JAKARTA, KOMPAS – Maskapai penerbangan asal Malaysia, AirAsia telah menurunkan harga tiket pesawatnya sekitar 5 persen, menyusul rencana kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Jika kondisi terus kondusif, normalisasi harga akan berlanjut seiring penyusutan harga minyak dunia.
Permintaan penerbangan yang masih tergolong sehat selama ketegangan geopolitik berlangsung juga menjadi pertimbangan.
Ketegangan geopolitik yang mereda antara Amerika Serikat-Israel dan Iran, direspons positif maskapai penerbangan AirAsia. Sepanjang enam bulan terakhir, maskapai asal Malaysia ini masih memiliki iklim penerbangan yang mendukung, meski harga minyak dunia sempat melonjak.
Merujuk data Trading Economics, harga minyak mentah dunia sempat menyentuh 113 dolar AS per barel pada 7 April 2026. Harganya masih berfluktuasi dengan tren yang cenderung menurun hingga ke 75 dolar AS per barel pada 22 Juni 2026. Sebelum perang pecah pada akhir Februari 2026, harga minyak berkisar pada 50-60 dolar AS per barel.
Walau harga minyak global belum sepenuhnya turun kembali ke harga normal, permintaan penerbangan AirAsia masih tumbuh positif. Tingkat okupansi pesawat masih dalam situasi yang memadai.
“Kami telah menurunkan harga tiket 5 persen pada 15 Juni 2026. Kami secara perlahan meninjau terus perkembangan dinamika dari pekan ke pekan. Seiring turunnya harga minyak, kami akan merevisi harga tiket. Saya harap akan berjalan seperti ini karena permintaan lintas kawasannya baik,” tutur Group CEO AirAsia Group, Bo Lingam, dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring dari Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (22/6/2026).
Dalam konferensi pers itu, hadir pula sejumlah pejabat lain. Dua di antaranya adalah Deputy Group CEO AirAsia Farouk Kamal serta Group Chief Operations Officer AirAsia Group Capt. Suresh Bangah.
Permintaan yang berangsur-angsur normal diikuti dengan kapasitas yang turut dikembalikan perlahan oleh AirAsia. Rute-rute dan frekuensi penerbangan yang dipangkas selama tiga bulan terakhir karena kondisi geopolitik ini, akan dikembalikan secara bertahap.
“Kami meninjau ulang dan melihat bahwa kami perlu menggeser permintaan. Saat kami melihat pada biaya-biaya yang dikeluarkan, kami akan menegosiasi ulang dengan vendor-vendor yang ada. Kami lihat ulang bagaimana kami dapat merestrukturisasi kontrak-kontrak yang sedang berjalan,” ujar Bo.
Selama efisiensi tiga bulan terakhir, AirAsia memangkas beberapa kapasitas penerbangan. Sebab, harga bahan bakar pesawat atau avtur melambung di atas harga sebelumnya.
Pada penerbangan dari Malaysia, misalnya, ketika pergi ke negara lain yang tidak memasok bahan bakarnya sendiri, seperti China, maka maskapai akan kesulitan untuk menutup kerugian karena tingginya harga avtur. Meski okupansi penerbangan penuh, bahkan saat harga tiket dinaikkan dua kali lipat pun, upaya itu belum dapat menutup kerugian yang ada.
“Jadi, Anda lebih baik menundanya hingga harga bahan bakar kembali stabil,” ucap Bo.
Meski demikian, ia menilai, tingkat okupansi atau keterisian pesawat AirAsia masih tergolong baik dan sehat walau perang Teluk terjadi. Sepanjang Januari-Mei 2026, okupansinya mencapai 83 persen.
Saat bersamaan, sejumlah penumpang AirAsia mengeluh karena beberapa perjalanan langsung mengalami perubahan rute. Komplain yang disampaikan melalui media sosial ini menunjukkan bahwa rute-rute favorit, seperti penerbangan Jakarta-Singapura dan Jakarta-Bangkok (Thailand) dihapuskan. Imbasnya, mereka harus transit ke Kuala Lumpur, Malaysia sebelum ke tujuan akhir.
Bo mengemukakan, keputusan itu merupakan bagian dari optimalisasi jaringan. Kemudian, retribusi bandara atau airport tax mencapai 72 dolar AS per penumpang. Angka itu dianggap terlalu tinggi. Hal serupa juga terjadi di Thailand.
“Hal itu sungguh tidak masuk akal. Kami sudah berbicara pada pihak Bandara Changi (Singapura) berkali-kali. Dan Anda tahu, perjalanan itu tidak memungkinkan untuk dilanjutkan dengan menetapkan harga tiket Jakarta-Singapura di mana airport tax lebih tinggi dari harga tiketnya,” kata Bo.
Untuk rute-rute lain yang dibatalkan, ia melanjutkan, hal itu ditengari karena permintaan yang menyusut sebagai imbas perang. Jika kondisi terus membaik, maka pada triwulan III-2026, AirAsia dapat mulai kembali normal. Kecuali pada rute-rute merugi, tanpa permintaan, penerbangan tentu tak akan berlanjut.
