Otoritas Iran dilaporkan telah menutup kembali Selat Hormuz akibat serangan Israel di Lebanon selatan. Penutupan Selat Hormuz ini terjadi seiring dimulainya perundingan antara Iran dan Amerika Serikat di Swiss setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk menyelesaikan perang kedua negara.
Kantor berita Iran, Tasnim yang mengutip sumber pejabat Iran yang familiar dengan tim negosiasi AS-Iran tersebut, melaporkan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama gencatan senjata di Lebanon tidak dihormati.
Dilansir kantor berita Reuters dan Al Arabiya, Senin (22/6/2026), sumber tersebut mengatakan jalur air vital dunia itu juga akan tetap ditutup, sampai izin yang memungkinkan penjualan minyak Iran dikeluarkan.
Senada dengan itu, kantor berita Iran lainnya, Fars, yang mengutip sumber militer, melaporkan bahwa Selat Hormuz tetap ditutup dan Angkatan Laut Garda Revolusi belum mengeluarkan izin bagi kapal mana pun untuk melintas sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati gencatan senjata 60 hari untuk negosiasi kesepakatan perdamaian. Namun, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada hari Sabtu lalu menyatakan Selat Hormuz ditutup sebagai tanggapan terhadap serangan Israel di Lebanon, yang dianggap melanggar kesepakatan Iran dan AS untuk mengakhiri perang.
Militer AS membantah klaim tersebut, dengan mengatakan bahwa "lalu lintas tetap berjalan."
Sementara itu, seorang pejabat AS mengatakan bahwa Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon telah menyepakati gencatan senjata pada Jumat (19/6) lalu. Pengumuman ini muncul menyusul serangan udara bertubi-tubi oleh Israel di Lebanon selatan yang menewaskan 47 orang.
(ita/ita)





