Layanan Disabilitas yang Belum Sepenuhnya Dirasakan Hadir di Kampus

kompas.id
1 hari lalu
Cover Berita

Para sivitas akademika dengan disabilitas masih menghadapi berbagai macam tantangan di kampus. Meski unit layanan disabilitas telah hadir di sejumlah kampus, tetapi bagi mahasiswa maupun dosen disabilitas masih menghadapi berbagai kendala.

Tidak mudah bagi mahasiswa disabilitas untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Muhammad Irzam, mahasiswa disabilitas dengan gangguan emosi di Fakultas Seni dan Desain Universitas Mercu Buana di Jakarta ini, misalnya. Jika tak memperoleh dukungan dari dosennya, Rachmita Maun Harahap, yang juga disabilitas rungu, Irzam terancam putus kuliah di tengah jalan.

Sepintas melihat penampilan Muhammad Irzam yang berkacamata, tidak berbeda dari mahasiswa lainnya. Irzam terlihat pendiam, saat berbicara suaranya pelan, dan ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan tubuhnya tidak bergetar.

Tidak mudah bagi Irzam, mahasiswa semester 11 ini untuk bisa terus stabil emosinya. ”Sekarang saya di pengujung kuliah, semoga bisa selesai. Saya menjalani masa kuliah yang tidak mudah karena punya gangguan kecemasan dan depresi mayor,” kata Irzam berbagi kisah di acara Ngopi Media bertajuk ”Pendidikan Inklusif: Memperkuat Unit Layanan Disabilitas Perguruan Tinggi untuk Kampus Berdampak,” yang digagas Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), di Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Baca JugaCetak Biru Kampus Inklusi untuk Mahasiswa Disabilitas

Irzam merupakan satu dari 3.128 mahasiswa penyandang disabiltas di perguruan tinggi negeri maupun swasta di berbagai daerah di Indonesia. Berdasarkan data di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknoloi, hingga Juni 2025, para mahasiswa dengan disabiltas mulai dari disabilitas netra, rungu, fisik, gangguan emosi dan perilaku, kesulitan belajar spesifik, hingga disabiltas intelektual.

Mereka semua berjuang untuk menuntaskan kuliah untuk memenuhi impian mengenyam pendidikan tinggi.

Ketika kuliah, Irzam tidak pernah bercerita soal kondisi dirinya yang butuh dukungan khusus agar bisa mampu kuliah dengan baik. Di semester lima, kecemasan dan depresi dirinya memuncak sehingga ia hilang begitu saja dari perkuliahan. Ia pun tidak mengerti bagaimana mendapat dukungan dari kampus.

Irzam merupakan satu dari 3.128 mahasiswa penyandang disabiltas di perguruan tinggi negeri maupun swasta di berbagai daerah di Indonesia.

Beruntung, kampusnya tetap menghubungi keluarganya. Irzam akhirnya berobat dengan profesional. Sempat cuti kuliah, ia kembali dengan syarat hanya bisa mengambil tiga mata kuliah sebagai percobaan.

”Sampai sekarang berulang polanya ketika rasa cemas menyerang, bisa sewaktu-waktu ingin hilang dari kuliah. Tapi, saya mendapat dukungan. Terutama saat memasuki masa mengerjakan tugas akhir, saya mendapat dukungan dari Bu Mita (dosen dengan disabilitas rungu), yang membantu agar dosen lain mengerti keadaan saya,” kata Irzam yang berhasil menulis publikasi ilmiah di jurnal ilmiah terindeks Sinta 3.

Baca JugaKisah Mahasiswa Difabel UGM Raih Dua Emas Lomba Ilmiah Nasional

  

Tidak mudah

Rachmita Maun Harahap, dosen di Fakultas Desain dan Seni Rupa Universitas Mercu Buana, ini pun melalui masa kuliah yang juga tidak mudah. Semangatnya untuk mendalami dunia desain, khususnya desain inklusif, membuatnya tidak menyerah untuk meraih pendidikan dari sarjana di Universitas Mercu Buana dengan predikat cum laude.

Ia melanjutkan kuliah dengan beasiswa di jenjang magister dan doktor di Institut Teknologi Bandung.   

Rachmita menjadi dosen yang  juga mengadvokasi agar perguruan tinggi inklusif bagi penyandang disabilitas. Ia pun bergabung menjadi komisioner di Komisi Nasional Disabilitas agar lebih mampu menjangkau pimpinan dan institusi perguruan tinggi agar semakin ramah pada penyandang disabiltas.

”Saya merasakan tidak mudah bagi mahasiswa atau dosen dengan disabilitas untuk membangun karier. Sebagai dosen di kampus, tidak ada yang menyediakan juru bahasa isyarat yang di bayar kampus ketika saya mengajar,” kata Rachmita yang masih bisa berbicara, tetapi tetap butuh juru bahasa isyarat.   

Rachmita mengenang, saat awal kariernya menjadi dosen, ia sempat kebingungan dengan berbagai macam syarat untuk kenaikan karier karena tidak ada yang menjelaskannya dengan bahasa isyarat. ”Karena itu, saya ikut menyuarakan supaya pendidikan inklusif di kampus-kampus semakin berpihak pada penyandang disabilitas,” katanya.

