JAKARTA, KOMPAS – Peluncuran buku Peradaban, Not Just Civilization karya Adhie M Masardi menghadirkan panggung pengadilan gagasan dengan format Mahkamah Intelektul di mana karya tersebut ditempatkan sebagai kasus yang diuji secara terbuka. Konsep Mahkamah Intelektual ini dapat menjadi cara baru dalam membedah buku.
Buku Peradaban, Not Just Civilization merupakan karya Adhie M Masardi, seorang Tenaga Ahli bidang Kebudayaan dan Demokrasi Kementerian Hak Asasi Manusia yang juga mantan juru bicara Presiden Ri ke-4 Abdurrahman Wahid. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas dan diluncurkan dalam acara di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin (22/6/2026).
Bedah buku Peradaban, Not Just Civilization: Risalah Peradaban untuk Dunia yang Kehilangan Makna ini diselenggarakan dalam format baru bernama Mahkamah Intelektual. Jadi, acara ini tidak diselenggarakan seperti pada bedah buku secara umum berupa presentasi isi buku, komentar dari para pembicara, serta sesi tanya jawab dengan audiens
Format Mahkamah Intelektual lebih berfokus pada pembahasan isi teks dan belum menjadikan gagasan yang terkandung di dalam buku sebagai objek yang diuji dan diperdebatkan secara terbuka. Dengan kata lain, format ini menjadikan buku sebagai dakwaan, gagasan sebagai terdakwa, dan forum sebagai ruang sidang.
Dalam format ini terdapat juga dakwaan, saksi intelektual, hakim yang menimbang, serta putusan berupa rekomendasi. Penulis bertindak sebagai Jaksa Penuntut Intelektual, sedangkan para pembicara utama berperan sebagai Majelis Hakim Intelektual. Format ini pun dipandang lebih dramatik, interaktif, dan memberi bobot filosofis.
Tiga tokoh yang bertindak sebagai Majelis Hakim Intelektual yakni akademisi dan Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, cendekiawan kebangsaan Yudi Latif, dan budayawan Mohamad Sobary. Hadir juga Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) periode 2015-2017 Gatot Nurmantyo yang berperan sebagai saksi ahli intelektual.
Format Mahkamah Intelektual dalam bedah buku bertujuan agar setiap gagasan dapat diuji secara terbuka.
Buku Peradaban, Not Just Civilization diposisikan sebagai dakwaan intelektual terhadap konsep Civilization yang dianggap terlalu kecil untuk mengukur kehidupan umat manusia. Para pihak yang turut tergugat adalah Ibnu Khaldun, Arnold Toynbee, Oswald Spengler, Samuel Huntington dan para sosiolog yang mengembangkan konsep Civilization.
Adhie sebagai penggagas menyampaikan, format Mahkamah Intelektual dalam bedah buku bertujuan agar setiap gagasan dapat diuji secara terbuka. Dengan begitu, tidak ada lagi ilmu yang dipakai sebagai legitimasi kekuasaan atau pembungkaman penguasa atas kebebasan akademik, melainkan sebagai rekomendasi untuk menjaga hak asasi dan martabat manusia.
“Civilization adalah ukuran teknis yang mengecilkan martabat manusia. Hal ini karena peradaban sejati lahir dari transendensi dan adab,” ujar Adhie menjelaskan inti gugatannya.
Menurut Adhie, Mahkamah Intelektual dirancang untuk menghidupkan gagasan dan melahirkan rekomendasi. Melalui forum ini, kritik terhadap sebuah pemikiran tidak berhenti pada identifikasi kelemahan, melainkan diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi dan arah pemanfaatan gagasan bagi masyarakat.
Selain itu, forum tersebut diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif sebagai laboratorium peradaban yang mempertemukan perspektif budaya, filsafat, kebangsaan, dan spiritualitas. Audiens pun tidak hanya berperan sebagai penonton, tetapi juga tampil sebagai saksi intelektual yang menguatkan dakwaan sebelum hakim memberi putusan.
