REPUBLIKA.CO.ID, Sejarah masuknya Islam di tanah Betawi menyimpan beragam versi yang hingga kini masih menjadi bahan kajian para sejarawan dan budayawan. Ada yang meyakini Islam mulai berkembang setelah penaklukan Sunda Kelapa oleh Fatahillah pada tahun 1527, namun ada pula yang menelusuri jejaknya lebih awal melalui dakwah Syekh Quro pada awal abad ke-15.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa proses Islamisasi Betawi berlangsung secara bertahap dan melibatkan banyak tokoh ulama yang mewarnai perjalanan sejarah Jakarta.
Baca Juga
Gelombang Protes Mahasiswa di Yogya Terus Bergulir, DPRD DIY Kini Jadi Sasaran Aksi
Wasiat Nabi kepada Abu Hurairah di Waktu Dhuha: Jangan Tinggalkan Empat Amalan Ini
Ini Dia Delapan Gejala Gangguan Ginjal pada Anak
Islam tidak hadir di tanah Betawi dalam satu peristiwa tunggal. Penyebarannya berlangsung selama berabad-abad melalui dakwah para ulama, pedagang, dan tokoh masyarakat yang datang dari berbagai daerah.
Setiap pendapat mengenai kapan Islam mulai masuk ke Betawi dan perkembangannya, berbeda-beda versinya. Pendapat yang umum, seperti yang dikutip Abdul Aziz, Islam masuk di tanah Betawi pada saat Fatahillah atau Fadhillah Khan menyerbu Sunda Kelapa untuk menghapuskan pendudukan Portugis, tepatnya pada tanggal 22 Juni 1527, dikutip dari buku Genealogi Intelektual Ulama Betawi yang ditulis Ustaz Rakhmad Zailani Kiki. .rec-desc {padding: 7px !important;} Versi lain datang dari budayawan Betawi, Ridwan Saidi yang menyatakan bahwa Islam masuk pertama kali di tanah Betawi berawal dari kedatangan Syekh Hasanuddin yang kemudian dikenal dengan nama Syekh Quro, seorang ulama yang berasal dari Kamboja pada tahun 1409. Dari sinilah fase perkembangan Islam dan sejarah keulamaan di tanah Betawi terbentuk sebagai berikut. Pertama, fase awal penyebaran Islam di Betawi dan sekitarnya (tahun 1418-1527). Disebarkan oleh Syekh Quro, Kian Santang, Pangeran Syarif Lubang Buaya, Pangeran Papak, Dato Tanjung Kait, Kumpi Dato Depok, Dato Tonggara dan Dato Ibrahim Condet, Dato Biru Rawa Bangke.