JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia bekerja sama dengan Rusia dalam bidang nuklir, lantas bagaimana jadinya sentimen hubungan geopolitik Indonesia dengan Amerika Serikat (AS)?
“Diversifikasi mitra kerja sama merupakan langkah yang wajar untuk memperoleh berbagai pilihan teknologi, pengembangan kapasitas, praktik terbaik, dan skema pembiayaan yang sesuai kebutuhan nasional,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, kepada Kompas.com, Senin (23/6/2026).
Pemerintah Indonesia menilai kerja sama dengan Rusia untuk pengembangan nuklir tersebut adalah hal yang lumrah dan diyakini tidak akan mengganggu hubungan RI dengan AS.
Dalam politik internasional, AS adalah negara yang berbeda sirkel dengan Rusia.
Negeri Paman Sam juga pernah mempermasalahkan pengembangan nuklir di negara lain yakni Iran, meskipun Iran mengatakan pengembangan nuklir di negaranya bukan untuk membuat senjata tapi untuk energi.
Adapun Indonesia kini juga menjajaki kerja sama dengan Rusia dalam pengembangan nuklir untuk energi, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) terapung, bukan untuk membuat senjata.
“Pendekatan ini juga mendukung kemandirian Indonesia dalam menentukan opsi yang paling sesuai bagi kepentingan dan ketahanan energi nasional,” kata Vahd.
Baca juga: Rencana Ambisus Indonesia Gaet Rusia Kembangkan Nuklir demi Listrik
Vahd menjelaskan dasar hukum kerja sama energi nuklir ini yakni Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2025-2029.
“Pemerintah Indonesia telah menetapkan energi nuklir untuk tujuan damai sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi nasional guna memperkuat ketahanan energi, mendukung transisi energi dan industrialisasi, serta mencapai target pembangunan rendah karbon,” kata Vahd.
Berdasarkan catatan yang dihimpun Kompas.com, Rusia adalah salah satu dari sembilan negara nuklir di dunia ini dengan hulu ledak terbanyak.
Namun kerja sama dengan Indonesia tidak ada hubungannya dengan senjata nuklir karena tujuannya adalah untuk kepentingan damai, yakni energi.
“Sejalan dengan kebijakan tersebut, pemerintah Indonesia terbuka untuk melakukan kerja sama, dialog, tukar pendapat dan pengalaman, feasibility studies, pelatihan peningkatan kapasitas, dan kerja sama riset dengan negara-negara yang unggul dalam teknologi nuklir, termasuk dengan Rusia,” tutur Vahd.
Baca juga: Kunjungi BRIN, Rosatom Rusia Bahas Kerja Sama Teknologi Nuklir
Indonesia bekerja sama dengan Rusia untuk mengembangkan reaktor modular kecil atau small modular reactor (SMR).
Pemerintah sedang berkoordinasi dan berkonsultasi dengan Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA).
“Penjajakan kerja sama dimaksud dilaksanakan secara cermat dan komprehensif mempertimbangkan kepentingan nasional, kebutuhan pembangunan, serta pemanfaatan energi nuklir secara aman dan damai,” kata Vahd.