Baca JugaPerjuangan Mahasiswa Difabel untuk Mengikuti Perkuliahan

Menurut Rachmita, menghadirkan layanan inklusif bagi penyandang disabiltas butuh juga memahami desain lingkungan kuliah dan kerja yang sesuai. Selain itu, menyediakan bimbingan atau konseling yang membantu mahasiswa atau sivitas akademika untuk menyesuaikan diri sehingga tidak tertinggal dari yang reguler.

”Seperti ruang kerja untuk saya yang tuli kan tidak bisa terbuka. Saya tidak bisa mendengar suara yang banyak, butuh yang tenang. Hal seperti ini terus butuh advokasi hingga ke pimpinan kampus supaya dipahami dan disesuaikan,” kata Rachmita.

Rachmita mengakui, di sejumlah kampus telah hadir Unit Layanan Disabilitas (ULD). Akan tetapi, menurut dia, kehadiran ULD di kampus sebagai komitmen pendidikan inklusif masih belum ideal. Menurut pemantauan Komisi Nasional Disabiltas Tahun 2022-2025, di sejumlah kampus memang terdapat ULD, tetapi staf untuk mendukung layanan itu masih terbatas dan tidak memperoleh pelatihan.

Rachmita mengakui, di sejumlah kampus telah hadir Unit Layanan Disabilitas (ULD). Akan tetapi, menurutnya, kehadiran ULD di kampus sebagai komitmen pendidikan inklusif masih belum ideal.

Aksesibiltas untuk penyandang disabilitas di kampus juga masih setengah hati. Misalnya lift, tersedia di kampus, tetapi hanya untuk pimpinan kampus. Jika disediakan rampa atau jalan menurun sebagai alternatif tangga, itu biasanya terlalu curam.

”Dosen juga belum siap mengimplementasikan pendidikan inklusif. Lebih dari 70 persen dosen belum pernah mengikuti pendidikan inklusif. Akibatnya, metode mengajar masih satu untuk semua, serta evaluasi tidak mengakomodasi keberagaman,” kata Rachmita.  

Baca JugaKonsep Pendidikan Inklusi Belum Banyak Dipahami Sekolah

Rachmita menambahkan budaya kampus masih ada stigma memandang penyandang diabiltas dengan rasa kasihan bukan berdaya. ”Padahal, menuju kampus inklusif bukan hanya ada, tapi berdampak nyata untuk semua,” tegas Rachmita.

Diakui masih ada hambatan

Guru Besar Universitas Negeri Jakarta Asep Supena yang juga Tim Pendidikan Tinggi Inklusif Ditjen Dikti, Kemendiktisaintek, mengakui masih ada hambatan belajar dan bekerja yang dialami sivitas akademika dengan beragam disabilitas. Karena itu, perlu terus ditingkatkan layanan pendidikan inklusif dari bahan ajar, metode pembelajaran, media dan teknologi pembelajaran, evaluasi pembelajaran, maupun interaksi sosial dan dukungan akademik.

”Penguatan budaya inklusif di kampus masih harus terus dikembangkan. Perlu program sosialisasi dan penguatan komitmen untuk pimpinan, pelatihan dosen dan tenaga kependidikan, kelengkapan infrastruktur kampus yang ramah disabilitas, hingga kehadiran buku panduan praktis,” kata Asep.

Sementara itu, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemendiktisaintek, Beny Bandanadjaja, mengatakan pendidikan inklusif membuat anak-anak dengan disabilitas (berkebutuhan khusus) dapat mengenyam pendidikan sesuai potensi dirinya. Tanpa pendidikan yang memadai, penyandang disabilitas berisiko memiliki keterampilan sosial dan emosional yang buruk, yang berdampak negatif terhadap kehidupan mereka di masa depan.

”Pendidikan inklusif penting tidak hanya untuk hak individu tetapi juga untuk pembangunan sosial dan ekonomi suatu negara. Kita harus terus meningkatkan angka partisiasi anak berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan berkualitas,” kata Beny.

Baca JugaMenuju Kampus Inklusif, Unhas Bentuk Pusat Disabilitas

Menurut Beny, Kemendiktisantek mendukung pendidikan tinggi inklusif dengan mewajibkan pembentukan ULD lewat dukungan dana senilai Rp 30 juta. Selain itu, ada pengutan ULD yang sudah ada senilai Rp 40 juta.

Selain itu, kampus menyediakan akomodias yang layak bagi penyandang disabilitas. Hal ini guna memastikan seluruh kegiatan tridarma perguruan tinggi dapat diakses secara mandiri oleh penyandang disabiltas.

Baca JugaPendidikan, Jalan bagi Penyandang Disabilitas Menuju Dunia Kerja

Kewajiban kampus lainnya, kata Benny, di LPTK untuk pendidikan calon guru wajib ada mata kuliah pendidikan inklusif. Lalu, penerimaan mahasiswa baru juga harus terbuka bagi penyandang disabilitas, baik reguler maupun afirmasi.

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penyelidikan Tak Disetop, KPK Tetap Cari Celah Dugaan Korupsi di Program MBG
• 11 jam laluviva.co.id
thumb
Polisi Selidiki Kematian Pria di Belakang Warkop Probolinggo, Ada Luka di Kepala dan Tangan
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Ragam Harapan hingga Target Pram-Rano Jelang 5 Abad DKI
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Lionel Messi Tak Tenang meski Puncaki Daftar Top Skor Sepanjang Masa Piala Dunia 2026, Kylian Mbappe Beri Ancaman
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
FOMO Jadi Alarm bagi Investor Gen Z di Tengah Ledakan Inklusi Keuangan
• 14 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.