JAKARTA, KOMPAS.TV - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq menegaskan, salah satu warisan terpenting Buya Syafii Maarif adalah keteladanan dalam menyampaikan kritik tanpa kehilangan rasa hormat, tanpa memutus komunikasi, dan tanpa menjadikan perbedaan sebagai permusuhan.
Hal itu disampaikan Wamendikdasmen Fajar dalam forum Tadarus Pemikiran Ahmad Syafii Maarif dengan tema “Menjaga Suluh Merawat Nurani Bangsa” yang diselenggarakan Maarif Institute dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) di Jakarta, Jumat (19/6/2026).
“Buya mengajarkan bahwa seseorang bisa tetap kritis tanpa memutus silaturahmi kebangsaan. Kritik harus menjadi jalan untuk memperbaiki kehidupan bersama, bukan memperuncing perpecahan dan melahirkan kebencian,” ungkap Fajar yang pernah menjabat Direktur Eksekutif Maarif Institute periode 2010–2016.
Baca Juga: Wamendikdasmen: Pancasila Dihidupkan melalui Pendidikan Bermutu untuk Semua
Fajar menilai kekuatan Buya Syafii terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara idealisme, akal sehat, dan realitas politik.
Buya Syafii tetap membuka ruang dialog dengan berbagai pihak, tetapi tidak pernah menukar prinsip-prinsip keadilan, kemanusiaan, dan kebangsaan yang diyakininya.
Dalam paparannya, Fajar mengulas posisi Buya Syafii di antara para pembaru Islam Indonesia yang oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah disebut sebagai “Tiga Pendekar dari Chicago”, yakni Nurcholish Madjid, Amien Rais, dan Ahmad Syafii Maarif.
Menurutnya, ketiga tokoh tersebut menghadirkan dentuman pembaruan Islam yang kuat dalam kehidupan intelektual dan kebangsaan Indonesia, walaupun menempuh pendekatan perjuangan yang berbeda.
Amien Rais memilih jalur politik praktis melalui pendirian Partai Amanat Nasional (PAN).
Sedangkan Buya Syafii memilih pendekatan perjuangan yang berbeda. Ia tidak terjun langsung ke politik praktis, tetapi aktif memengaruhi arah kebangsaan melalui pemikiran, pendidikan, kaderisasi, advokasi publik, dan kritik yang berkeadaban.
“Buya (Syafii) tidak anti terhadap kekuasaan, tetapi juga tidak pernah larut di dalam kekuasaan. Beliau mampu menjaga komunikasi dengan para pemimpin lintas sektor, namun tetap memiliki keberanian moral untuk menyampaikan kritik ketika melihat ada ketidakadilan,” ungkap Fajar.
Menurut Fajar, Buya tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi juga mendorong kader-kader muda yang memiliki kapasitas dan integritas untuk berdiaspora masuk ke ruang-ruang strategis, termasuk pemerintahan.
Harapannya, nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan kebangsaan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Dalam konteks kebijakan saat ini, Fajar menyebut arah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memberi perhatian besar pada agenda pemerataan dan keberpihakan kepada kelompok rentan.
Di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), semangat tersebut diterjemahkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti melalui penguatan pendidikan bermutu untuk semua, peningkatan kompetensi guru, serta pembangunan budaya belajar yang lebih mendalam dan berkeadilan.
“Karena itu, kami tidak berpikir setiap pergantian kepemimpinan harus selalu diikuti perubahan kurikulum. Yang lebih penting adalah memastikan kebijakan berjalan berkelanjutan, guru memiliki kompetensi yang baik, dan setiap anak Indonesia memperoleh pendidikan yang bermutu hingga ujung negeri,” tegas Fajar.
Menurutnya, salah satu ikhtiar tersebut diwujudkan melalui pengembangan Pembelajaran Mendalam (deep learning) sebagai bentuk pendidikan transformatif.
Pendekatan ini mendorong peserta didik tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan mampu menghubungkan ilmu dengan realitas kehidupan.
Penulis : Deni-Muliya
Sumber : Kompas TV
- Bulan Buya Syafii Maarif
- wamendikdasmen
- wamen fajar
- pemikiran syafii maarif
- Maarif Institute
- warisan buya syafii maarif





