PT Blue Bird Tbk membagikan dividen tunai sebesar Rp 166 per saham atau setara 65,3 persen dari laba bersih perseroan pada 2025. Keputusan ini berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Kamis (18/6).
“Pada RUPST hari ini, pemegang saham menyetujui penggunaan laba bersih tahun buku 2025, termasuk penerapan dividen tunai sebesar Rp 166 per lembar saham, setara dengan 65,3 persen dari laba bersih perseroan,” ucap Direktur Keuangan PT Blue Bird, Irawaty Salim, dalam konferensi pers di Blue Bird Group Headquarters, Jakarta, Kamis (18/6).
Irawaty melanjutkan, Blue Bird membukukan pendapatan atau laba bersih sebesar Rp 5,7 triliun, tumbuh 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi pendapatan tertinggi sejak perusahaan melakukan initial public offering (IPO).
“Dari sisi profitabilitas, EBITDA tercatat sebesar Rp 1,4 triliun atau meningkat 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, laba tahun berjalan mencapai Rp 643 miliar, tumbuh 9 persen secara tahunan,” ucap Irawaty.
Irawaty menyatakan pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan volume perjalanan, penguatan kontribusi bisnis non-taksi, perluasan kapasitas operasional, serta disiplin dalam pengelolaan biaya dan produktivitas armada.
Sepanjang 2025, Blue Bird menambah sekitar 1.900 armada sehingga total armada yang dioperasikan mencapai lebih dari 26.000 unit. “Kami juga terus memperluas jangkauan operasional yang kini didukung oleh 58 pool, lebih dari 1.300 outlet serta kehadiran layanan di 22 kota,” ucap Irawaty.
Bluebird menargetkan belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun 2026, sebesar Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,9 triliun.
“(Dana tersebut) untuk pengembangan penggantian mobil dan penambahan mobil beserta infrastrukturnya,” kata Irawaty.





