Masih Ingat Maria Febe? Mantan Pebulu Tangkis yang Jadi Mualaf Gara-gara Suka Dengar Azan sejak Kecil

tvonenews.com
14 jam lalu
Cover Berita

tvOnenews.com - Nama Maria Febe Kusumastuti mungkin tak sepopuler era kejayaannya dulu, tetapi pencinta bulu tangkis Indonesia tentu masih ingat sosok tunggal putri yang pernah jadi andalan Merah Putih ini.

Di lapangan, Maria Febe dikenal sebagai pemain pekerja keras dengan daya juang tinggi. Namun di luar dunia olahraga, ia juga punya kisah hidup yang menyentuh, terutama soal perjalanan spiritualnya hingga memutuskan menjadi mualaf.

Perempuan kelahiran Boyolali, 30 September 1989 itu pernah menjadi salah satu tumpuan Indonesia di sektor tunggal putri.

Ia mencatat sederet prestasi membanggakan, mulai dari juara Bitburger Open 2008, Australia Open 2009, hingga ikut membantu Indonesia meraih medali perunggu di Uber Cup 2010 dan Asian Games 2010.

Pada masa terbaiknya, Maria Febe juga sempat menembus jajaran elite dunia dengan ranking tertinggi di kisaran 20 besar dunia.

Maria Febe Kusumastuti saat berprofesi atlet Tunggal Putri Badminton Indonesia
Sumber :
  • Instagram/@mariafebe13

Namun, di balik kariernya sebagai atlet nasional, ada cerita lain yang tak kalah menarik.

Maria Febe ternyata telah memeluk Islam sejak 2013, jauh sebelum ia menikah dengan mantan pebulu tangkis nasional, Andrei Adistia, pada 27 Oktober 2017.

Awal Mula Maria Febe Tertarik pada Islam

Keputusan Maria Febe menjadi mualaf bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba.

Ia mengaku, benih ketertarikan pada Islam sudah muncul sejak kecil. Salah satu hal yang paling membekas dalam ingatannya adalah suara azan.

“Ada dorongan di hati. Dulu sewaktu kecil, saya suka mendengarkan azan, Cuma terkadang ditegur sama orangtua,” kata Maria Febe dikutip dari program Close Up USEE TV.

Rasa nyaman setiap kali mendengar azan itu ternyata terus tersimpan hingga ia beranjak dewasa.

Ketika masuk Pelatnas PBSI Cipayung sekitar 2010, perasaan tersebut justru semakin kuat. Di lingkungan pelatnas, Maria Febe melihat langsung keseharian rekan-rekannya yang menjalankan ibadah, termasuk salat tarawih saat Ramadan.

“Beranjak dewasa ketika saya berada di perada di Pelatnas, saya melihat teman-teman menjalankan salat tarawih. Di situ hati saya makin tergerak,” lanjut Maria Febe.

Momen-momen sederhana itulah yang perlahan menguatkan hatinya.

Bukan karena pengaruh pasangan, bukan pula karena tuntutan tertentu, melainkan karena ada panggilan batin yang sudah tumbuh sejak lama.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menelusuri Kisah Hidup Rasulullah di Museum As Safiyah
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pengacara Ruben Onsu Ungkap Dugaan Doktrin terhadap Anak-Anak untuk Menjauhi Ayahnya
• 23 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Komisi XIII Kecam Penyekapan Wanita di Bandung, Desak Pelaku Segera Ditangkap
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Susunan Pemain Prancis vs Irak: Les Bleus Ingin Segel 32 Besar
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Trump Ancam Penjarakan Pelaku Vandalisme Lincoln Memorial Reflecting Pool
• 2 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.