Langkah Nyata BNI: Merawat Inovasi, Mengawal Cetak Biru SDM Unggul di Universitas Negeri Malang

beritajatim.com
12 jam lalu
Cover Berita

Malang (beritajatim.com) – Bagi Ahmad Junaidi, Dosen Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM), selembar kertas berisi proposal riset di mejanya memiliki bobot moral yang setara beratnya dengan menjaga nama baik institusi. Ia paham betul bahwa setiap rupiah dana hibah penelitian yang diterimanya adalah uang amanah yang haram hukumnya berkelindan dengan kebutuhan personal.

Sebagai akademisi yang baru saja merengkuh hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP), Junaidi merasa bahwa tanggung jawab mengelola dana negara setara beratnya dengan menyusun metodologi ilmiah itu sendiri. Menurut dosen yang kini berusia 32 tahun itu kehadiran Bank Negara Indonesia (BNI) melalui skema BNI Giro Kerjasama sangatlah penting untuk memurnikan potensi bias administratif yang mungkin saja terjadi.

“Dana penelitian dan pengabdian itu memang harus dibuatkan rekening sendiri, karena itu uang amanah sehingga tidak tercampur dengan uang pribadi,” ungkap Ahmad Junaidi saat ditemui di sela-sela kesibukannya menyusun laporan perkembangan riset di lingkungan kampus pada Jumat (19/6/2026).

Junaidi menjelaskan, dalam skema hibah internal Universitas Negeri Malang, pencairan dana dilakukan secara berjenjang. Pada termin pertama dikucurkan sebesar 70 persen, sementara sisanya yang 30 persen baru akan mengalir setelah laporan perkembangan diverifikasi secara ketat.

“Saya bisa melakukan pencatatan arus uang keluar lebih mudah. Kalau hibah internal UM ini kan cair 70 persen, baru setelah laporan perkembangan, 30 persen cair. Uang itu kan amanah untuk bisa terlaksana penelitian kami, maupun pengabdian kami, jadi adanya BNI Giro Kerjasama ini membuat kami para dosen UM ini sangat terbantu,” sambung Junaidi.

Ahmad Junaidi menyebut bahwa adanya kepastian sistem ini membuat konsentrasi para dosen tidak lagi terpisah oleh kerumitan birokrasi manual. Dosen pun dibebaskan dari kesulitan pelaporan administratif yang seringkali menjadi momok bagi produktivitas ilmiah di Indonesia.

“Bagi saya, BNI sebagai bank pelat merah memosisikan dirinya bukan sekadar tempat menyimpan uang atau menjadi alat pembayaran, melainkan sebagai penyedia yang memastikan setiap dana terserap tepat pada inovasi, penelitian, maupun pengabdian,” ujarnya menyiratkan prinsip integritas akademik.

BNI Sebagai Estafet Kenyamanan Finansial Mahasiswa

Cerita dari ruang akademik meja dosen ini segera dapat dihubungkan dengan kisah Fathiya, mahasiswa penerima beasiswa yang menggantungkan fokus belajarnya pada ketepatan waktu distribusi dana bulanan. Mahasiswa semester dua yang juga mengemban amanah sebagai Lurah Awardee Beasiswa Unggulan (BU) di UM ini, merasakan betul transformasi digital perbankan mengubah cara mahasiswa berinteraksi dengan kebutuhan finansial mereka.

“Sebagai penerima dana bantuan dari Program Beasiswa Unggulan yang dikelola oleh Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) di bawah naungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, kepastian waktu pengiriman uang saku bulanan adalah segalanya bagi kami. Kami merasa, BNI telah turut mengawal langsung ekosistem pembangunan manusia agar roda kesejahteraan bisa lancar sampai ke kami, mahasiswa,” ujar Fathiya yang juga mewakili Awardee BU di UM pada beritajatim.com, Sabtu (20/6/2026).

Fathiya mengungkapkan bahwa bahwa BNI telah memberi akses kemudahan dalam memotong rantai keterlambatan arus keuangan. Dengan kemudahan itu, Fathiya dan awardee lain merasa lebih tenang sehingga bisa terus berkonsentrasi pada berbagai kegiatan perkuliahan.

“Fitur BNI itu memudahkan kami tidak bingung, terutama dengan menggunakan Wondr by BNI kami sangat terbantu untuk mengakomodir berbagai kebutuhan baik kebutuhan untuk harian, pendidikan, maupun kebutuhan saat kami hendak melakukan pengabdian nanti di semester 6 ke semester 7,” ujar mahasiswa semester 2 tersebut.

