ADA dua cara memandang Indonesia hari ini. Cara pertama melihat Indonesia sebagai bangsa yang harus berdiri di atas kaki sendiri.
Negara yang mengelola sumber daya untuk kepentingan rakyatnya. Negara yang membangun industri nasional, memperkuat ketahanan pangan, mengamankan energi, dan menggunakan kekuatan negara untuk memastikan kemakmuran tidak hanya dinikmati segelintir orang.
Cara kedua melihat Indonesia sebagai bagian dari pasar global yang harus selalu terbuka, selalu patuh pada irama permainan yang dibuat oleh pihak lain dan selalu menyediakan ruang seluas-luasnya bagi kepentingan eksternal.
Dalam perspektif ini, ukuran keberhasilan bukanlah seberapa kuat rakyat Indonesia berdiri, melainkan seberapa nyaman investor global beroperasi.
Pertarungan antara dua cara pandang inilah yang sesungguhnya sedang berlangsung di Indonesia.
Dalam beberapa bulan terakhir, publik menyaksikan munculnya gempuran narasi pesimistis mengenai Indonesia.
Berbagai media internasional, lembaga keuangan, analis pasar, hingga para komentator global berulang kali mengangkat tema yang sama, Indonesia dianggap bergerak terlalu jauh ke arah nasionalisme ekonomi.
Sebagian bahkan secara terang-terangan menggaungkan narasi "Sell Indonesia". Seruan melepaskan saham, dan menarik investasi dari Indonesia.
Baca juga: Korupsi di Tata Kelola MBG: Ketika Kritik Jadi Kenyataan
Pertanyaannya sederhana, mengapa ada seruan "Sell Indonesia" dan diamplifikasi oleh media-media besar?
Jawabannya mungkin tidak terletak pada apa yang salah dengan Indonesia, melainkan pada apa yang sedang berubah di Indonesia. Siapa yang terganggu dengan perubahan kebijakan tersebut.
Kebijakan "Indonesia First" mengubah banyak hal. Tidak mengherankan apabila muncul berbagai resistensi.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia secara tegas menempuh paradigma pembangunan yang berpusat pada kepentingan nasional.
Pendekatan yang tidak sepenuhnya mengikuti resep neoliberal, tidak terseret mekanisme pasar, tetapi juga tidak jatuh pada sosialisme negara yang ekstrem.
Model yang sedang dibangun bukan sesuatu yang baru. Namun, rumusan dasar yang telah digagas oleh para pendiri bangsa. Hanya saja, kali ini diimplementasikan secara terang-terangan dan tegas.
Pendekatan ini lebih menyerupai jalan ketiga Indonesia. Nasionalisme pembangunan yang berakar pada Pancasila.





