Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diproyeksi menghadapi efek sentimen konflik global Iran dan Amerika Serikat hingga keputusan MSCI sepanjang perdagangan pekan depan.
Berdasarkan data RTI Infokom, mata uang Garuda ditutup menguat 0,24% ke level Rp17.797 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (19/6/2026). Meski demikian, pergerakan rupiah pada pekan depan dibayangi oleh potensi pelemahan akibat dinamika kebijakan moneter global.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksi rupiah akan berbalik melemah pada perdagangan Senin depan. Mata uang domestik akan bergerak di rentang Rp17.800 hingga Rp17.850 per dolar AS.
"Sementara itu, untuk sepanjang pekan depan, rupiah diprediksi berfluktuasi dalam kisaran Rp17.500 hingga Rp18.000 per dolar AS," katanya dalam siaran pers, dikutip Minggu (21/6/2026).
Dia berpendapat proyeksi pergerakan rupiah ke depan tidak terlepas dari kombinasi sentimen global. Di satu sisi, pasar sempat mendapat angin segar setelah Washington dan Teheran menandatangani kesepakatan sementara.
Kesepakatan ini bertujuan mengakhiri permusuhan dan memulihkan jalur navigasi komersial di Selat Hormuz—jalur air vital yang mengangkut seperlima pasokan minyak dunia.
Baca Juga
- Selat Hormuz Dibuka, Industri Tekstil Masih Hadapi Produk Impor hingga Kurs Rupiah
- Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.838 per Dolar AS usai BI Kerek Suku Bunga ke 5,75%
- Redam Gejolak Rupiah, BI Kembali Perketat Batas Beli Valas Tanpa Underlying
Seiring dicabutnya blokade oleh AS, kapal-kapal pembawa minyak mulai bergerak keluar, meningkatkan harapan pulihnya pasokan minyak mentah internasional secara bertahap.
Meredanya tensi geopolitik ini sempat memicu pergerakan variatif pada mata uang Asia Pasifik pada akhir pekan. Yen Jepang menguat 0,06% dan won Korea Selatan melesat 0,68%. Sebaliknya, yuan China melemah 0,32%, dolar Singapura turun 0,09%, dan baht Thailand terkoreksi 0,18%.
Di sisi lain, ancaman bagi rupiah datang dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Sembilan dari 19 pembuat kebijakan memperkirakan setidaknya akan ada satu kali lagi kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini.
Meski The Fed mempertahankan suku bunga acuan dalam pertemuan terakhirnya, komentar Ketua The Fed Kevin Warsh dinilai pasar sangat agresif (hawkish). Hal ini memicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan melambungkan dolar AS ke level terkuatnya dalam setahun terakhir, yang berpotensi menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, arah pergerakan rupiah pekan depan juga akan dipengaruhi oleh respons pasar terhadap laporan 2026 Global Market Accessibility Review oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
MSCI resmi mengubah peringkat kriteria arus informasi (information flow) Indonesia menjadi negatif. Langkah ini diambil karena adanya kekhawatiran terkait transparansi struktur kepemilikan saham serta indikasi perdagangan semu atau terkoordinasi di pasar saham tanah air.
Meskipun memberikan rapor negatif pada arus informasi, MSCI menegaskan posisi Indonesia masih tetap berada di level negara berkembang (Emerging Market). Indonesia dinilai masih memiliki keunggulan yang kuat pada aspek keterbukaan pasar.
Keputusan MSCI untuk mempertahankan status Indonesia di kelas Emerging Market, menjadi angin segar bagi pasar domestik. Terlebih, sebelumnya sempat memberikan sinyal penurunan kelas.
Keputusan ini dinilai mampu menjaga optimisme pasar bahwa arus modal asing (capital inflow) akan tetap membanjiri pasar keuangan Indonesia dalam waktu dekat, sekaligus menjadi benteng pertahanan bagi rupiah dari tekanan eksternal pekan depan.