Wondr by BNI, aplikasi super dari BNI telah menjadi asisten digital bagi mahasiswa seperti Fathiya. Aplikasi ini mengintegrasikan tiga dimensi keuangan utama, yaitu insight untuk memantau jejak pengeluaran harian, book untuk mengelola tabungan jangka panjang, dan flow untuk eksekusi transaksi cepat.

Fathiya menambahkan bahwa manajemen keuangan yang rapi sejak dini adalah modal utama bagi para awardee beasiswa sebelum mereka diterjunkan ke masyarakat luas dalam program pengabdian masyarakat. Sebab menurutnya, skenario pengabdian di masa depan memerlukan kalkulasi anggaran yang matang.

“Melalui latihan mengelola uang saku bulanan dengan platform digital terintegrasi ini menjadi simulasi nyata yang membentuk karakter kepemimpinan finansial kami sejak duduk di bangku kuliah,” ujar Fathiya.

Cetak Biru Campus Financial Ecosystem

Tingkat kepuasan yang dirasakan dosen hingga mahasiswa di UM tersebut adalah buah dari cetak biru strategis yang dirancang dari birokrasi kampus bersama pimpinan perbankan BNI. Sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH), Universitas Negeri Malang memikul beban regulasi untuk bergerak lincah, adaptif, dan mandiri dalam mengelola seluruh aset dan potensinya.

Wakil Rektor II UM saat memberikan keterangan terkait implementasi Campus Financial Ecosystem di ruang kerjanya (Foto: Istimewa)

Seperti disampaikan oleh Wakil Rektor II Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Adi Atmoko, M.Si., M.Pd., bahwa model tata kelola keuangan yang rigid dan manual sudah selayaknya masuk kotak sejarah. Kampus modern seperti UM membutuhkan kecepatan eksekusi yang setara dengan korporasi global tetapi tetap dengan kepatuhan hukum yang setara dengan lembaga audit negara. Berangkat dari kebutuhan tersebut, UM menjatuhkan pilihan pada BNI sebagai mitra strategis utama.

“Sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH), UM dituntut untuk bergerak lincah, adaptif, dan mandiri dalam mengelola sumber dayanya. Birokrasi yang rigid dan manual jelas sudah tidak relevan dengan semangat zaman. Kami memilih BNI sebagai mitra utama karena BNI tidak hanya menawarkan produk perbankan konvensional, melainkan sebuah Campus Financial Ecosystem yang utuh dan terintegrasi dari hulu ke hilir,” papar Prof. Adi Atmoko saat diwawancarai khusus oleh beritajatim.com pada Senin (22/6/2026).

Prof. Adi menjelaskan bahwa integrasi ini berhasil mengikis sekat birokrasi lama yang bisa dikatakan cukup lamban. Hubungan antara sistem tata kelola keuangan internal kampus dengan core banking BNI kini berjalan secara seamless tanpa hambatan. Hasilnya, distribusi kesejahteraan, pembayaran vendor pihak ketiga, hingga penyaluran hak mahasiswa dapat dieksekusi dalam hitungan menit, bukan lagi hari.

Sistem ini, lanjut Prof Adi, dapat diuji secara nyata dalam pengelolaan dana krusial, seperti gaji pegawai, dan distribusi beasiswa nasional. Berdasarkan evaluasi manajemen internal, kerja sama ini mencatatkan performa luar biasa dengan tingkat kesalahan nol persen. Keandalan sistem otomatisasi massal ini terbukti mampu menihilkan potensi human error yang kerap menjadi sumber kegaduhan administratif di masa lalu.

“Evaluasi kami sejauh ini sangat positif. Urusan dana beasiswa dan kesejahteraan SDM adalah hal krusial yang tidak boleh meleset satu hari pun. UM sendiri telah mempercayakan sistem payroll BNI tidak hanya untuk distribusi beasiswa, tetapi juga untuk payroll gaji pegawai PNS kami. Keandalan sistem BNI terbukti mampu meminimalkan human error. Proses transmisi dana masal berjalan secara otomatis, presisi, dan tepat waktu. Bagi para awardee beasiswa, kepastian ini sangat berdampak pada ketenangan mereka dalam menempuh studi. Kami mengapresiasi performa zero-error ini karena kelancaran payroll adalah fondasi utama dalam menjaga stabilitas dan motivasi seluruh civitas akademika UM,” tambah Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan tersebut.

