Bisnis.com, JAKARTA — Iran kembali menyatakan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu (20/6/2026) waktu setempat dan memperingatkan kapal-kapal untuk menjauhi jalur pelayaran strategis tersebut.
Amerika Serikat (AS) membantah klaim itu dan menegaskan bahwa salah satu rute perdagangan energi terpenting dunia tersebut tetap terbuka.
Ketegangan antara kedua negara kembali meningkat hanya beberapa hari setelah Teheran dan Washington mencapai kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan mengenai penutupan Selat Hormuz disampaikan oleh militer Iran dan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) saat para negosiator Iran bersiap menuju Swiss untuk mengikuti pembicaraan teknis dengan pejabat AS.
Melansir CNBC International pada Minggu (21/6/2026), Komando militer gabungan Iran menyebut penutupan selat tersebut merupakan respons atas berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon serta apa yang mereka sebut sebagai sikap tidak beritikad baik dari AS dan kegagalan Washington memenuhi komitmen dalam kerangka gencatan senjata.
Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa langkah-langkah lanjutan telah disiapkan apabila tindakan yang dianggap sebagai agresi terus berlanjut.
Baca Juga
- Iran Ancam Tutup Selat Hormuz Jika Israel Tak Hentikan Serangan ke Lebanon
- Ini 14 Poin Kesepakatan Damai AS-Iran, dari Buka Selat Hormuz hingga Senjata Nuklir
- Tuah Selat Hormuz untuk Manufaktur, Jalan Pulih Masih Panjang
Pada hari yang sama, serangan Israel di wilayah selatan Lebanon dilaporkan menewaskan sedikitnya 16 orang, termasuk dua anak-anak. Otoritas Lebanon menyebut tujuh orang masih terjebak di bawah reruntuhan di Nabatiyeh dan sejumlah desa di sekitarnya pascaserangan tersebut.
Meski demikian, militer AS menegaskan Selat Hormuz tidak ditutup dan lalu lintas pelayaran internasional tetap berjalan normal.
Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, mengatakan Iran tidak memiliki kendali atas Selat Hormuz.
"Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz. Lalu lintas kapal tetap berjalan dan pasukan AS terus memantau situasi untuk memastikan kondisi tersebut tetap berlangsung," ujarnya kepada Reuters.
Presiden AS Donald Trump juga mengindikasikan pemerintahannya menganggap Selat Hormuz tetap terbuka untuk pelayaran.
Trump bahkan menyatakan AS dapat mulai mengenakan biaya transit bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz apabila kesepakatan sementara dengan Iran gagal ditingkatkan menjadi perjanjian final dalam waktu 60 hari.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Sabtu malam waktu setempat, Trump menegaskan tidak akan ada biaya transit selama 60 hari masa gencatan senjata. Namun, setelah periode tersebut berakhir, AS berpotensi memberlakukan tarif jika kesepakatan akhir tidak tercapai.
Di tengah kebingungan terkait status Selat Hormuz, Wakil Presiden AS JD Vance meninggalkan Washington untuk bertolak ke Swiss guna melanjutkan perundingan dengan Iran yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (21/6/2026).
Upaya Iran untuk kembali menutup Selat Hormuz meningkatkan ketegangan menjelang perundingan di Swiss yang bertujuan memajukan implementasi kesepakatan sementara yang dicapai pada Rabu lalu antara Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian setelah hampir empat bulan konflik berlangsung.
Dalam nota kesepahaman yang telah ditandatangani, kedua pihak sepakat untuk segera menghentikan aksi militer Israel di Lebanon serta membuka kembali Selat Hormuz secara penuh tanpa pungutan biaya dari Iran selama setidaknya 60 hari.





