Perhelatan Piala Dunia 2026 memiliki aturan baru: Hydration breaks atau jeda hidrasi. Jeda berdurasi tiga menit, memberikan kesempatan kepada para pemain untuk minum.
Konsep jeda hidrasi sendiri bukan hal baru di pertandingan sepak bola, apa lagi di lokasi pertandingan dengan suhu panas yang ekstrem. Namun, ini kali pertama jeda menjadi aturan yang diwajibkan pada semua 104 pertandingan Piala Dunia 2026.
Pihak FIFA menyebut aturan ini sebagai komitmen terhadap kesejahteraan pemain, yang mempertimbangkan temperatur lokal saat pertandingan berlangsung di tiga negara berbeda, yaitu Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko.
Pada setiap babak pertandingan yang masing-masing berdurasi 45 menit, wasit akan menghentikan pertandingan untuk hydration breaks di menit ke-22. Otomatis, pertandingan secara tidak langsung akan terbagi menjadi empat “kuarter” dalam dua babak.
Masalahnya, aturan ini malah menimbulkan kontroversi. Sejumlah pelatih hingga pemain merasa jeda hidrasi tidak diperlukan, dan malah berdampak pada terganggunya sejumlah momentum sepanjang pertandingan.
Jeda ini juga malah menjadi momentum untuk para manajer dan pelatih tim mengatur ulang strategi tim masing-masing dalam pertandingan.
“Untuk saya, jeda ini lebih seperti coaching break daripada cooling break, jadi ini sangat penting,” kata pelatih Timnas Belgia Rudi Garcia, dikutip dari CNN.
Di sisi lain, jeda juga menjadi momentum FIFA maupun stasiun televisi yang menyiarkan Piala Dunia 2026 untuk menayangkan iklan. Hal ini memunculkan perdebatan bahwa ada motif komersial dan pengambilan keuntungan dengan adanya hydration breaks.
Seberapa Ekstrem Panas di Lokasi Perhelatan Piala Dunia 2026?Di samping perdebatan akan kebutuhan aturan hydration breaks, sejumlah riset pendahulu memang menunjukkan panas ekstrem bakal terjadi di sejumlah lokasi perhelatan pertandingan Piala Dunia 2026.
Riset organisasi nonprofit Climate Central yang dipublikasikan Mei lalu misalnya, menyebut bahwa 14 dari 16 stadium berpotensi mengalami panas ekstrem pada periode Juni-Juli 2026 lebih tinggi dibandingkan saat Piala Dunia Amerika Utara pada 1970. Stadium yang berpotensi mengalami panas ekstrem terutama Miami, Mexico City, Monterrey, Guadalajara, dan Houston.
Climate Central juga secara khusus memantau perkiraan suhu di setiap pertandingan dan seberapa besar potensi efek panas dapat mengganggu performa tim di tiap pertandingan di kanal mereka.
Proyeksi bahwa 14 dari 16 lokasi Piala Dunia 2026 bakal mengalami suhu panas ekstrem juga diungkap peneliti Donal Mullan dalam riset bertajuk “Extreme heat risk and the potential implications for the scheduling of football matches at the 2026 FIFA World Cup”.
Studi ini menggunakan penghitungan Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) yang menggabungkan variabel kelembaban, panas radiasi, hingga pergerakan udara. Jika penghitungan WBGT mencapai 26 derajat celcius atau lebih, suhu panas umumnya menjadi berisiko dan pertandingan membutuhkan jeda hidrasi.
Jika WBGT bahkan melebihi 28 derajat celcius, kondisi disebut tidak aman untuk dilanjutkan dan dianjurkan untuk ditunda. Dari hasil penelitian, 14 lokasi piala dunia berpotensi mencapai suhu panas ekstrem WBGT hingga 28 derajat celcius.
Namun, saat ini FIFA baru akan melakukan prosedur lebih lanjut jika WBGT melebihi ambang batas 32 derajat celcius. “Angka ini membuat khawatir para ilmuwan dan tenaga medis. Mereka telah mengirimkan surat terbuka yang mendesak FIFA memperkuat perlindungan terhadap suhu panas ekstrem sebelum pertandingan dimulai,” tulis Mullan, dikutip dari The Conversation.
Berikut rata-rata WBGT di 16 lokasi Piala Dunia 2026 berdasarkan penghitungan dari periode 2003 sampai 2022:
Riset World Weather Attribution (WWA) juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. Lokasi pertandingan di Miami, Kansas, Philadelphia, Dallas, dan Houston memiliki potensi paling tinggi mencapai WBGT 28 derajat celcius. Sedangkan lokasi pertandingan di Atlanta, Monterrey, Boston, dan New York memiliki potensi WBGT menyentuh 26 derajat celcius.
Sekitar 25% dari total 104 pertandingan sepanjang 11 Juni sampai 19 Juli 2026 diproyeksikan bakal berjalan dengan suhu rata-rata melebihi batas rekomendasi panas.
Berikut probabilitas WBGT mencapai 26 derajat celcius hingga 28 derajat celcius untuk delapan pertandingan final:
Suhu tinggi yang dikombinasikan dengan kelembaban tinggi ini disebut sangat berbahaya bagi tubuh manusia, terutama saat sedang melakukan aktivitas fisik berat.
“Dalam pertandingan sepak bola, kondisi ini tidak hanya berpengaruh terhadap performa pemain, tetapi juga menyebabkan penyakit serius hingga serangan heat stroke,” tulis riset tersebut.