BNI Direct dan QRIS Dinamis BNI sebagai Benteng Transparansi Keuangan

Lebih lanjut, Prof. Adi Atmoko menguraikan bahwa kunci utama dari kelancaran sistem ini terletak pada pemanfaatan platform cash management BNI Direct. Platform ini bertindak sebagai antitesis dari rantai birokrasi lama yang berbelit-belit. Melalui BNI Direct, jajaran manajemen keuangan universitas dapat melakukan monitoring transaksi dan pergerakan kas secara real-time.

Percepatan penyerapan anggaran dapat dilakukan secara maksimal karena proses transfer, pembayaran vendor, dan distribusi dana operasional kini bisa dieksekusi hanya dalam beberapa klik saja tanpa perlu antrean fisik di kantor bank. Di sisi lain, aspek akuntabilitasnya tetap terjaga sangat ketat karena platform ini menerapkan sistem maker, approver, dan releaser, sehingga setiap sen anggaran yang diserap dipastikan telah melalui verifikasi berjenjang yang sah secara sistem.

Menurutnya, peran BNI dapat dimetaforakan sebagai arus irigasi karena tugas utama seorang dosen adalah meneliti dan mengabdi, bukan terjebak dalam pelaporan administratif yang rumit. Untuk mendukung hal tersebut, UM mengimplementasikan layanan Virtual Account (VA) Debet dan Virtual Account (VA) Kredit dari BNI.

“Dengan sistem VA ini, alokasi dana hibah riset dapat langsung ditargetkan ke sub-unit atau akun peneliti yang bersangkutan dengan fleksibilitas tinggi namun tetap berada dalam koridor aturan pencairan dana yang ketat. Birokrasi administratif yang dulu memakan waktu berhari-hari kini dipangkas habis. Fleksibilitas ini membuat cairan dana riset menjadi lebih mengalir lancar sehingga para akademisi kami bisa mencurahkan energi penuh mereka pada substansi inovasi ilmiah,” ujar Prof. Adi.

Reputasi adalah aset terbesar bagi UM, dan transparansi keuangan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Dalam hal mitigasi risiko, BNI menyediakan instrumen kontrol yang sangat solid melalui integrasi sistem Virtual Account dan platform BNI Direct tersebut.

 

Sementara itu, untuk transaksi pendapatan kampus yang bersifat langsung, seperti pembayaran layanan di pusat bisnis kampus, merchant, hingga kegiatan mahasiswa UM telah beralih menggunakan QRIS Dinamis BNI. Keunggulan utama dari QRIS Dinamis ini adalah nilainya sudah terkunci secara otomatis sesuai tagihan sistem pembukuan dan langsung tercatat pasca-bayar.

“Semua sistem ini menciptakan jejak digital yang permanen, transparan, dan tidak dapat dimanipulasi. Setiap rupiah yang masuk dari mahasiswa atau pihak ketiga, serta setiap rupiah yang keluar untuk operasional, terekam secara presisi. Ini adalah benteng proteksi kami dari risiko penyimpangan,” tegas Prof. Adi Atmoko dengan raut wajah penuh keyakinan.

Sinergi finansial ini ternyata memiliki dampak multiefek yang nyata bagi masyarakat luas di luar pagar kampus. Ketika proses pencairan dana operasional UM Belajar Bersama Masyarakat (BBM) maupun dana program pengabdian masyarakat berjalan lancar berkat sistem digital BNI, mahasiswa dan dosen bisa langsung mengeksekusi program mereka di desa binaan tanpa penundaan sepeser pun.

“Sebagai contoh, dalam pelaksanaan program pemberdayaan ekonomi di daerah, pembelian bahan baku untuk pelatihan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) desa, pembangunan fasilitas sanitasi bersih, hingga pengadaan komponen teknologi tepat guna untuk pertanian lokal dapat dibayarkan seketika secara non-tunai melalui kanal perbankan BNI. Keandalan teknologi finansial ini memastikan bahwa kehadiran civitas akademika UM di lapangan langsung membawa dampak ekonomi instan bagi masyarakat di desa,” jelas akademisi UM tersebut.

