Apa yang membuat sebuah perusahaan mampu bertahan lebih dari 100 tahun, bahkan tetap relevan di tengah perubahan zaman?
Dalam 12 tahun terakhir, nama Nokia mungkin lebih sering dikenang masyarakat sebagai merek ponsel besar yang gagal mempertahankan kejayaannya. Bagaimana tidak, bisnis telepon selulernya dijual Microsoft sekitar tahun 2014. Kini Nokia memperlihatkan wajah berbeda.
Dalam sepekan terakhir saja, perusahaan asal Finlandia ini mengumumkan langkah baru di bidang perangkat kebutuhan infrastruktur telekomunikasi pendukung inovasi produk teknologi akal imitasi (AI). Dari pembangunan jaringan optik telekomunikasi untuk pusat data hyperscale, dan modernisasi kabel bawah laut di Asia Tenggara.
Selain itu, perusahaan tersebut ekspansi ke fasilitas advanced testing and packaging (ATP) untuk meningkatkan produksi jaringan optik yang mendukung infrastruktur AI di Amerika Serikat.
Sejak saya mengambil alih kepemimpinan tahun lalu, fokus utama saya adalah membawa perusahaan kembali ke akar kekuatannya: inovasi dan keberanian mengambil risiko besar.
Nokia melihat masa depan industri telekomunikasi tidak lagi bertumpu pada perangkat keras semata, tetapi semakin bergeser ke perangkat lunak yang mengendalikan jaringan. Makanya, Nokia kini getol mengintegrasikan teknologi AI ke dalam platform dan perangkat jaringan telekomunikasi miliknya.
Untuk sampai menjadi perusahaan yang fokus ke penyediaan perangkat infrastruktur pendukung inovasi AI, Nokia sudah mengalami perjalanan panjang lebih dari 160 tahun dengan berbagai transformasi bisnis, dari pabrik pengolahan kertas, mengembangkan komputer digital biner pertama, transitor listrik dan telepon, hingga pionir pengembangan teknologi GSM.
Seusai bisnis ponsel dijual ke Microsoft pada 2014, Nokia fokus ke bisnis perangkat jaringan telekomunikasi. Merek ponsel Nokia sempat dikembangkan oleh HMD Global melalui skema lisensi, tetapi kalah saing.
Dalam wawancara terbatas dengan media nasional di Jakarta, Selasa (9/6/2026), Presiden dan CEO Nokia Justin Hotard mengatakan, satu hal yang selalu konsisten dalam perjalanan Nokia adalah kemampuan untuk berani mengambil risiko besar melepaskan bisnis masa lalu, dan fokus pada bisnis masa depan.
Pola pikir inilah yang, menurut dia, membedakan Nokia dengan perusahaan-perusahaan lain. Ada keberanian untuk membangun perusahaan dengan visi baru, bukan sekadar menjadi penyedia kebutuhan perangkat telekomunikasi.
”Sejak saya mengambil alih kepemimpinan tahun lalu, fokus utama saya adalah membawa perusahaan kembali ke akar kekuatannya: inovasi dan keberanian mengambil risiko besar,” ujarnya.
Dia sendiri melihat Nokia tumbuh menjadi perusahaan yang telah berkali-kali membuktikan kemampuannya untuk memperbarui dan mentransformasi dirinya agar tetap relevan di setiap era. Bell Laps, institusi riset di bawah Nokia, menghasilkan penemuan teknologi penting untuk dunia.
Sebagai contoh, Louis E Brus adalah alumni peneliti Bell Labs yang dianugerahi Hadiah Nobel Kimia 2023 pada 10 Desember 2023 atas penemuan dan sintesis titik kuantum.
Selain Nokia, masih banyak perusahaan di dunia yang bertahan di atas 100 tahun. Coca-Cola, misalnya. Mengutip Investopedia, Coca-Cola bermula pada 1886 ketika apoteker John Pemberton menciptakan Coca-Cola sebagai minuman tonik yang dijual di apotek.
Setelah diakuisisi oleh Asa Candler pada akhir abad ke-19, Coca-Cola berkembang pesat berkat strategi pemasaran agresif dan ekspansi distribusi. Pada 1899, perusahaan mulai melisensikan pembotolan, langkah yang menjadi fondasi ekspansi globalnya.
Bentuk botol kontur ikonik yang diperkenalkan pada 1916 juga membantu membedakan Coca-Cola dari para pesaing dan memperkuat identitas merek.
Sepanjang abad ke-20, Coca-Cola terus berevolusi melalui inovasi kemasan dan diversifikasi produk. Setelah lama hanya dijual dalam botol kaca 6,5 ons, perusahaan mulai menghadirkan berbagai ukuran botol pada 1950-an dan memperkenalkan kaleng baja 12 ons pada 1960 untuk meningkatkan portabilitas.
Pada saat yang sama, Coca-Cola memperluas portofolionya melalui merek seperti Fanta dan Sprite. Strategi ini menjadikan Coca-Cola bukan sekadar produsen soda, melainkan raksasa minuman global. Strategi branding yang konsisten membuat Coca-Cola menjadi salah satu merek paling dikenal di dunia.
Memasuki abad ke-21, Coca-Cola beradaptasi dengan perubahan preferensi konsumen yang semakin peduli pada kesehatan dan keberlanjutan. Perusahaan mulai mengembangkan varian rendah gula, hingga berinvestasi pada kemasan yang lebih ramah lingkungan, termasuk botol berbahan daur ulang.
Contoh lain, Nintendo yang lahir 1889. The Washington Post dalam artikelnya 8 Mei 2020 menyebutkan, Nintendo relatif tangguh menghadapi resesi karena bisnisnya berakar pada hiburan rumahan yang justru diminati saat kondisi ekonomi atau krisis membatasi aktivitas di luar rumah.