“Selalu diingat bahwa 10 persen rute AirAsia merupakan rute-rute eksplorasi untuk diuji coba, apakah jalur tersebut efektif dan menciptakan permintaan baru atau sebaliknya. Jika tidak berjalan setelah 3-6 bulan, kami akan memangkasnya. Hal itu berlaku pula pada cara kami mengoptimalisasi jaringan kami,” tutur Bo.
Secara terpisah, Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (Apjapi) Alvin Lie mengatakan, retribusi bandara, termasuk yang dikenakan Singapura merupakan pembiayaan pelayanan. Selain itu, retribusi itu juga bentuk pengembalian investasi pengembangan kapasitas dan fasilitas bandara yang terus berlanjut.
Demikian juga Thailand yang membutuhkan pendanaan untuk pengembangan masif pada enam bandara utamanya. Pengembangan yang direncanakan termasuk terminal selatan Bandara Suvarnabhumi, Bangkok senilai 5,7 miliar dolar AS. Upaya ini merupakan strategi meningkatkan kapasitas dan modernisasi bandara dengan mengurangi ketergantungan pada utang.
“Singapura dan Thailand berani menerapkan kebijakan ini karena daya tarik negaranya cukup kuat untuk tidak menurunkan minat pelaku perjalanan ke Singapura. Perhatikan, biaya ini hanya berlaku terhadap penerbangan keluar/berangkat dari kedua negara. Biaya datang ke kedua negara itu tidak berubah,” tutur Alvin.
Alvin berpendapat, AirAsia yang memutuskan transit di Kuala Lumpur malah justru meningkatkan biaya penerbangan karena durasi perjalanan lebih lama dan melanjutkan penerbangan berikutnya. Penerbangan ke Singapura dan Bangkok tidak dikenai biaya tambahan, tetapi justru penerbangan dari kedua kota itu dikenai biaya, baik secara langsung maupun lanjutan (connecting).
Meski transit di Kuala Lumpur yang diklaim lebih efisien pun, bandara tersebut tetap menerapkan biaya transit yang harus ditanggung.
Sebelumnya, AS dan Iran telah mencapai kesepakatan sementara untuk membuka Selat Hormuz. Kesepakatan itu juga menunda perang yang telah membunuh ribuan orang dan membuka jalan negosiasi terhadap nasib program nuklir Teheran.
Para perwakilan dari kedua negara akan bertemu di Swiss pada Jumat (19/6/2026) untuk menandatangani kesepakatan tersebut secara resmi. Namun, sejumlah aspek kesepakatan masih belum tuntas. Poin-poin perjanjian juga belum dirilis resmi.
Pengumuman kesepakatan sementara antara AS dan Iran dibeberkan pertama oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, lantas diikuti Presiden AS Donald Trump dan media resmi Iran. Pemerintah Iran menyebut, naskah mengenai kesepakatan ini akan dirilis setelah perjanjian ditandatangani.
Dalam perjalanannya, perundingan damai itu terhambat karena Presiden AS Donald Trump mengancam Iran untuk menghentikan proksinya yang dibayar mahal di Lebanon. Jika tidak dilakukan, AS akan menyerang Iran dengan lebih keras. Saat bersamaan, serangan Israel ke Lebanon juga masih berlanjut (Kompas.id, 22/6/2026).
Merujuk data Kayak, pencarian terkait penerbangan menunjukkan bahwa tiket pesawat domestik rata-rata naik sekitar 8 persen sejak perang dimulai. Rata-rata harga tiket internasional naik hingga 18 persen. Maskapai-maskapai AS, misalnya, telah menaikkan biaya tas atau bawaan penumpang hingga 40-50 dolar AS per tas untuk satu kali perjalanan.
“Kami dan para kompetitor fokus pada produksi hasil yang terukur, stabil, margin yang berkelanjutan, sehingga saya pikir bahwa alasan itu membuat kami tidak akan mengembalikan sebagian harga yang sudah naik ini,” ujar CEO Southwest Bob Jordan dalam laporan Business Insider.
Analis di Raymond James, Savanthi Sath mengemukakan, harga tiket pesawat tidak serta-merta akan turun di tengah penurunan harga minyak global menyusul kesepakatan damai antara AS dan Iran. Demi mencapai harga tiket turun, maka suplai/pasokan harus naik atau permintaan perlu sedikit menurun.
Namun, hal itu akan sulit terjadi karena harga minyak masih 50 persen lebih tinggi dibandingkan harga tahun lalu dalam periode yang sama. Harga minyak yang berfluktuasi diperkirakan bakal berlanjut meski AS dan Iran sudah bersepakat.
“Kapasitas untuk Agustus tampaknya sudah difinalisasi sekarang, sehingga peluang merasa percaya diri untuk menambah lagi kapasitasnya (atau setidaknya kembali seperti rencana awal) akan terjadi paling cepat pada triwulan IV-2026,” ujar Sath.





