Ketika Perdamaian Ditandatangani, Apa yang Sebenarnya Menang?

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Di tengah berbagai konflik yang masih berlangsung di berbagai belahan dunia, kabar mengenai tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran menjadi perhatian publik. Berdasarkan laporan AFP pada 17 Juni 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menandatangani kesepakatan damai untuk mengakhiri perang yang selama ini menjadi sorotan internasional.

Bagi sebagian orang, berita tersebut mungkin hanya dianggap sebagai peristiwa politik internasional yang jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Namun, jika dicermati lebih dalam, peristiwa itu sesungguhnya mengingatkan kita pada satu nilai yang sejak lama ditempatkan secara istimewa dalam konstitusi Indonesia, perdamaian.

Di era digital seperti sekarang, masyarakat lebih sering disuguhi kabar mengenai konflik, serangan militer, ketegangan diplomatik, dan persaingan geopolitik. Berita tentang perang kerap mendominasi ruang informasi karena dianggap memiliki nilai berita yang tinggi. Akibatnya, perdamaian sering kali dipandang sebagai sesuatu yang biasa, padahal justru menjadi hal yang paling sulit diwujudkan.

Perdamaian bukan sekadar hasil negosiasi politik antarnegara. Perdamaian merupakan nilai konstitusional yang secara tegas dicantumkan dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam pembukaan tersebut dinyatakan bahwa Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Kalimat tersebut mungkin sering dibaca ketika mempelajari konstitusi. Namun, di tengah berbagai konflik global yang masih terjadi, maknanya justru menjadi semakin relevan. Para pendiri bangsa tidak hanya memikirkan bagaimana membangun Indonesia sebagai negara merdeka, tetapi juga bagaimana Indonesia dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan dunia yang lebih damai.

Perang pada dasarnya selalu menyisakan kerugian. Tidak ada konflik bersenjata yang benar-benar menghasilkan kemenangan tanpa konsekuensi. Ketika perang terjadi, yang paling terdampak sering kali bukan para pemimpin negara, melainkan masyarakat sipil. Anak-anak kehilangan akses pendidikan, keluarga kehilangan tempat tinggal, fasilitas umum rusak, dan kehidupan sosial terganggu untuk waktu yang panjang.

Karena itu, ketika dua negara yang sedang berkonflik memilih jalan damai, yang sesungguhnya menang bukanlah salah satu pihak. Yang menang adalah nilai kemanusiaan.

Perdamaian juga menunjukkan bahwa dialog masih memiliki tempat di tengah perbedaan kepentingan. Dalam hukum, penyelesaian sengketa selalu diutamakan melalui mekanisme yang mengedepankan komunikasi dan kesepakatan. Prinsip yang sama berlaku dalam hubungan antarnegara. Ketika negosiasi berhasil dilakukan, peluang terjadinya kerugian yang lebih besar dapat diminimalkan.

Meski demikian, perdamaian tidak cukup hanya diwujudkan melalui penandatanganan dokumen. Perdamaian membutuhkan komitmen untuk menjaga kepercayaan, menghormati hukum, dan menempatkan kepentingan kemanusiaan di atas kepentingan politik jangka pendek. Sejarah menunjukkan bahwa banyak kesepakatan damai gagal bertahan karena tidak disertai kesungguhan dalam pelaksanaannya.

Dalam konteks tersebut, hukum memiliki peran yang sangat penting. Hukum bukan hanya alat untuk menghukum pelanggaran, tetapi juga instrumen untuk menjaga keteraturan dan mencegah konflik berkembang menjadi kekerasan yang lebih luas. Oleh karena itu, keberadaan hukum dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip keadilan menjadi fondasi penting bagi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, berita mengenai kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya berbicara tentang hubungan dua negara. Peristiwa tersebut mengingatkan bahwa dunia masih membutuhkan dialog di tengah perbedaan dan hukum di tengah konflik. Lebih dari itu, peristiwa tersebut juga mengingatkan bahwa perdamaian bukan sekadar tujuan politik, melainkan cita-cita yang telah diamanatkan dalam konstitusi Indonesia.

Di tengah dunia yang semakin mudah terpecah oleh kepentingan, mungkin kita perlu kembali mengingat pesan sederhana yang tersimpan dalam Pembukaan UUD 1945: bahwa perdamaian bukan tanda kelemahan, melainkan salah satu bentuk kemenangan tertinggi bagi peradaban manusia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prediksi Skor Jepang vs Tunisia di Piala Dunia 2026 Hari Ini: Samurai Biru Lebih Diunggulkan
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Kode Redeem Genshin Impact Terbaru Juni 2026, Klaim 300 Primogem Sebelum Hangus
• 1 jam lalumedcom.id
thumb
OJK Sita 41 Aset Properti dalam Kasus Pidana Perbankan BPRS GP Medan
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Said Iqbal Ungkap 4 Perusahaan Terancam PHK Massal, Ini Biang Keroknya
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Dubes RI dukung Indonesian-American Games perkuat persatuan Diaspora
• 11 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.