Ketahanan Nintendo juga didukung model bisnis yang tidak hanya mengandalkan penjualan perangkat keras, tetapi juga ekosistem gim eksklusif dengan basis penggemar loyal.
Bisnis waralaba seperti Super Mario, The Legend of Zelda, dan Pokémon menciptakan pendapatan berulang melalui penjualan gim, merchandise, dan lisensi. Portofolio hak kekayaan intelektual yang kuat membuat Nintendo memiliki daya tahan lebih baik dibanding banyak perusahaan gim lain yang sangat bergantung pada siklus perangkat.
Mengutip Globis University, pada 2017, Statista pernah merilis daftar 20 perusahaan tertua yang masih beroperasi di seluruh dunia. Di antara organisasi yang telah mempertahankan operasi berkelanjutan selama berabad-abad itu, terdapat beberapa nama Jepang.
Ada perusahaan konstruksi Kongo Gumi (didirikan tahun 578), penginapan tradisional Jepang Koman (didirikan tahun 707), dan produsen barang-barang Buddha Tanaka-Iga (didirikan tahun 885).
Rahasia perusahaan-perusahaan itu adalah mentalitas yang mengutamakan pelanggan, penghormatan nilai yang diberikan kepada manusia, penghormatan terhadap daerah setempat, dan kepatuhan hukum.
Managing Partner Inventure Yuswohady, saat dihubungi Jumat (19/6/2026) di Jakarta, berpendapat, dari berbagai riset mengenai perusahaan-perusahaan berumur panjang, kunci utama bisa bertahan lama pada akhirnya terletak pada budaya dan nilai perusahaan.
Fondasi budaya dan nilai perusahaan diletakkan oleh para pendiri. Mereka membangun filosofi dasar yang menjadi landasan kesuksesan bisnis.
Sebagai contoh, pendiri perusahaan meletakkan nilai-nilai dasar dan budaya tertentu, seperti disiplin, kerja keras, ketelitian, atau integritas, Nilai-nilai itulah yang kemudian hidup di dalam organisasi dan menjadi sikap hidup seluruh karyawan.
Mengakarnya budaya dan nilai seperti itu membuat suatu perusahaan bisa lincah mengembangkan model bisnis mengikuti perubahan ataupun siklus suatu produk.
”Budaya dan nilai-nilai semacam itu bersifat relatif timeless. Tetap relevan ketika menghadapi siklus bisnis yang berubah,” ucap Yuswohady.
Salah satu artikel riset di jurnal Sejarah Bisnis berjudul ”Analisis Ko-Evolusioner tentang Umur Panjang: Pakhoed dan Pendahulunya (2015)” menekankan pandangan senada. Menurut riset yang dikerjakan tim peneliti dari Rotterdam School of Management ini, perusahaan yang berumur panjang dapat dijelaskan melalui teori co-evolution. Ini adalah kemampuan perusahaan untuk terus berkembang seiring perubahan lingkungan bisnisnya.
Dalam proses bertahan, perusahaan yang berusia panjang ternyata menyeimbangkan dua hal penting: eksploitasi dan eksplorasi. Eksploitasi berarti mengoptimalkan bisnis yang sudah ada, seperti meningkatkan efisiensi, memperluas pasar, atau memperkuat kompetensi inti.
Sementara eksplorasi berarti berani bereksperimen, mengambil risiko, dan mencari peluang bisnis baru. Keseimbangan antara keduanya menjadi fondasi utama agar perusahaan tidak stagnan.
Identitas perusahaan yang kuat tetap penting, tetapi identitas tersebut tidak harus kaku. Nilai inti atau jati diri perusahaan boleh dipertahankan, tetapi penerapannya harus adaptif terhadap perubahan zaman.
Gaya manajemen yang toleran dan struktur organisasi yang tidak terlalu kaku juga berperan besar. Manajemen perusahaan terbuka memberi ruang bagi inovasi dan eksperimen lintas zaman.
Pengusaha muda lebih sering gagal karena tidak mampu memisahkan hubungan keluarga, kepemilikan, dan pengelolaan bisnis.
Riset mengambil contoh perusahaan Belanda bernama Pakhoed yang berhasil bertahan. Sebab, Pakhoed mampu bertransformasi dari bisnis pergudangan tradisional ke penyimpanan minyak ketika industri energi mulai berkembang.
Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Rhenald Khasali, anak muda yang ingin terjun menjadi wirausaha bisa menimba pengalaman perusahaan yang masih berdiri lebih dari 100 tahun itu.
Pertama, tumbuhkan perusahaan dan wariskan dalam keadaan baik. Tidak disarankan untuk ambil dividen atau kenikmatan yang sebesar-besarnya. Perusahaan yang sehat adalah badan hukum yang dibangun untuk jangka panjang, bukan sebagai tempat untuk menyembunyikan masalah ataupun berfoya-foya.
Kedua, jauhi diri dari urusan hukum dan penuhi kewajiban agar nama baik tetap terpelihara. Ketiga, memisahkan antara bisnis dan keluarga. Keempat, generasi kedua tidak diwarisi bisnis, tetapi tanggung jawab.
Kelima, profesionalisme bukan ancaman bagi perusahaan keluarga atau seorang wirausaha. Profesionalisme justru penyelamat perusahaan.
”Bila perlu, serahkan bisnis pada profesional untuk membangun dan bekerja dengan sistem. Pengusaha muda lebih sering gagal karena tidak mampu memisahkan hubungan keluarga, kepemilikan, dan pengelolaan bisnis,” paparnya.





