Bisnis.com, PEKANBARU — Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Riau mulai memperkenalkan konsep sawit nol limbah (zero waste) kepada petani melalui pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit (tankos) dan produk samping pabrik kelapa sawit (PKS) sebagai bahan baku pupuk organik.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi usaha tani sekaligus mendorong praktik perkebunan yang lebih ramah lingkungan.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Workshop Praktik Pembuatan Pupuk Organik Berbasis Solid dan Tandan Kosong Kelapa Sawit Ramah Lingkungan yang digelar Apkasindo Riau di Pekanbaru, Kamis (18/6/2026).
Kegiatan itu mengangkat sejumlah isu strategis, mulai dari dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terhadap pengembangan sawit berkelanjutan dan konsep zero waste, peningkatan produktivitas melalui ekonomi sirkular, pembiayaan sarana dan prasarana perkebunan, hingga pemanfaatan zeolit dan teknologi pemupukan presisi untuk meningkatkan efisiensi usaha tani sawit.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau Supriadi mengatakan pemanfaatan limbah sawit menjadi pupuk organik merupakan salah satu langkah penting dalam membangun tata kelola perkebunan yang lebih berkelanjutan.
Menurutnya, tandan kosong dan solid yang selama ini dianggap sebagai limbah sesungguhnya masih mengandung unsur hara yang dapat dikembalikan ke lahan.
Baca Juga
- Limbah Jadi Cuan, BPDP-Asosasi Petani Sawit Ekspor 28 Ton Lidi ke China
- Harga TBS Sawit Rakyat di Sumbar Merangkak Naik Pekan Ketiga Juni jadi Rp2.200/Kg
- PLN EPI Mau Bangun Pabrik Bio-CNG dari Limbah Sawit Tahun Ini
"Di satu sisi kita membeli pupuk dengan harga yang luar biasa mahal, tetapi disisi lain unsur haranya justru kita buang. Ini menjadi sesuatu yang harus kita perhatikan bersama," ujarnya.
Menurut Supriadi, pemanfaatan limbah hasil pengolahan sawit yang diperkirakan mencapai sekitar 70% berpotensi mengurangi pemborosan sumber daya sekaligus meningkatkan efisiensi usaha tani. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, unsur hara yang sebelumnya terbuang dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Ia menilai langkah tersebut menjadi bagian penting dari upaya mewujudkan industri sawit yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi komoditas strategis nasional tersebut.
"Workshop ini mudah-mudahan menjadi langkah awal untuk menciptakan sistem budidaya sawit yang baik, berkelanjutan dan ramah lingkungan," katanya.
Sebagai tindak lanjut dari workshop tersebut, peserta yang terdiri dari petani, koperasi, dan pengurus Apkasindo melakukan kunjungan ke salah satu produsen pupuk organik berbasis limbah sawit di Kabupaten Kampar.
Kunjungan lapangan itu dilakukan untuk memberikan gambaran langsung kepada peserta mengenai penerapan konsep zero waste dan ekonomi sirkular yang sebelumnya dibahas dalam sesi workshop.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Apkasindo Riau, K.H. Suher mengatakan, rangkaian kegiatan selama dua hari tersebut sengaja dirancang agar peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana produk samping industri sawit dapat diolah kembali menjadi sarana produksi bagi perkebunan rakyat.
"Kita ingin membuktikan bahwa tidak ada limbah dari komoditas sawit. Semua hasil produksi, baik produk utama maupun produk sampingnya, masih bisa diproses kembali dan dimanfaatkan untuk mendukung budidaya tanaman sawit yang lebih efisien dan ramah lingkungan," ujarnya, Jumat (19/6).
Menurut Suher, penerapan pupuk organik berbasis limbah sawit diharapkan dapat menjadi salah satu solusi bagi petani untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kesuburan lahan dalam jangka panjang.
Dalam kunjungan tersebut, peserta diperlihatkan proses pengolahan tandan kosong, solid, dan abu janjang yang merupakan produk samping pabrik kelapa sawit menjadi pupuk organik.
Bahan-bahan tersebut difermentasi dan dipadukan dengan mikroorganisme sebelum digunakan sebagai pupuk untuk memperbaiki kualitas tanah dan meningkatkan kemampuan tanaman dalam menyerap unsur hara.
Setiap satu ton tandan buah segar (TBS) yang diolah di pabrik, setidaknya menghasilkan sekitar 30% tandan kosong (tankos) yang masih memiliki nilai manfaat.
Limbah tersebut kemudian diolah kembali menjadi bahan baku pupuk organik sehingga dapat dikembalikan ke kebun sebagai bagian dari siklus produksi sawit yang berkelanjutan.
Dorongan penerapan konsep zero waste dinilai strategis mengingat posisi Riau sebagai pusat industri sawit nasional. Pemerintah Provinsi Riau mencatat luas perkebunan kelapa sawit di daerah itu mencapai 3,87 juta hektare atau sekitar 21,23% dari total areal sawit nasional.
Riau Perkuat Sawit BerkelanjutanSelain menguasai luas areal terbesar di Indonesia, Riau juga memproduksi sekitar 9,4 juta ton crude palm oil (CPO) pada 2024 atau setara 20,11% produksi nasional.
Yang menarik, sekitar 61,12% atau 2,36 juta hektare dari total perkebunan sawit di Riau merupakan perkebunan rakyat. Dari jumlah tersebut, sekitar 94,33% atau setara 2,23 juta hektare dikelola oleh petani swadaya.
Besarnya porsi perkebunan rakyat membuat transformasi menuju sawit berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga menyangkut kesejahteraan masyarakat. Saat ini sektor sawit menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 3,45 juta penduduk Riau atau sekitar 51,24% populasi provinsi tersebut.
Suher mengatakan, pemanfaatan pupuk organik berbasis limbah sawit ini juga merupakan respons terhadap tingginya harga pupuk kimia yang membebani petani dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, penggunaan pupuk organik tidak hanya bertujuan mengurangi biaya produksi, tetapi juga memperbaiki kualitas tanah yang mengalami kejenuhan akibat penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus.
"Tujuan kegiatan ini adalah membantu petani mengurangi beban biaya pupuk dan biaya produksi. Dengan pemanfaatan pupuk organik, unsur hara tanah dapat dipertahankan sehingga produktivitas tanaman sawit diharapkan meningkat," ujarnya.
Dia menambahkan, ketika kondisi tanah kembali sehat, unsur hara yang tersimpan di dalam tanah dapat lebih optimal diserap oleh tanaman. Dengan demikian, kebutuhan pupuk kimia dapat ditekan secara bertahap tanpa mengorbankan produktivitas kebun.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Riau terus mendorong peningkatan produktivitas perkebunan rakyat melalui Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Sejak 2017 hingga 2026, realisasi PSR di Riau telah mencapai 51.323 hektar yang melibatkan 216 kelembagaan petani dan lebih dari 22.000 pekebun.
Program tersebut didukung pendanaan BPDP yang telah mencapai lebih dari Rp1,7 triliun. Pemerintah daerah berharap dukungan peremajaan kebun yang dibarengi penerapan konsep ekonomi sirkular dan zero waste dapat memperkuat daya saing sawit rakyat sekaligus menjaga keberlanjutan industri sawit Riau di masa depan.





