Purbaya Klaim Ekonomi Riil Kuat: Tidak Seburuk yang Diperkirakan di Medsos

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan perekonomian nasional tidak seburuk yang disuarakan di media sosial (medsos), karena aktivitas sektor riil hingga konsumsi domestik diklaim masih tumbuh dengan kuat.

Purbaya mengatakan, meskipun ada gejolak ekonomi global yang menekan seluruh negara, kinerja ekonomi Indonesia masih lebih baik dibanding beberapa negara setara, terlihat dari pertumbuhan yang kuat dan inflasi yang masih relatif terkendali.

Pada kuartal I 2026, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,61 persen dan inflasi mencapai 3,08 persen pada Mei 2026. Sementara neraca perdagangan surplus selama 72 bulan berturut-turut hingga April 2026, dan cadangan devisa memadai setara 5,6 bulan impor.

Selain itu, penyaluran kredit perbankan tumbuh double digit dengan likuiditas yang sangat memadai. Pada Mei 2026, pertumbuhan kredit mencapai hampir 12 persen. Dengan begitu, Purbaya menekankan bahwa aktivitas ekonomi masih berjalan dengan baik.

"Pertumbuhan ekonomi yang kuat, daya beli yang kuat, ini menunjukkan memang ada betul-betul perbaikan di perekonomian," tegasnya saat Rapat Kerja Komite IV DPD RI, Senin (22/6).

Purbaya melanjutkan, kinerja sektor manufaktur juga masih dalam zona ekspansi, demikian pula dengan aktivitas ekonomi domestik dan daya beli masyarakat yang terus menunjukkan tren perbaikan, tercermin dari Mandiri Spending Index sebesar 123,2 dan terus meningkat dari bulan ke bulan.

Selanjutnya, perbaikan ekonomi pada sektor riil terlihat dari total penjualan listrik hingga penjualan kendaraan bermotor yang naik pada April 2026. Dia menyebutkan, penjualan motor dan mobil naik setelah lebaran 2026 masing-masing 28 persen dan 55 persen.

Kemudian, konsumsi semen domestik pada April juga tumbuh 35,6 persen. Angka tersebut, kata Purbaya, biasanya digunakan untuk melihat perkembangan aktivitas investasi dan manufaktur yang mulai meningkat kembali.

Dengan demikian, Purbaya optimistis pertumbuhan ekonomi tidak akan jatuh terlalu tajam pada kuartal II 2026. Pasalnya, menurut dia, kondisi perekonomian tidak hanya terlihat dari Produk Domestik Bruto (PDB), namun juga dari elemen lain yang lebih detail, baik itu dari sektor industri maupun perbankan.

"Artinya memang ada aktivitas riil di perekonomian yang mungkin luput dari pengawasan atau pengamatan kalangan-kalangan yang memang pengin dibilang jelek aja," tegasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dari Pajak hingga Bansos: GovTech Berbasis AI Mulai Berjalan
• 7 jam lalukatadata.co.id
thumb
Investor Patriot Bond & Merah Putih Bond Bebas Risiko Pajak, Ini Aturannya
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Krisis Ruang Terbuka di Jakarta, Liga Akamsi Jadi Solusi Sementara Anak-anak Tambora
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Pengakuan Harto Maling Motor Milik Anggota Kopassus di Cakung: Sudah Beraksi 5 Kali
• 19 jam laluviva.co.id
thumb
Revisi UU Hak Cipta: Antara Perlindungan Kreator dan Ancaman Pembatasan Kebebasan Berekspresi
• 2 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.