Beberapa hal yang bisa dipelajari dari artikel ini, sebagai berikut:
- Apa itu tinjauan aksesibilitas pasar MSCI?
- Bagaimana isi tinjauan MSCI itu terkait pasar saham Indonesia?
- Bagaimana membaca tinjauan MSCI tersebut?
- Apakah pasar saham Indonesia turun kelas?
- Bagaimana tanggapan OJK?
- Bagaimana dampak tinjauan MSCI terhadap pasar saham RI?
MSCI Global Market Accessibility Review adalah laporan tahunan yang menilai tingkat aksesibilitas pasar saham global berdasarkan masukan investor institusional. Laporan ini dirancang untuk mendorong otoritas pasar melakukan perbaikan sesuai standar internasional.
Tahun ini, laporan tersebut dirilis pada Jumat (19/6/2026) dini hari WIB. Laporan berisi 77 halaman tersebut isinya mengumumkan penilaian MSCI terhadap seluruh pasar saham dunia, termasuk indeks-indeks MSCI.
Laporan lembaga penyedia indeks global paling berpengaruh ini menganalisis perkembangan akses pasar saham di masing-masing kelas, yakni Developed, Emerging, Frontier, dan Standalone Markets, pada 2025 dan 2026.
Penilaian menggunakan 18 indikator yang berfokus pada lima kriteria utama, yaitu keterbukaan bagi kepemilikan asing, kemudahan arus modal, efisiensi operasional, ketersediaan instrumen investasi, dan stabilitas institusional.
Kriteria itu mencerminkan aspek penting seperti kesetaraan investor, kelancaran aliran modal, biaya investasi, serta risiko spesifik pasar.
MSCI Global Market Accessibility Review bersifat kualitatif dan terpisah dari Annual Market Classification Review yang akan dirilis pada 24 Juni 2026 WIB.
Salah satu indikator penilaian terhadap pasar saham Indonesia yang mendapatkan penurunan nilai terjadi pada aspek Information Flow. Untuk kriteria ini, MSCI merevisi penilaian dari plus ke minus dibandingkan tahun lalu.
Penurunan penilaian dipicu oleh empat hal, yakni terbatasnya transparansi struktur kepemilikan saham (shareholding structures), informasi pasar dan perusahaan yang tidak selalu tersedia dalam bahasa Inggris.
Kemudian, isu seputar kualitas free float (saham publik) dan aspek investabilitas pada sejumlah saham tertentu.
Selain itu, ada indikasi perilaku perdagangan terkoordinasi (coordinated trading) yang dinilai merusak proses pembentukan harga wajar di pasar (price formation) dan membatasi kemampuan investor institusi global untuk menilai flee float yang sebenarnya.
Meski MSCI menurunkan penilaian pada satu kriteria, yakni Information Flow, secara umum Indonesia masih dianggap sebagai salah satu pasar terbaik di emerging market Asia. Hanya China dan Malaysia yang secara umum lebih lengkap dibandingkan Indonesia.
Menurut Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata, poin mengenai perdagangan terkoordinasi menjadi sinyal kuat bahwa MSCI kini tidak hanya berfokus pada standar keterbukaan informasi. Ini juga menunjukkan peningkatan pengawasan terhadap transparansi, kualitas free float, dan integritas pembentukan harga secara keseluruhan.
Isu ini sejalan dengan kondisi pasar belakangan ini, di mana beberapa pergerakan harga saham dianggap mulai terputus dari fundamentalnya. Ditambah lagi masih ada tanda tanya mengenai pemilik pengendali akhir (ultimate controlling shareholders) di beberapa emiten.
Dalam laporannya, analis Mirae Asset Sekuritas, Wilbert Arifin, mengatakan, tinjauan MSCI tidak memberikan kejutan negatif yang sistemik. Terkait reformasi transparansi, hal ini sebenarnya sudah mulai berjalan dan diantisipasi sejak Januari lalu sehingga hasil tinjauan MSCI ini tidak memberikan kejutan negatif yang sistemik.
Ketakutan kalangan pelaku pasar bahwa MSCI akan menurunkan kelas pasar saham Indonesia dari Emerging Market ke Frontier Market sempat muncul setelah bobot Indonesia di indeks MSCI merosot tajam dari 1,16 persen pada 2025 menjadi 0,45 persen sepanjang tahun berjalan 2026.
Akan tetapi, MSCI Global Market Accessibility Review yang dikeluarkan pada 19 Juni ini tidak menyinggung soal kualifikasi kelas pasar saham. Laporan mengenai hal itu baru akan muncul pada Annual Market Classification Review yang akan dirilis pekan ini, yakni pada 24 Juni 2026 WIB.
Sejumlah analis pasar optimistis Indonesia masih akan bertahan di kelas Emerging Market. Analis Sinarmas Sekuritas yakin, posisi Indonesia aman di kelas Emerging Market sebab Indonesia berhasil terhindar dari Review Watch List MSCI untuk penurunan kelas (downgrade) ke Frontier Market.
Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas, Wilbert Arifin, memproyeksikan ulasan klasifikasi final pada 24 Juni mendatang akan mengonfirmasi posisi Indonesia tetap di Emerging Market.
Proyeksi optimistis itu didasari oleh hasil penilaian MSCI yang menunjukkan, dari 18 indikator penilaian, hanya satu aspek yang bergeser.
”Skor Indonesia dalam hal kepemilikan asing bahkan berada di atas China dan India. Ditambah lagi, syarat ukuran pasar dan likuiditas minimal hanya membutuhkan satu saham yang lolos kualifikasi, sementara Indonesia saat ini memiliki 11 saham yang memenuhi kriteria,” tulis Wilbert.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, tinjauan Global Market Accessibility Review 2026 yang dirilis MSCI pada Jumat (19/6/2026) menunjukkan, mayoritas aspek aksesibilitas pasar Indonesia terjaga dan tidak berubah signifikan dibandingkan dengan tahun 2025. Walakin, masih ada catatan untuk perbaikan pasar modal ke depan.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menjelaskan, dari total 18 kriteria penilaian yang tersebar di lima segmen aksesibilitas pasar, mayoritas absolut atau sebanyak 10 kriteria sukses mempertahankan predikat tertinggi, yakni ”++” (double plus).
Nilai sempurna ini menandakan tata kelola pasar modal Indonesia telah sepenuhnya memenuhi praktik terbaik standar global tanpa catatan masalah.
Sementara itu, enam kriteria lainnya mendapatkan nilai ”+” (single plus) yang berarti berkinerja baik dengan ruang penyempurnaan yang terus berjalan.
Perubahan hanya terjadi pada satu kriteria, yaitu aliran informasi (information flow) di dalam segmen infrastruktur pasar, yang bergeser ke zona negatif (”-”).
Satu indikator lain yang juga mendapat catatan serupa adalah tingkat liberalisasi pasar valuta asing (foreign exchange market liberalization level).
”Kami memandang masukan tersebut sebagai bagian dari proses evaluasi yang konstruktif dan sejalan dengan agenda reformasi pasar modal yang saat ini sedang dijalankan bersama oleh OJK, Bursa Efek Indonesia, KSEI, KPEI, serta semua pelaku industri,” ujar Hasan.
Terkait dengan penurunan poin information flow yang di dalamnya menyoroti aspek transparansi kepemilikan saham serta indikasi perdagangan terkoordinasi, Hasan menegaskan, OJK bersama Self-Regulatory Organizations (SRO) tidak tinggal diam.
Sejak isu itu menjadi perhatian MSCI awal tahun ini, otoritas bursa telah membuat serangkaian inisiatif untuk memperkuat integritas pasar.
Penilaian terbaru dari MSCI yang keluar pada Jumat dini hari tidak membuahkan kinerja positif secara langsung ke pasar saham RI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi I, Jumat (19/6/2026), bahkan terkoreksi sebesar 45 poin atau melemah 0,73 persen ke level 6.127.
Akan tetapi, pada sesi penutupan, IHSG kembali menghijau di level 6.177 atau naik tipis 0,08 persen dari penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sinarmas Sekuritas dalam laporan hariannya menilai, rilis MSCI tidak banyak yang di luar ekspektasi pasar. Hal ini membuat sentimen pasar cenderung netral. Pelaku pasar melihat hasil tinjauan ini sebagai jalan tengah yang sebenarnya sudah diantisipasi oleh komunitas investasi sejak Januari lalu sehingga tidak menimbulkan efek kejutan yang negatif.
Sinarmas Sekuritas memproyeksikan pergerakan IHSG ke depan akan cenderung berkonsolidasi mendatar dalam rentang harian yang terbatas dan terukur. Volume perdagangan harian bursa diprediksi agak menurun karena sebagian pelaku pasar memilih bersikap menunggu dan melihat (wait and see).
IHSG diperkirakan bergerak dalam fase volatile range-bound, yakni pergerakan naik-turun yang dinamis dan cepat, tetapi tetap tertahan di dalam saluran harga tertentu tanpa adanya gejolak ekstrem.
Pilarmas Sekuritas mencatat, koreksi IHSG pada sesi pertama Jumat terjadi di tengah pelemahan mayoritas bursa regional Asia yang sedang dibayangi oleh sentimen makro global. Pasar global tengah mencerna dampak dimulainya implementasi perjanjian damai tentatif antara Amerika Serikat dan Iran yang menurunkan harga minyak dunia.
Selain itu, pasar modal mencerna sikap hawkish bank sentral AS (The Fed) yang memproyeksikan masih akan ada kenaikan suku bunga acuan pada sisa tahun ini.
Potensi kenaikan IHSG hari itu menjadi sangat terbatas, salah satunya akibat rilis sorotan tajam MSCI terhadap lemahnya visibilitas kepemilikan saham dan adanya indikasi perdagangan terkoordinasi.





