TABLOIDBINTANG.COM - Anda sudah membeli produk perawatan rambut yang tidak murah. Namun setiap kali selesai keramas, masih saja terlihat segumpal rambut rontok di saluran air kamar mandi.
Situasi ini terdengar familiar bagi banyak orang. Sangat menjengkelkan, tentu saja. Namun sebelum kembali membeli suplemen atau produk perawatan lain, ada baiknya mengevaluasi kembali kebiasaan harian dalam merawat rambut.
Pasalnya, penyebab utama kerontokan rambut berlebih sering kali bukan faktor genetik atau pola makan, melainkan kebiasaan perawatan rambut yang terlihat sepele namun berdampak besar pada kesehatan kulit kepala.
Berikut empat kebiasaan yang tampak tidak berbahaya, tetapi bisa menjadi pemicu rambut rontok tanpa disadari.
1. Gaya “clean girl bun” yang terlalu kencang bisa merusak garis rambut
Tatanan rambut seperti sleek ponytail atau top knot memang terlihat rapi dan praktis, apalagi untuk menyamarkan rambut lepek. Namun, gaya ini memberi tekanan besar pada akar rambut.
Jika dilakukan terlalu sering, tarikan konstan pada folikel rambut dapat menyebabkan kondisi yang disebut traction alopecia, yaitu kerontokan akibat trauma fisik berulang.
Gejalanya bisa terlihat dari rambut halus yang patah di sekitar pelipis atau garis rambut yang mulai menipis.
Solusinya, beri jeda pada rambut dengan mengganti gaya kencang ke model yang lebih longgar. Selain itu, gunakan ikat rambut berbahan lembut seperti silk scrunchie untuk mengurangi gesekan.
2. Terlalu lama menunda jadwal keramas
Salah satu tren yang sering beredar adalah “melatih” rambut agar tidak sering dicuci. Namun, menunda keramas terlalu lama justru bisa berdampak buruk, terutama bagi mereka yang aktif atau tinggal di lingkungan perkotaan.
Penumpukan sebum, keringat, debu, sel kulit mati, hingga dry shampoo dapat membentuk lapisan yang menutupi kulit kepala. Kondisi ini berpotensi menyumbat folikel dan memicu peradangan.
Jika kulit kepala terasa gatal, berminyak berlebihan, atau berketombe, itu adalah sinyal biologis yang tidak boleh diabaikan.
Para ahli umumnya menyarankan keramas sekitar 2–3 kali seminggu sebagai frekuensi ideal.
3. Memperlakukan rambut basah dengan kasar
Rambut berada dalam kondisi paling rapuh saat basah. Lapisan pelindung luar rambut (cuticle) akan terbuka, sehingga lebih mudah rusak.
Menggosok rambut dengan handuk berbahan kasar atau menyisirnya secara agresif saat masih basah dapat menyebabkan patah dan ujung bercabang.
Sebagai gantinya, cukup tekan lembut rambut dengan handuk microfiber atau kaus katun untuk menyerap air. Saat menyisir, gunakan sisir bergigi jarang dan mulai dari ujung rambut secara perlahan ke atas.
Penelitian dalam International Journal of Cosmetic Science (2022) juga menunjukkan bahwa rambut basah lebih rentan mengalami penurunan kekuatan struktur dibandingkan rambut kering.
4. Menggunakan alat styling panas pada rambut yang masih lembap
Menggunakan catokan atau curly wand pada rambut yang belum benar-benar kering adalah kesalahan umum. Suara “mendesis” yang muncul sebenarnya adalah air di dalam batang rambut yang mendidih.
Proses ini dapat menyebabkan terbentuknya bubble hair, yaitu kerusakan mikro pada kutikula rambut akibat panas ekstrem. Akibatnya, rambut menjadi rapuh dan mudah patah.
Pastikan rambut sudah kering setidaknya 80 persen sebelum menggunakan alat panas. Selalu gunakan pelindung panas (heat protectant) untuk meminimalkan kerusakan.




