50 Juta Orang Tewas dalam Kelaparan Besar, Ilmuwan Khawatir El Nino 2026 Bisa Lebih Ganas

republika.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam tiga tahun, sekitar 50 juta orang tewas. Jumlah itu setara dengan gabungan korban beberapa perang besar modern.

Namun penyebabnya bukan bom, bukan peluru, melainkan fenomena iklim yang kini kembali menjadi perhatian dunia: El Nino.

Baca Juga
  • AI China Ini Dituding Bantu Militer dan Intelijen Xi Jinping, Mengapa Trump Menahannya?
  • Taiwan Buka Kanal Intelijen bagi Warga China, Beijing Tuding Spionase dan Sabotase
  • Saat Perusahaan Banyak PHK, AI China Justru Buka Lapangan Pekerjaan

Dari 1876 hingga 1878, sebagian wilayah Asia, Afrika, dan Amerika Selatan dilanda kekeringan ekstrem. Sungai menyusut, sawah mengering, panen gagal, dan cadangan pangan habis. Di banyak tempat, kelaparan berkembang menjadi bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Peristiwa itu nyaris terlupakan dalam ingatan publik global. Padahal, sejumlah ilmuwan menyebutnya sebagai salah satu bencana lingkungan paling mematikan dalam 150 tahun terakhir.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Dalam penelitian yang diterbitkan Journal of Climate pada 2018, para peneliti bahkan menyatakan peristiwa El Nino 1876–1878 ikut membentuk ketimpangan global yang kemudian dikenal sebagai perbedaan antara "dunia pertama" dan "dunia ketiga".

Apa yang membuat El Niño saat itu begitu mematikan? Selama bertahun-tahun, banyak ilmuwan menganggap El Niño sebagai penyebab utama.

Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis menghangat secara tidak normal, mengubah pola hujan dan cuaca di berbagai belahan dunia.

Namun penelitian terbaru menunjukkan gambaran yang lebih rumit. El Nino 1877 tidak bekerja sendirian.

Kondisi dingin yang berkepanjangan di Pasifik tropis, dipol Samudra Hindia yang sangat kuat, serta suhu Atlantik yang luar biasa hangat menciptakan kombinasi iklim yang sempurna untuk memicu kekeringan global.

Lalu datang faktor yang lebih berbahaya: manusia. Menurut para peneliti, jutaan kematian tidak semata-mata disebabkan oleh cuaca.

Pengabaian sistem penyimpanan air tradisional, buruknya pengelolaan cadangan pangan, serta kebijakan ekonomi yang gagal memperburuk krisis hingga berubah menjadi tragedi massal.

Dengan kata lain, kekeringan memicu bencana. Tetapi kegagalan manusia membuatnya mematikan.

Selama lebih dari satu abad, Kelaparan Besar 1876–1878 menjadi pengingat tentang apa yang dapat terjadi ketika fenomena iklim ekstrem bertemu dengan masyarakat yang tidak siap.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gelar IKALUIN Award 2026, Ace Hasan Apresiasi Kontribusi Alumni untuk Masyarakat
• 40 menit lalukumparan.com
thumb
Marinir Latih Calon Pengelola KDMP dan KNMP Dalam Latsarmil Komcad
• 19 jam lalunarasi.tv
thumb
Bulog Timika Alokasikan 919 Ton Bantuan Pangan untuk 45.983 Penerima di Kabupaten Puncak Lewat Jalur Udara
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Legislator PDI-P Ungkap Curhat Sesama Anggota Dewan soal Tak Bebas Kritik Pemerintah
• 50 menit lalukompas.com
thumb
Penampakan Warga Palestina Salat Jumat di Jalan-Aparat Israel Berjaga
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.