Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyampaikan bahwa peluang penciptaan lapangan kerja dari hilirisasi industri dan transisi ekonomi hijau di Tanah Air terbuka lebar, meskipun memerlukan kehadiran dukungan terhadap kapasitas dunia usaha.
Pernyataan ini disampaikan merespons Outlook Ketenagakerjaan 2026 Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) yang memproyeksikan potensi 2,67 juta lapangan kerja dari hilirisasi dan 3,88 juta pekerjaan hijau pada tahun ini.
Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menyebut bahwa hilirisasi dan ekonomi hijau merupakan motor penting bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi sekaligus penciptaan lapangan kerja, lebih lagi dengan potensi besar yang dimiliki Indonesia.
“Namun, aspek supply tenaga kerja tersebut perlu diimbangi dengan aspek demand dari dunia usaha. Lapangan kerja pada akhirnya hanya dapat optimal apabila dunia usaha didorong untuk memaksimalkan utilisasi hilirisasi dan ekonomi hijau,” kata Shinta saat dihubungi Bisnis, Senin (22/6/2026).
Dia mencontohkan bahwa investasi hilirisasi di Indonesia saat ini masih relatif terkonsentrasi pada sektor mineral dan batu bara, sementara sektor perkebunan, kehutanan, serta kelautan dan perikanan masih perlu dioptimalkan lagi.
Hal serupa juga tampak pada ekonomi hijau, yang mana Indonesia dinilai memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, tetapi kapasitas terpasang yang dimanfaatkan belum menyentuh 1% dari total potensinya.
Baca Juga
- Apindo Bicara Dampak Pemadaman Listrik Berulang ke Dunia Usaha
- Pengusaha Konveksi Minta PLN Perbaiki Sistem Informasi Pemadaman Listrik
- Fitch Ratings: El Nino Tingkatkan Risiko Ekonomi, Terutama yang Andalkan Pertanian
Agar potensi tersebut benar-benar dapat terkonversi menjadi investasi dan lapangan kerja, Shinta menekankan bahwa optimisme tersebut perlu didukung dengan berbagai upaya untuk memperkuat ekosistem usaha. Hal ini mencakup aspek pembiayaan, penyederhanaan regulasi, kepastian investasi, mekanisme penjaminan risiko, akses pasar, hingga pembangunan infrastruktur pendukung.
Dia lantas menyampaikan bahwa kondisi pasar tenaga kerja Tanah Air saat ini masih menghadapi tantangan yang cukup besar, tecermin dari sejumlah indikator tingkat pengangguran terbuka, realisasi investasi dan penyerapan tenaga kerja, hingga dinamika pemutusan hubungan kerja (PHK).
Menurut Shinta, kebutuhan penciptaan lapangan kerja terus meningkat dari tahun ke tahun, diiringi isu penciptaan kerja layak hingga dominasi pekerja yang berada di sektor informal.
Mengingat sekitar 90% lapangan kerja di Indonesia disediakan oleh sektor swasta, dia menilai upaya untuk mendorong dukungan terhadap dunia usaha menjadi sangat penting.
“Dukungan terhadap sektor-sektor produktif, khususnya industri padat karya, perlu diperkuat melalui deregulasi, debottlenecking, insentif yang tepat sasaran, serta penciptaan iklim usaha yang lebih kondusif agar kapasitas dunia usaha untuk menyerap tenaga kerja dapat terus meningkat,” tegasnya.





