Chief Global Affairs Officer Times Higher Education (THE), Phil Baty, menyebut dunia saat ini menghadapi "krisis imajinasi”. Terutama dalam menghadapi perubahan iklim dan berbagai persoalan global lainnya.
Menurutnya, tantangan seperti krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, kemiskinan, hingga ketimpangan membutuhkan kemampuan manusia yang lebih kuat. Utamanya untuk mencari inovasi demi masa depan yang lebih baik dan menerjemahkannya menjadi tindakan nyata.
“Perubahan tidak dimulai dengan dunia sebagaimana adanya, tetapi dengan dunia sebagaimana seharusnya,” ujar Phil saat membuka Global Sustainable Development Congress (GSDC) di ICE BSD City, Tangerang, Senin 22 Juni 2026.
Baca juga: THE WUR 2026, UI 3 Kali Berturut-turut Tembus Peringkat 801-1.000 Dunia
Phil mengatakan perguruan tinggi memiliki posisi strategis. Karena kampus menjadi tempat berkumpulnya peneliti, pemimpin, tenaga pendidik, pengambil kebijakan, dan masyarakat sipil untuk menciptakan solusi.
Ia mencontohkan melalui THE Sustainability Impact Rankings 2026, lebih dari 1.600 universitas di dunia kini terlibat dalam upaya mengukur kontribusi kampus terhadap 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Apa yang dilakukan THE kata dia sebenarnya lebih dari sekadar pemeringkatan.
“Pemeringkatan ini bukan sekadar tentang janji, tetapi tentang hasil nyata. Bagaimana universitas berkontribusi melalui pendidikan, penelitian, operasional kampus, dan keterlibatan dengan masyarakat,” katanya. Pendidikan Jadi Kunci Transisi Ekonomi Hijau Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, Dominic Jermey, menilai transisi menuju ekonomi hijau membutuhkan sumber daya manusia dengan keterampilan baru. Menurutnya, ekonomi berkelanjutan tidak hanya membutuhkan ilmuwan dan insinyur yang mampu menciptakan teknologi baru, tetapi juga pembuat kebijakan dan wirausahawan yang mampu mengubah ide menjadi solusi.
“Untuk membangun ekonomi yang berkelanjutan, kita membutuhkan orang-orang dengan keterampilan yang tepat,” ujar Dominic.
Ia menjelaskan Inggris sendiri telah mendorong integrasi isu iklim dan keberlanjutan dalam sistem pendidikan. Termasuk melalui pengembangan keterampilan hijau dan dukungan terhadap riset serta inovasi.
Dominic menambahkan kolaborasi internasional menjadi faktor penting dalam menghadapi tantangan tersebut. Hubungan Indonesia dan Inggris, kata dia, memiliki contoh kerja sama dalam bidang pendidikan, iklim, dan pembangunan berkelanjutan.
“Transisi menuju masa depan yang berkelanjutan tidak akan diwujudkan oleh pemerintah saja, bisnis saja, atau akademisi saja. Hal ini akan diwujudkan melalui kolaborasi,” jelasnya. Kampus Jadi Mesin Pembangunan Berkelanjutan Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo Adypurnama Teguh Sambodo, mengatakan tantangan pembangunan saat ini semakin kompleks. Karena upaya pembangunan negara berkaitan langsung dengan kondisi lingkungan.
“Perubahan iklim bukan lagi sekadar masalah lingkungan jangka panjang. Ini telah berkembang menjadi tantangan pembangunan makroekonomi dan sosial,” kata Leonardo.
Menurutnya, dampak perubahan iklim kini berkaitan dengan ketahanan pangan, air, kesehatan masyarakat, hingga stabilitas ekonomi. Leonardo menegaskan pendidikan tinggi memiliki peran penting dalam menerjemahkan agenda global menjadi solusi nyata di tingkat lokal.
Ia menyebut sejumlah perguruan tinggi Indonesia telah berkontribusi dalam agenda keberlanjutan. Misalnya saja, Universitas Airlangga, IPB University, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Telkom melalui berbagai inovasi.
Selain itu, sebanyak 71 perguruan tinggi Indonesia tercatat masuk dalam Times Higher Education Impact Rankings. Universitas Airlangga pun tercatat berhasil masuk jajaran sepuluh besar dunia untuk kontribusi terhadap SDGs.
Baca juga:
THE WUR 2026, Cuma 1 Universitas di Indonesia Masuk Top Kampus 1.000 Dunia
Kampus Tak Cukup Mengajarkan Keberlanjutan Presiden dan Wakil Rektor Hong Kong Baptist University (HKBU), Alex Wai, menilai keberlanjutan tidak cukup hanya diajarkan sebagai mata kuliah. Tetapi harus menjadi bagian dari nilai yang melekat pada mahasiswa.Ia menjelaskan HKBU mengintegrasikan 17 SDGs ke dalam berbagai program pendidikan. Tujuannya, agar mahasiswa memahami keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
“Keberlanjutan bukan sekadar mata pelajaran yang Anda pelajari, melainkan ada dalam semua yang kita lakukan,” ujarnya.
Menurut Alex, mahasiswa masa kini tidak hanya membutuhkan pengetahuan. Tetapi juga kemampuan mengambil keputusan berdasarkan nilai.
Terlebih di era kecerdasan buatan (AI), kemampuan manusia dalam menentukan pilihan menjadi semakin penting. “Bukan hanya pengetahuan yang mereka miliki, tetapi nilai-nilai yang mereka punya. Bagaimana mereka melihat dunia,” katanya.
Alex menambahkan pendidikan masa kini juga bukan hanya tentang mempersiapkan mahasiswa menghadapi masa depan. Tetapi juga membekali mereka untuk membentuk masa depan.
“Dunia saat ini sedang sakit karena kita hidup di dunia ini dan kita tidak merawatnya. Kesehatan bukan hanya kesehatan pribadi, tetapi juga kesehatan lingkungan dan dunia kita,” tuturnya.
Baca juga: 3 Kampus Muhammadiyah Terbaik di Indonesia Versi THE WUR 2026, Ada Incaranmu?
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)





