Ringkasan Berita
- Kirab Nawa Tirta Kencana menjadi puncak Grebek Suro 2026 di Kelurahan Pesantren.
- Prosesi melibatkan pengambilan air dari sembilan sumber mata air.
- Warga, pelajar, organisasi masyarakat, dan UMKM turut meramaikan kirab.
- Tradisi menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus penguatan wisata lokal.
Kediri (beritajatim.com) – Kelurahan Pesantren, Kota Kediri, menggelar kirab budaya bertajuk “Merti Dusun Kirab Nawa Tirta Kencana” sebagai puncak rangkaian Grebek Suro 2026, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat tersebut menjadi bentuk pelestarian budaya sekaligus momentum mempererat kebersamaan warga dalam menyambut Tahun Baru Islam.
Mengusung tema “Merawat Tradisi, Menjaga Sumber Kehidupan, Menyatukan Warga Menuju Kota Kediri yang MAPAN”, kirab budaya ini juga diarahkan untuk mendukung pengembangan wisata lokal melalui program D’Cito yang digagas Pemerintah Kota Kediri.
Grebek Suro Jadi Tradisi Tahunan Warga Pesantren
Lurah Pesantren, Insani, menjelaskan bahwa Grebek Suro merupakan agenda budaya yang rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bagian dari peringatan Tahun Baru Islam.
Selain menjadi media pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga berfungsi sebagai ruang silaturahmi masyarakat sekaligus sarana memperkenalkan potensi lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
“Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi, hiburan rakyat, dan sarana memperkenalkan potensi lokal kepada masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung program D’Cito yang dicanangkan oleh Mbak Wali,” ujarnya.
Menurut Insani, kegiatan budaya seperti ini memiliki peran penting dalam menjaga identitas masyarakat di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
Diawali Gugur Gunung dan Pengambilan Air Sembilan Mata Air
Rangkaian Grebek Suro 2026 diawali dengan kegiatan Gugur Gunung atau kerja bakti massal yang melibatkan warga Kelurahan Pesantren.
Tradisi tersebut mencerminkan kuatnya semangat gotong royong yang masih terjaga di tengah masyarakat.
Setelah itu, panitia dan warga melaksanakan prosesi pengambilan air dari sembilan sumber mata air yang berada di sejumlah lokasi.
Air yang telah diambil kemudian ditempatkan dalam kendi-kendi khusus untuk dibawa dalam prosesi kirab budaya.
Prosesi ini menjadi simbol penghormatan terhadap sumber kehidupan yang selama ini memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menghormati Jejak Leluhur Kelurahan Pesantren
Salah satu mata air yang diambil berasal dari sebuah surau yang diyakini memiliki keterkaitan dengan sejarah awal berdirinya Kelurahan Pesantren.
Lokasi tersebut dipercaya berkaitan dengan tokoh leluhur Mbah Singomenggolo yang dikenal dalam cerita babad alas wilayah setempat.
Sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu, masyarakat juga melaksanakan kenduri bersama di makam leluhur Kelurahan Pesantren.
Tradisi ini menjadi simbol penghargaan terhadap jasa para pendiri kawasan sekaligus upaya menjaga hubungan spiritual dengan warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Kirab Budaya Meriahkan Jalanan Kelurahan Pesantren
Prosesi utama Kirab Nawa Tirta Kencana dimulai dari Lapangan Voli RW 04 dan berakhir di Kantor Kelurahan Pesantren.
Sebelum kirab diberangkatkan, masyarakat disuguhi fragmen babad alas yang menceritakan sejarah awal terbentuknya wilayah Pesantren.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi pecah kendi yang menjadi simbol rasa syukur sekaligus komitmen menjaga sumber kehidupan bagi generasi mendatang.
Setelah itu, peserta kirab berjalan mengelilingi wilayah kelurahan sambil menampilkan berbagai atraksi budaya dan kesenian tradisional.
Pelajar, Organisasi Masyarakat dan UMKM Turut Terlibat
Kirab budaya diikuti oleh berbagai unsur masyarakat dari berbagai kelompok usia.
Mulai dari siswa TK hingga SMP, organisasi perempuan seperti Fatayat NU dan Muslimat NU, komunitas senam, kelompok jaranan, hingga warga dari berbagai lingkungan turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Keterlibatan berbagai elemen masyarakat menjadikan kirab berlangsung meriah sekaligus menunjukkan kuatnya partisipasi warga dalam menjaga tradisi lokal.
Tidak hanya itu, pelaku UMKM juga memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkenalkan dan menjual berbagai produk unggulan kepada pengunjung.
Gunungan Hasil Bumi Jadi Simbol Kemakmuran
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, masyarakat memperebutkan gunungan tumpeng hasil bumi yang telah disiapkan panitia.
Tradisi berebut hasil bumi tersebut menjadi simbol harapan akan kemakmuran, keberkahan, dan hasil panen yang melimpah bagi masyarakat.
Antusiasme warga terlihat tinggi saat gunungan mulai dibagikan kepada peserta yang hadir.
Acara kemudian dilanjutkan dengan Kempul Bujono atau makan bersama yang digelar di Kantor Kelurahan Pesantren.
Tradisi makan bersama tersebut menjadi simbol persatuan dan kebersamaan tanpa memandang latar belakang sosial maupun usia.
Dorong Pelestarian Budaya dan Wisata Lokal
Insani berharap Kirab Nawa Tirta Kencana dapat terus menjadi agenda budaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya berfungsi menjaga tradisi, tetapi juga mampu mengangkat potensi wisata budaya yang dimiliki Kelurahan Pesantren.
Selain itu, semangat kebersamaan yang tercipta selama rangkaian kegiatan diharapkan terus tumbuh dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Harapan saya melalui kegiatan ini tumbuh rasa memiliki bahwa kita mempunyai budaya yang harus dilestarikan, wisata yang harus dikembangkan, serta silaturahmi yang harus terus dijaga di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Melalui Kirab Nawa Tirta Kencana, masyarakat Kelurahan Pesantren menunjukkan bahwa tradisi, sejarah, dan kebersamaan masih menjadi kekuatan penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus mendukung pembangunan sosial dan pariwisata di Kota Kediri. [nm/kun]