Jejak Kolaborasi yang Kokoh UM dan BNI

Hubungan antara BNI dan Universitas Negeri Malang bukanlah sebuah kerja sama instan yang baru seumur jagung. Jauh sebelum era digitalisasi Campus Financial Ecosystem ini digelorakan, fondasi kemitraan telah diletakkan dengan kokoh sejak bertahun-tahun lalu. Tonggak sejarahnya dimulai pada 27 Juli 2020 ketika kedua institusi menandatangani Perjanjian Kerja Sama Layanan Pembukaan Rekening Giro Kerjasama Berbasis Kartu Debit di Kota Malang.

Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara UM dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk pada 27 Juli 2020 lalu (Foto: Istimewa)

Kala itu, Rektor UM masih dijabat oleh Prof. Dr. AH. Rofi’uddin, M.Pd., dan Head of Regional BNI Kantor Wilayah Malang dipimpin oleh Beby Lolita Indriani. Penandatanganan tersebut disaksikan secara virtual dari Jakarta oleh Direktur Bisnis UMKM BNI saat itu, Tambok P. Setyawati, di tengah situasi dunia yang didera ketidakpastian akibat pandemi COVID-19.

Komitmen awal tersebut berfokus pada kemudahan para dosen peneliti untuk bertransaksi menggunakan kartu debit berbasis rekening kerja sama. Kartu debit tersebut dipantau langsung oleh rektorat demi mengawasi kualitas penyerapan dana dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M).

Tak hanya urusan bisnis murni, BNI kala itu juga menunjukkan tanggung jawab sosialnya dengan memberikan hibah fasilitas LED Videotron sebagai sarana penyebaran informasi kampus. BNI juga menyalurkan bantuan sembako massal dalam program BNI Berbagi untuk masyarakat sekitar kampus yang terdampak pandemi secara ekonomi.

Semangat melayani sepenuh hati itulah yang terus dirawat dan diperbarui. Kemitraan tersebut semakin dikuatkan pada 5 Desember 2024. Bertempat di Ruang Sidang Rektor, Graha Rektorat UM lantai 9, Rektor UM saat ini, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., bersama Branch Manager BNI Kantor Cabang Brawijaya, Anjar Arie Puspitasari, menandatangani dokumen perpanjangan kontrak sewa kantor cabang pembantu BNI di dalam lingkungan kampus.

Branch Manager BNI Kantor Cabang Brawijaya, Anjar Arie Puspitasari (kiri) bersama Rektor UM (Foto: Istimewa)

“Langkah ini diambil bukan sekadar urusan sewa-menyewa ruang fisik, melainkan sebuah komitmen bersama untuk memperkuat literasi finansial di kalangan sivitas akademika guna menghadapi maraknya kejahatan siber seperti penipuan daring. Kami berharap keberadaan kantor cabang pembantu di dalam kampus tidak hanya melayani civitas akademika, tetapi juga mendukung layanan perbankan terbaik bagi masyarakat luas di sekitar kampus,” ujar Prof Hariyono.

Secara makro, kolaborasi strategis antara institusi pendidikan tinggi dan lembaga keuangan formal ini secara nyata mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan literasi keuangan yang inklusif, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui pembangunan kemitraan yang solid demi mencapai tujuan nasional.

Komitmen BNI untuk Tri Dharma Tanpa Batas

Langkah BNI dalam merangkul dunia pendidikan tinggi tidak hanya terlokalisasi di UM. Di seberang jalan, tetangga dekat UM, yakni Universitas Brawijaya (UB), juga menjalin sinergi serupa namun dengan fokus dan eskalasi yang berbeda, terutama dalam menjembatani kesiapan lulusan memasuki dunia kerja. Kerja sama strategis ini tercermin dari kunjungan intensif tim Divisi Institutional Banking BNI ke UB untuk merancang pola rekrutmen berkelanjutan bagi mahasiswa berpotensi tinggi.

Dalam rekam jejak rekrutmen nasional, lulusan Universitas Brawijaya secara konsisten menempati peringkat tiga besar dalam seleksi ketat Officer Development Program (ODP) BNI, jalur yang dipersiapkan khusus untuk mencetak jajaran pimpinan masa depan bank tersebut. Hal ini membuktikan bahwa kehadiran BNI di lingkungan kampus tidak hanya mengelola aspek keuangan saat ini, tetapi juga berinvestasi pada investasi kemanusiaan jangka panjang.

