Jangan Biarkan Industri Hengkang

metrotvnews.com
4 jam lalu
Cover Berita

Kabar bakal hengkangnya dua perusahaan pemasok komponen otomotif asal Jepang dari Jawa Timur ke Vietnam menjadi peringatan serius bagi pemerintah. Kabar tersebut tidak bisa dipandang sebagai keputusan bisnis biasa. Itu merupakan sinyal bahwa daya saing Indonesia sebagai tujuan investasi sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Perusahaan yang beroperasi di Pasuruan dan Mojokerto tersebut dikabarkan mempertimbangkan untuk memindahkan kegiatan produksi mereka ke Vietnam. Jika keputusan itu benar-benar terealisasi, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan dan investor, tetapi juga ribuan pekerja yang menggantungkan hidup pada keberlangsungan industri tersebut.
 

Baca Juga :

Bukan Titik Berhenti


Perpindahan investasi dari satu negara ke negara lain merupakan hal yang lazim dalam ekonomi global. Namun, ketika dua perusahaan besar memilih meninggalkan Indonesia dan berpindah ke negara tetangga, pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh. Sebab, keputusan itu menunjukkan adanya pertimbangan yang membuat Vietnam dinilai lebih menarik ketimbang Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, Vietnam memang tampil agresif dalam menarik investasi asing. Negara itu menawarkan kepastian regulasi, kemudahan perizinan, dukungan industri, dan strategi yang lebih terarah dalam mengembangkan ekosistem kendaraan listrik.

Kehadiran produsen mobil listrik lokal VinFast di sana telah menciptakan pasar yang jelas bagi pemasok komponen dan baterai. Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan melihat Vietnam sebagai lokasi yang menjanjikan untuk ekspansi.

Sebaliknya, meski memiliki pasar otomotif besar dan sumber daya mineral yang melimpah, Indonesia masih menghadapi berbagai hambatan. Dari persoalan birokrasi, biaya logistik yang tinggi, ketidakpastian regulasi, masih banyaknya pungutan ilegal, hingga proses perizinan yang kerap berubah menjadi keluhan yang berulang dari kalangan pelaku usaha. Dalam persaingan investasi yang semakin ketat, faktor-faktor tersebut dapat mengurangi daya tarik Indonesia.

Kabar perpindahan dua perusahaan Jepang ini juga terjadi setelah Indonesia kehilangan proyek besar rantai pasok baterai kendaraan listrik yang sebelumnya direncanakan oleh konsorsium Korea Selatan yang dipimpin LG. Meskipun alasan di balik keputusan tersebut kompleks, fakta bahwa beberapa investasi strategis tidak jadi terealisasi harus menjadi bahan introspeksi.

Memang benar, tidak semua perusahaan yang keluar dari Indonesia disebabkan oleh buruknya iklim investasi. Hengkangnya sejumlah merek otomotif global, misalnya, lebih banyak dipengaruhi oleh strategi bisnis dan persaingan pasar. Namun, kasus yang terjadi saat ini berbeda karena berkaitan dengan relokasi produksi ke negara yang dianggap lebih kompetitif.

Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya menawarkan insentif fiskal seperti pembebasan pajak atau relaksasi aturan. Yang lebih penting ialah menciptakan kepastian usaha jangka panjang, juga menegakkan hukum kepada pihak-pihak yang mengganggu kenyamanan usaha.


Ilustrasi otomotif. Foto: Dok. Istimewa.

Investor membutuhkan regulasi yang konsisten, proses perizinan yang cepat, biaya logistik yang efisien, pasokan energi yang kompetitif, serta kepastian hukum yang dapat diandalkan.

Pemerintah juga perlu mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga sebagai pusat manufaktur dan inovasi. Hilirisasi nikel harus diikuti dengan pembangunan industri turunan yang kuat sehingga menciptakan pasar yang menarik bagi para pemasok global.

Selain itu, komunikasi dengan investor yang sudah beroperasi harus diperkuat. Jangan sampai pemerintah lebih fokus memburu investasi baru, tetapi lalai menjaga investor yang telah menanamkan modal dan membuka lapangan kerja selama bertahun-tahun.

Rencana perpindahan dua raksasa pemasok otomotif Jepang ke Vietnam seharusnya menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan. Indonesia tidak boleh berpuas diri hanya karena memiliki pasar besar dan sumber daya alam melimpah. Di era persaingan global, investor akan memilih negara yang menawarkan efisiensi, kepastian, dan prospek pertumbuhan terbaik. Jika iklim investasi tidak segera diperbaiki, Indonesia berisiko kehilangan lebih banyak industri strategis di masa depan.

Jangan sampai negeri ini hanya menjadi pasar bagi produk global, sedangkan pabrik, lapangan kerja, dan nilai tambah justru tumbuh di negara tetangga.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BPS RI Canangkan SE2026 di Jawa Barat: Data Akurat Kebijakan Tepat
• 28 menit lalubisnis.com
thumb
Naskah Perpres Ojol soal Potongan 8% Tak Kunjung Terbit, Ini Kata Menhub
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Tokocrypto Dukung Satgas OJK Ingatkan Masyarakat Waspadai Platform Kripto Ilegal
• 22 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Usai Ditangguhkan Penahanannya, Dokter Tifa Ucapkan Terima Kasih ke Presiden Prabowo
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Prabowo Teken RUU Polri jadi Undang-Undang, Atur Tugas Polisi di Jabatan Sipil
• 12 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.