CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan mulai menjalin komunikasi dengan sejumlah tokoh oposisi Israel di tengah meningkatnya perbedaan pandangan dengan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Laporan Channel 12 Israel pada Minggu (21/6) menyebut sejumlah pejabat di pemerintahan Presiden Donald Trump menilai pemerintahan Netanyahu berpotensi menghadapi perubahan politik dalam waktu mendatang. Situasi tersebut mendorong Washington membuka jalur komunikasi informal dengan beberapa figur oposisi utama.
Tokoh yang disebut dalam laporan tersebut antara lain Naftali Bennett, pemimpin Partai Together, serta Gadi Eisenkot yang memimpin Partai Yashar.
"Pemerintahan AS telah menyatakan keprihatinan terhadap kelompok garis keras dalam pemerintahan Netanyahu dan berupaya membangun basis dukungan publik baru menjelang pemilu," demikian laporan Channel 12.
Menurut laporan itu, kelompok oposisi Israel selama beberapa bulan terakhir berupaya memperkuat hubungan dengan pemerintahan AS. Namun, upaya tersebut disebut baru memperoleh respons terbatas dari sejumlah pejabat Amerika yang mengkritik kebijakan Netanyahu.
"Langkah Amerika bertujuan memanfaatkan peluang politik di tengah krisis kepercayaan terhadap pemerintah Israel saat ini," lanjut laporan tersebut.
Selain itu, AS disebut memandang perlu membangun "mekanisme kepercayaan informal baru" dengan Israel. Meski demikian, Presiden Trump dilaporkan belum secara terbuka memberikan dukungan kepada tokoh politik Israel selain Netanyahu.
Sinyal perubahan politik di Israel juga terlihat dari hasil survei yang dipublikasikan harian Maariv pada Jumat lalu. Jajak pendapat tersebut menunjukkan blok oposisi berpeluang membentuk pemerintahan apabila pemilu digelar saat ini.
Dalam survei tersebut, oposisi diperkirakan memperoleh 61 kursi parlemen, sementara koalisi pendukung Netanyahu hanya meraih 49 kursi. Adapun partai-partai Arab diproyeksikan mengamankan sekitar 10 kursi dalam pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang.
Laporan mengenai manuver politik AS muncul di tengah berlangsungnya perundingan antara AS dan Iran di Swiss yang dimediasi Pakistan. Pembicaraan itu bertujuan mengakhiri konflik militer yang dipicu serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada Februari lalu.
Kesepakatan sementara yang dibahas dalam perundingan tersebut mencakup penghentian permusuhan di seluruh front konflik, termasuk Lebanon. Namun, pemerintah Israel menolak menghubungkan isu Iran dengan situasi di Lebanon.
Netanyahu menegaskan Israel tidak akan menarik pasukannya dari wilayah yang diduduki di Lebanon selatan.
Sementara itu, data resmi pemerintah Lebanon menunjukkan serangan Israel sejak 2 Maret telah menyebabkan hampir 4.000 orang tewas dan lebih dari 12.000 lainnya mengalami luka-luka.




