbuhan pembiayaan meliputi ketahanan pangan, transportasi, konstruksi, industri makanan dan minuman, energi, besi dan baja, kelapa sawit, serta properti residensial,” urainya.
Myrdal menambahkan, kenaikan BI-Rate juga menunjukkan kehati-hatian Bank Indonesia terhadap masih adanya risiko tekanan pada nilai tukar Rupiah serta potensi dampak lanjutan imported inflation terhadap perekonomian domestik, terutama melalui kenaikan biaya produksi yang tercermin pada inflasi produsen.
Di sisi lain, kebijakan suku bunga ini juga dipandang sebagai respons terhadap dinamika likuiditas domestik dan eksternal, termasuk risiko pelebaran defisit transaksi berjalan, meningkatnya kebutuhan devisa untuk impor energi dan pembayaran dividen korporasi, serta pergerakan arus modal global.
BTN menilai langkah tersebut sebagai strategi antisipatif untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah potensi perubahan arah kebijakan moneter global.
Meskipun minat investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia mulai membaik, Bank Indonesia tetap mengambil langkah preventif guna menjaga stabilitas sistem keuangan.
Baca Juga: Tok! Suku Bunga Acuan BI Naik Lagi 25 Bps Jadi 5,75% di Juni 2026
Baca Juga: BI Agresif Naikkan Suku Bunga 100 Bps Hingga Juni 2026, Ini alasannya!
Tingginya minat investor pada lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dengan nilai penyerapan mencapai sekitar Rp43 triliun dan tingkat imbal hasil yang masih berada di atas 7%, menunjukkan instrumen moneter Bank Indonesia masih efektif dalam mendukung stabilitas pasar keuangan domestik.
Kondisi tersebut sekaligus memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk terus menjaga stabilitas likuiditas dan nilai tukar apabila volatilitas global kembali meningkat.
“Dalam jangka pendek, kami memperkirakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor pendek masih akan berada di atas 7%, sementara yield SUN tenor 10 tahun diperkirakan bergerak pada kisaran 6,87%–7,41%,” pungkasnya.





