Jakarta, CNBC Indonesia - Keretakan hubungan antara Amerika Serikat dan Israel semakin terlihat. Hal ini ditunjukkan ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump melayangkan teguran menyengat dengan mengeklaim bahwa Israel tidak akan ada jika bukan karena peran besar dirinya.
Mengutip Newsweek, Minggu (21/6/2026), hal ini disampaikan Trump ke Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di sela-sela KTT G7 di Prancis.
ketegangan ini dipicu oleh rasa frustrasi Trump yang meningkat terhadap sekutu dekatnya tersebut, terutama di tengah upaya AS merampungkan kesepakatan damai dengan Iran.
Padahal, sebelumnya pada 28 Februari, Trump dan Netanyahu sempat kompak memerintahkan serangan militer gabungan untuk melumpuhkan fasilitas nuklir Teheran.
"Tanpa Amerika Serikat, tidak akan ada Israel. Tanpa saya, tidak akan ada Israel, karena tidak ada presiden lain yang bersedia melakukan apa yang saya lakukan," ujar Trump saat berbicara mendampingi Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani di Évian-les-Bains, Prancis.
Trump menegaskan bahwa Israel seharusnya sudah meledak sejak lama jika dirinya tidak ikut campur tangan. Meski membantah hubungannya dengan Netanyahu merenggang, Trump mengkritik keras kebrutalan serangan udara Israel baru-baru ini di Lebanon yang dinilainya telah menewaskan terlalu banyak warga sipil yang tidak bersalah.
"Saya melihat serangan itu, saya melihat ke mana bom itu jatuh. Itu sangat kejam. Anda tidak perlu meruntuhkan seluruh bangunan apartemen setiap kali mencari seseorang, karena ada banyak orang di sana dan saya pastikan mereka semua bukan Hizbullah," kecam Trump seraya memperingatkan Netanyahu agar bertindak lebih bertanggung jawab.
Di sisi lain, kabar mengenai tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran ini menimbulkan kekhawatiran di sebagian kalangan Israel. Sejumlah pihak di Israel khawatir Iran memperoleh keuntungan lebih besar dari kesepakatan tersebut.
Kritik tajam dari pakar militer domestik juga mulai berdatangan, salah satunya dari Brigadir Jenderal Yossi Kuperwasser selaku Kepala Institut Strategi dan Keamanan Yerusalem (JISS). Ia menilai pemerintahan Trump saat ini telah memberikan segalanya dengan harga yang terlalu murah bagi stabilitas jangka panjang Israel.
"Pemerintah AS memberikan segalanya dengan murah, menyediakan dana miliaran dolar bagi rezim tersebut untuk memperkuat cengkeraman domestiknya dan terus mendanai proksi mereka, seperti Hezbollah dan Hamas, tanpa menuntut konsesi yang nyata dan tidak dapat dibatalkan sebagai imbalannya," kata Kuperwasser kepada Newsweek.
(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google




