PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) resmi mengantongi restu pemegang saham terkait perubahan kegiatan usaha hingga private placement.
IDXChannel - PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) resmi mengantongi restu pemegang saham terkait perubahan kegiatan usaha hingga aksi korporasi Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) alias private placement, sejalan dengan rencana perseroan mengakuisisi aset entitas afiliasi.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dilaksanakan pada Senin (22/2026), pemegang saham menyetujui perubahan kegiatan usaha utama GPSO semula fokus pada perdagangan besar mesin alat ukur, survei pemetaan, dan aktivitas profesional lainnya, kini merambah ke industri komponen mekanikal dan real estat nonhunian. Sementara kode Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) baru yang akan diadopsi yakni KBLI 46591 dan KBLI 68129.
Direktur Utama PT Geoprima Solusi Tbk, Dionysius Tjokro mengatakan, bahwa perubahan haluan bisnis ini merupakan bagian dari konsolidasi komprehensif setelah masuknya PT PIMSF Pulogadung (PIMSF) sebagai pemegang saham pengendali baru menggantikan Karnadi Margaka.
"Perseroan kedepannya akan membawa kegiatan usaha yang baru di bidang perdagangan komponen mekanikal. Hal ini dilakukan untuk memperkuat struktur perusahaan dengan bersinergi dengan Tjokro Group serta memperkuat permodalan untuk memenangkan persaingan di industri saat ini yang semakin ketat baik domestik maupun global," ujar Dionysius.
Melalui sinergi ini, kata dia, GPSO ditargetkan mampu mengamankan seluruh rantai pasok (supply chain) industri solusi komponen mekanikal dari hulu (upstream) hingga ke hilir (downstream). Sinergi ini juga diharapkan mampu menciptakan penguasaan logistik dan rantai pasok yang terpadu agar menciptakan efisiensi dan nilai tambah kepada para pelanggan perseroan.
Sejalan dengan arah bisnis baru, pemegang saham juga menyetujui pembelian aset tetap milik PT Jakarta Indah Casting (JIC). GPSO membeli aset berupa tanah seluas 15.400 m², bangunan pabrik, serta mesin peralatan pendukung senilai Rp78,5 miliar yang terletak di Kawasan EJIP (East Jakarta Industrial Park), Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Berdasarkan studi kelayakan bisnis yang disusun oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Edi Andesta & Rekan, proyeksi atas perubahan usaha dan pengelolaan aset ini sangat menjanjikan. Laba bersih GPSO diperkirakan melesat hingga 400 persen di tahun pertama, dengan potensi tambahan pendapatan setelah pajak berkisar antara Rp7,9-Rp33 miliar per tahun.
Parameter keuangan juga menunjukkan hasil yang sehat dengan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 38,29 persen dan Payback Period selama 5 tahun 10 bulan. Pada tahap awal operasional, aset tersebut akan kembali disewakan kepada JIC dengan nilai transaksi sewa mencapai Rp9,3 miliar demi menjaga keberlanjutan produksi fasilitas pabrik.
Guna membiayai sebagian pembelian aset dari JIC tersebut, RUPSLB juga resmi merestui rencana private placement. Perseroan akan menerbitkan saham baru dari dalam simpanan (portepel) sebanyak-banyaknya 10 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh, atau setara dengan 66.674.000 saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham.
Dengan diterbitkannya saham baru ini, pemegang saham publik akan mengalami efek dilusi kepemilikan saham yang terdiversifikasi sekitar 9,09 persen. Opsi private placement dinilai menjadi langkah pendanaan jangka pendek paling efisien secara waktu untuk merealisasikan rencana ekspansi strategis tersebut.
Untuk mata acara terakhir, RUPSLB menyetujui perubahan data GPSO terkait susunan pemegang saham pasca-pelaksanaan Penawaran Tender Wajib (Mandatory Tender Offer/MTO) oleh PT PIMSF Pulogadung. Berdasarkan Daftar Pemegang Saham (DPS) per 29 Mei 2026, peta kepemilikan saham GPSO secara resmi menjadi PT PIMSF Pulogadung (pengendali baru) memegang 246.369.600 saham dan masyarakat memegang 420.371.503 isaham.
(Rahmat Fiansyah)





