JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menilai bahwa Nahdlatul Ulama (NU) bukan organisasi politik.
Ia meminta, pihak-pihak yang berpolitik di internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) lebih baik keluar. Sebab, NU mestinya menjadi organisasi yang merangkul, bukan memunculkan perpecahan karena pertarungan politik.
Baca juga: Sejumlah Daerah Ajukan Diri Jadi Tuan Rumah Muktamar NU 2026
Hal itu disampaikan setelah Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 berlangsung di Pondok Pesantren Alfalah Ploso, Kediri, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2026) malam.
“Yang main-main di NU keluarkan aja. Yang berpolitik silakan di partai aja. NU itu lesehan dan menyatu tanpa ketegangan,” ujar Muhaimin dalam keterangannya, Minggu (21/6/2026).
Cak Imin melihat, NU merupakan organisasi yang menyatukan, bukan organisasi politik yang selalu memunculkan persaingan.
Baca juga: Muktamar NU Akan Digelar pada 1-5 Agustus 2026
“NU itu bukan organisasi politik yang membuat hubungan selalu kompetitif. NU itu orkestrasi kultural yang menyatukan, bukan saling menyingkirkan. Berbagai kemampuan dan kecerdasan sosial bersatu padu,” tutur dia.
Terakhir, Cak Imin menyebutkan kerinduannya pada sosok Hasyim Muzadi yang pernah memimpin PBNU pada tahun 1999 hingga 2010.
“Kangen Pak Hasyim Muzadi, rek!” Imbuh dia.
Diketahui forum Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 merupakan forum penting sebelum Muktamar ke-35 PBNU digelar pada 1-5 Agustus 2025.
Dalam gelaran tersebut, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf juga menyerukan semangat persatuan.
Baca juga: Cak Imin-Nusron Wahid Hadiri Halalbihalal Alumni PMII, Konsolidasi Jelang Muktamar NU?
Ia meminta proses menuju muktamar berlangsung penuh kebaikan dan kejujuran serta tidak menciptakan kontroversi.
”Mari kita laksanakan tugas kita dengan sebaik-baiknya untuk dapat menghadirkan permusyawaratan, menghadirkan kebersamaan, dan menghadirkan gagasan-gagasan yang akan kita abdikan untuk kemaslahatan jamiah ini,” ucap Yahya dikutip dari Kompas.id.
Adapun PBNU sempat mengalami perpecahan internal antara Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar dengan Gus Yahya.
Baca juga: Maruf Amin: Banyak yang Prediksi Muktamar NU Akan Panas, tetapi Berakhir Damai
Dalam perseteruan itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul juga terseret dan diduga menjadi satu kubu dengan Kyai Miftachul.
Namun, konflik tersebut akhirnya selesai dengan kesepakatan mempercepat muktamar pada Agustus mendatang. Mestinya, jadwal forum pergantian pengurus itu berlangsung pada Desember 2026.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