Bergerak ke arah barat, BNI juga memperluas jejak kontribusinya di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta melalui peresmian fasilitas co-working space modern di Perpustakaan dan Arsip UGM pada 13 Mei 2026 lalu. Direktur Kelembagaan BNI, Eko Setyo Nugroho, menyatakan bahwa penyediaan ruang kolaboratif yang fleksibel dan adaptif ini dirancang untuk merangsang kreativitas mahasiswa dalam melahirkan ide-ide inovatif yang berdampak langsung bagi kemaslahatan masyarakat luas.

“Bagi BNI, kolaborasi dengan sektor pendidikan tinggi bukan sekadar hubungan kelembagaan normatif, melainkan wujud nyata komitmen perseroan dalam melayani bangsa sepenuh hati. Di skala makro nasional, komitmen nyata BNI terhadap kemajuan pendidikan Indonesia dibuktikan melalui konsistensi penyaluran Beasiswa Nasional BNI Berbagi,” ujar Eko Setyo Nugroho dikutip dari laman resmi bni.co.id

Sepanjang tahun 2025 hingga April 2026, program jaminan sosial BNI telah menjangkau lebih dari 1.000 pelajar berprestasi dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi, dengan fokus perluasan hingga ke daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo saat momentum Hari Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa BNI hadir sebagai kontributor nyata dalam membangun fondasi karakter bangsa, mendorong pemerataan akses pendidikan, serta membekali generasi muda dengan literasi keuangan yang matang agar siap menghadapi tantangan ekonomi global di masa depan.

Menyongsong 80 Tahun BNI

Waktu terus bergulir membawa BNI mendekati gerbang usia emas yang ke-80 tahun. Delapan dekade mengawal stabilitas ekonomi nasional bukanlah waktu yang singkat sebab hal itu adalah bukti ketangguhan, adaptabilitas, dan kematangan sebuah institusi keuangan. Di tengah momentum refleksi ini, UM menaruh harapan besar agar sinergi yang telah terbangun kokoh dapat melompat ke level berikutnya yang lebih tinggi.

Fasilitas LED Videotron bantuan hibah dari program kemitraan BNI yang berdiri kokoh di salah satu sudut jalan utama UM (Foto: Dani Alifian)

Atas nama pimpinan dan seluruh civitas akademika UM, Prof. Adi Atmoko menyampaikan ucapan selamat menyongsong Hari Ulang Tahun ke-80 bagi BNI. Usia tersebut menjadi bukti nyata ketangguhan BNI dalam mengawal perekonomian bangsa sekaligus bertindak sebagai Motor Penggerak Transformasi Digital Pendidikan.

Menatap masa depan, tantangan pengelolaan keuangan kampus akan semakin kompleks seiring dengan arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang eksponensial. UM berharap BNI, dapat meluncurkan inovasi mutakhir berbasis Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini diharapkan mampu membantu pihak manajemen universitas dalam melakukan analisis prediktif, merencanakan alokasi anggaran jangka panjang secara cerdas, serta memitigasi risiko finansial dengan akurasi yang lebih tinggi.

“Sebagai mitra strategis, seiring langkah BNI menuju Global Financial Institution, harapan kami adalah melihat BNI meluncurkan inovasi berbasis AI Financial Analytics yang dapat membantu kampus memprediksi dan merencanakan keuangan jangka panjang secara lebih cerdas. Selain itu, kami juga berharap adanya perluasan integrasi sistem keuangan internasional yang kian mudah guna mendukung program internasionalisasi UM, seperti kemudahan transaksi bagi mahasiswa asing kami maupun dosen yang melakukan studi di luar negeri. Tetaplah menjadi motor penggerak transformasi digital pendidikan demi terwujudnya Indonesia Emas,” ujar Prof Adi Atmoko mengakhiri wawancara. (dan/aje)

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bermasalah, Hotel di Purwokerto Digugat Warga Yogyakarta
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Pram: Faktor Geopolitik Pengaruhi Ekonomi, Tapi Jakarta Tumbuh 5,59 Persen
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Peristiwa 22 Juni: Selamat Ulang Tahun ke-499 Jakarta!
• 17 jam laluokezone.com
thumb
Mendagri dan Gubernur se-Tanah Papua Dukung Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Kejari Jaksel Beber Alasan Tak Menahan Roy Suryo & Dokter Tifa
• 3 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.