Adhie menilai peradaban dibangun di atas tiga fondasi utama, yakni etika, norma, dan kejujuran. Menurut dia, ketika kejujuran ditinggalkan dan kebohongan justru menjadi bahasa kekuasaan, maka peradaban akan kehilangan pijakannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk kembali menempatkan nilai-nilai peradaban sebagai landasan kehidupan bersama. Dalam pandangannya, peradaban yang sehat harus bertumpu pada prinsip kesetaraan di hadapan hukum (equality before law), kesetaraan di hadapan Tuhan (equality before God), serta kesetaraan di antara sesama manusia.
Adhie mengatakan, peradaban baru harus dimulai dengan keterbukaan dan keberanian untuk memperdebatkan berbagai gagasan di ruang publik. Dengan dasar inilah maka tidak boleh ada lagi pemikiran atau gagasan yang dikubur secara sepihak oleh kekuasaan tanpa kesempatan untuk diuji dan didiskusikan secara terbuka.
Peradaban baru harus dimulai dengan keterbukaan dan keberanian untuk memperdebatkan berbagai gagasan di ruang publik.
Di sisi lain, Adhie juga mengingatkan bahwa gagasan yang tidak pernah dibicarakan atau diperdebatkan oleh masyarakat tidak seharusnya langsung menjadi dasar kebijakan pemerintah. Setiap pemikiran yang akan melahirkan kebijakan publik harus terlebih dahulu melalui proses perdebatan, karena kebenaran tidak dapat dipercepat dan harus menemukan jalannya sendiri melalui proses yang terbuka.
Gatot Nurmantyo menilai, buku Peradaban, Not Just Civilization menawarkan cara pandang yang berbeda karena tidak menempatkan adab hanya pada tataran etika permukaan. Namun, penulis memaknai adab sebagai kesadaran moral transendental yang menempatkan manusia dalam hubungan dengan nilai-nilai yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Gatot menyatakan, adab tidak sekadar diwujudkan dalam ungkapan sopan santun seperti mengucapkan permisi atau terima kasih. Lebih dari itu, adab merupakan kesadaran bahwa manusia tidak hidup di ruang hampa dan harus bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial maupun moral yang mengitarinya.
Ia memandang buku tersebut berupaya menjembatani berbagai bidang pengetahuan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Filsafat berbicara tentang akal, agama tentang wahyu, seni tentang rasa, hukum tentang norma, dan teknologi tentang fungsi, namun seluruhnya dipersatukan oleh adab sebagai kompas bersama.
Buku ini pun bukan sekadar kritik terhadap kondisi masyarakat saat ini, melainkan sebuah manifesto etis yang mengajak semua kalangan untuk melakukan refleksi. Pesan utama buku tersebut adalah mengajak politisi, birokrat, insinyur, hingga ibu rumah tangga untuk bersama-sama merawat dan membangun peradaban yang berlandaskan adab.
Yudi Latif menilai salah satu kekuatan utama buku Peradaban, Not Just Civilization terletak pada keberanian penulis melakukan perenungan secara mandiri. Adhie sebagai penulis buku ini dipandang memiliki kecerdasan intuitif yang membuatnya peka terhadap berbagai persoalan mendasar dalam kehidupan masyarakat modern.
Yudi mengatakan, kehidupan akan menjadi rapuh ketika pembangunan terlalu menekankan dimensi material, sementara dimensi hati dan moral dikesampingkan. Ia meyakini gagasan yang dituangkan dalam buku tersebut lahir dari refleksi mendalam atas kondisi sosial yang berkembang saat ini.
Menurut Yudi, pemikiran yang dikemukakan Adhie memiliki keterkaitan dengan kritik para pemikir besar dunia terhadap kecenderungan materialisme dan krisis moral dalam peradaban modern. Oleh karena itu, gagasan yang ditawarkan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari perdebatan intelektual yang lebih luas di tingkat global.
Ia menambahkan, konsep civilization tidak selalu identik dengan kemajuan sebagaimana dipahami selama ini. Di tengah pertumbuhan gedung-gedung tinggi dan kota-kota modern, manusia justru berisiko kehilangan kealamiahan dirinya, terjebak dalam pencitraan, obsesi terhadap status, serta kehidupan yang semakin jauh dari kebebasan yang sejati.





