Kelesuan ekonomi yang terjadi belakangan ini seakan berhenti sejenak saat berlangsung Pekan Raya Jakarta atau Jakarta Fair 2026 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat. Seperti yang terlihat pada Minggu (21/6/2026), akhir pekan menjelang liburan sekolah.
Momentum ini terbangun dari pameran (expo) perdagangan tahunan yang telah berlangsung sejak 1968. Sejak 1968 itu pula Pekan Raya Jakarta (PRJ) telah melalui sejarah panjang naik turunnya perekonomian. Jakarta Fair telah mengalami transisi dari sekadar pasar malam menjadi pameran modern dan melalui masa-masa terberat seperti krisis ekonomi dan gejolak politik 1998 hingga pandemi Covid-19.
Lorong di zona luar ruang di area tengah dipenuhi orang-orang. Meski hari masih terasa terik, semangat para pengunjung tidak kenal kendur. Tas belanja pun ditenteng di tangan hingga digendong di punggung. Barang belanjaan yang mereka bawa mulai dari makanan ringan, busana, helm, perlengkapan rumah tangga, hingga sepeda. Stan penjualan mi instan turut dikerubuti pengunjung yang ingin mengisi perut.
Tak melulu konsumen, para penyedia jasa jastiper pun turut bersemangat membawa koper-koper mereka yang siap diisi barang pesanan klien-klien. Sejumlah sudut dimanfaatkan pengunjung untuk selonjoran setelah lelah berbelanja dan berkeliling di area seluas 44 hektar itu.
Jakarta Fair Kemayoran sebagai event tahunan telah menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun Jakarta yang jatuh pada 22 Juni. Ajang ini menjadi momentum penguatan sektor perdagangan, industri kreatif, dan hiburan masyarakat.
Peserta memamerkan berbagai produk unggulannya dari berbagai sektor industri, mulai dari industri otomotif, gawai, komputer, alat olahraga, busana, perlengkapan rumah tangga, mebel, produk elektronik, kuliner, industri kreatif, kerajinan tangan, perawatan tubuh serta kosmetik, perbankan, produk jasa, dan lain-lain.
Penyelenggaraan Jakarta Fair kali ini berlangsung di tengah pelemahan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah yang terjadi di tengah berbagai indikator makroekonomi yang menunjukkan stabilitas. Seperti pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bergerak di kisaran 5 persen, bahkan di triwulan I-2026 masih dapat mencapai 5,61 persen.
Meski demikian, banyak keluarga kelas menengah yang menjadi motor konsumsi merasakan bahwa pendapatan mereka tidak dapat mengikuti kenaikan biaya hidup. Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya rumah tangga yang menunda pembelian barang, mengurangi pengeluaran untuk rekreasi, hingga mengubah pola konsumsi menjadi produk yang lebih murah.
Kelesuan ekonomi yang terjadi belakangan ini seakan berhenti sejenak saat berlangsung gelaran Pekan Raya Jakarta atau Jakarta Fair 2026. KOMPAS/RIZA FATHONI
Momentum ini terbangun dari sebuah gelaran expo perdagangan tahunan yang telah berlangsung sejak 1968 dan telah melalui sejarah panjang. (KOMPAS/RIZA FATHONI)
Jakarta Fair telah melalui transisi dari sekedar pasar malam menjadi pameran modern. (KOMPAS/RIZA FATHONI)
Serentetan tekanan ekonomi mengimpit masyarakat kelas menengah. Sehari setelah kenaikan suku bunga acuan, warga dihadapkan pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax yang melambung 32 persen mulai Rabu (10/6/2026).
Di tengah tantangan daya beli masyarakat dan ketidakpastian ekonomi global, pameran multiproduk terbesar se-Asia Tenggara ini menerapkan strategi klasik tetapi manjur untuk menstimulasi pasar, yaitu potongan harga dan promo bonus-bonus. Stan-stan dari produk apa pun mulai dari yang terkecil, seperti makanan ringan, hingga mobil dan sepeda motor berlomba-lomba menawarkan promosi semenarik mungkin bagi pengunjung untuk memanfaatkan momentum ini. Mereka berupaya menggebrak kelesuan masyarakat yang cenderung menahan untuk berbelanja saat berbagai kebutuhan semakin mahal.
Pembiayaan fleksibel juga menjadi bentuk stimulan yang digunakan para pedagang. Untuk barang-barang sekunder, seperti elektronik dan kendaraan, tersedia kemudahan skema cicilan atau pembiayaan di lokasi yang membantu konsumen mengelola anggaran dengan ketat tanpa mengganggu kebutuhan primer. Selain itu, penyelenggara juga menghadirkan tiket gratis untuk anak-anak dan juga warga lanjut usia (lansia).
Ajang ini diikuti 2.800 peserta dan 1.800 stan dengan komposisi 55 persen sektor swasta serta 45 persen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Penyelenggara acara optimistis transaksinya bisa lebih besar ketimbang tahun lalu. Perdagangan komoditas bernilai ratusan juta rupiah seperti mobil hingga pedagang kerak telur turut mengandalkan PRJ ini sebagai suplemen untuk mengakselerasi peningkatan transaksi.
Pramuniaga menawarkan produk saat sejumlah pengunjung mencoba kursi pijat elektronik. KOMPAS/RIZA FATHONI
Pemeran boneka hidup dibantu rekannya mengenakan bagian kepala boneka dalam gelaran Pekan Raya Jakarta (KOMPAS/RIZA FATHONI)
Pramuniaga menawarkan produk kepada pengunjung (KOMPAS/RIZA FATHONI)
Selain perputaran roda ekonomi dan perdagangan, PRJ juga turut menyerap ribuan tenaga kerja musiman dari sejak persiapan hingga pelaksanaan. Tenaga pemasaran atau pramuniaga menjadi ujung tombak gelaran ini. Sejak pintu dibuka hingga transaksi terakhir, stamina mereka diuji untuk terus meningkatkan penjualan selama lebih dari sebulan penyelenggaraan PRJ.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, sejumlah artis papan atas juga siap menghibur pengunjung meski mereka harus membayar ekstra untuk menonton konser-konser musik tersebut. Jakarta Fair Kemayoran 2026 membidik transaksi sekitar Rp 8 triliun meski kondisi serba belum pasti. Target itu dipatok seiring dengan durasi penyelenggaraan kembali menjadi 32 hari dan proyeksi jumlah pengunjung yang menembus 6 juta orang.
Tahun ini, Jakarta Fair Kemayoran akan berlangsung selama 32 hari, mulai 11 Juni sampai 12 Juli 2026. Guna mempermudah akses pengunjung, Transjakarta akan menyiapkan rute khusus selama acara berlangsung, yakni PRJ 1 Kampung Melayu-JIExpo, PRJ 2 Pulo Gadung-JIExpo, 2C Balai Kota-JIExpo, dan 1W Blok M-Ancol. Tantangan bagi penyelenggaraan PRJ tahun ini untuk memenuhi target transaksi dan pengunjung akan terlihat secara nyata seiring waktu hingga penyelenggaraan rampung.





