Operasi Israel Berhasil! Pusat Komando Bawah Tanah Hizbullah Direbut, Ratusan Militan Terjebak?

erabaru.net
9 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com — Situasi keamanan di perbatasan Israel-Lebanon kembali memanas setelah Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan keberhasilannya menguasai sebuah pusat komando bawah tanah strategis milik Hizbullah yang terletak di wilayah Lebanon Selatan. Operasi tersebut disebut sebagai salah satu pencapaian militer paling signifikan Israel dalam beberapa bulan terakhir karena menyasar fasilitas yang selama ini diyakini menjadi jantung komando dan kendali Hizbullah di kawasan selatan Lebanon.

Kompleks bawah tanah yang berhasil direbut berada di dekat Kota Nabatieh, tepatnya di kawasan perbukitan Ali Taher Ridge, sebuah wilayah yang sejak lama dikenal sebagai salah satu benteng pertahanan utama Hizbullah. Lokasi tersebut memiliki nilai strategis tinggi karena menghadap sejumlah jalur penting yang menghubungkan wilayah Lebanon Selatan dengan area perbatasan Israel.

Menurut informasi yang disampaikan pihak militer Israel pada malam 20 Juni 2026, fasilitas tersebut dibangun dengan dukungan teknis dan pendanaan dari Iran. Kompleks itu disebut sebagai salah satu pusat komando paling penting yang dimiliki Hizbullah di Lebanon Selatan.

Fasilitas Bawah Tanah yang Menjadi Jantung Operasi Hizbullah

Sejumlah pejabat keamanan Israel mengungkapkan bahwa pusat komando tersebut bukan sekadar bunker perlindungan biasa. Fasilitas itu berfungsi sebagai pusat koordinasi operasi militer Hizbullah di wilayah selatan Lebanon.

Di dalam kompleks tersebut, Hizbullah diduga mengendalikan berbagai operasi tempur, mengatur pergerakan pasukan, mengoordinasikan peluncuran roket dan rudal, serta menyimpan persenjataan dalam jumlah besar.

Sumber keamanan menyebutkan bahwa struktur bawah tanah itu dibangun dengan sistem perlindungan berlapis dan berada jauh di bawah permukaan tanah. Kondisi tersebut membuat fasilitas tersebut sangat sulit dihancurkan hanya melalui serangan udara konvensional.

Karena itulah, selama bertahun-tahun lokasi tersebut dianggap sebagai salah satu aset strategis paling berharga bagi Hizbullah dalam menghadapi kemungkinan konflik besar dengan Israel.

IDF: Israel Tidak Akan Mundur dari Posisi yang Telah Direbut

Seorang pejabat senior IDF menegaskan bahwa Israel tidak berencana meninggalkan kawasan tersebut dalam waktu dekat.

Menurutnya, penguasaan pusat komando bawah tanah tersebut memiliki makna strategis sekaligus moral yang sangat besar bagi Israel.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan basis Hizbullah di wilayah pegunungan dekat perbatasan selama ini dipandang sebagai ancaman langsung terhadap keamanan warga Israel yang tinggal di wilayah utara negara tersebut.

“Operasi ini bukan hanya soal pencapaian militer, tetapi juga tentang memastikan keamanan masyarakat Israel yang selama bertahun-tahun hidup di bawah ancaman serangan roket dan infiltrasi dari Lebanon Selatan,” ujar pejabat tersebut.

Pejabat tinggi Israel lainnya bahkan menyatakan bahwa pasukan Israel kini telah menguasai sepenuhnya kawasan strategis Ali Taher Ridge dan sedang memperkuat posisi mereka di lokasi tersebut.

Ratusan Militan Diduga Masih Terjebak di Dalam Kompleks

Laporan dari media Israel, Channel 14, menyebutkan bahwa ratusan anggota Hizbullah diyakini masih berada atau terjebak di dalam jaringan terowongan dan ruangan bawah tanah yang terdapat di kompleks tersebut.

Meski angka pasti belum dapat diverifikasi secara independen, laporan itu menyebutkan bahwa pasukan Israel saat ini sedang melakukan operasi penyisiran dan pembongkaran terhadap seluruh infrastruktur militer yang ditemukan di lokasi.

Tim teknik militer Israel dilaporkan dikerahkan untuk memetakan jaringan terowongan, mengamankan bahan peledak, serta menghancurkan fasilitas yang dianggap dapat digunakan kembali oleh Hizbullah.

Jika informasi tersebut terbukti benar, maka penguasaan kompleks Ali Taher Ridge dapat menjadi salah satu pukulan terbesar terhadap kemampuan operasional Hizbullah di Lebanon Selatan dalam beberapa tahun terakhir.

Bentrokan Sengit Warnai Hari yang Sama

Sebelum pengumuman penguasaan kompleks bawah tanah tersebut, pertempuran sengit telah berlangsung sepanjang hari antara pasukan Israel dan Hizbullah.

Kedua pihak saling menuduh telah melanggar perjanjian gencatan senjata yang sebelumnya disepakati. Serangan artileri, tembakan roket, dan serangan udara dilaporkan terjadi di berbagai titik sepanjang garis perbatasan.

Hizbullah menuduh Israel melakukan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah wilayah di Lebanon selama akhir pekan.

Menurut klaim kelompok tersebut, serangan Israel menyebabkan 111 orang tewas di berbagai wilayah Lebanon. Namun hingga saat ini angka tersebut belum mendapatkan konfirmasi independen dari organisasi internasional maupun sumber netral lainnya.

Di pihak Israel, militer mengonfirmasi kehilangan personel akibat insiden terpisah.

Komandan Batalion Lapis Baja ke-52 Israel, Letnan Kolonel Dor Ben Shimon, dilaporkan tewas bersama tiga prajurit lainnya dalam sebuah kecelakaan tank yang terjadi saat operasi berlangsung.

Kematian perwira senior tersebut menjadi salah satu kehilangan terbesar yang dialami militer Israel dalam operasi terbaru di Lebanon Selatan.

Ancaman Iran Mengubah Dinamika Medan Tempur

Perkembangan penting lainnya terjadi pada sore hari 20 Juni 2026, ketika seorang pejabat Israel mengungkapkan bahwa IDF menerima instruksi untuk menghentikan sementara serangan artileri di Lebanon.

Keputusan tersebut muncul setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan melontarkan ancaman akan meluncurkan serangan rudal terhadap Israel jika situasi regional terus memburuk.

Langkah penghentian sementara operasi artileri itu dilaporkan memicu perdebatan di kalangan militer Israel.

Sejumlah pejabat militer disebut menentang keputusan tersebut karena mereka menilai pasukan Israel sedang berada dalam posisi yang sangat menguntungkan setelah berhasil merebut kawasan pegunungan strategis Ali Taher Ridge.

Menurut mereka, momentum yang sedang dimiliki Israel seharusnya dimanfaatkan untuk terus menekan posisi Hizbullah sebelum kelompok tersebut memiliki kesempatan melakukan reorganisasi kekuatan.

IDF Sebut Serangan Besar Dilakukan Sebagai Balasan

Menanggapi kritik dan tuduhan mengenai eskalasi konflik, pihak IDF menjelaskan bahwa gelombang serangan udara besar-besaran yang dilakukan sebelumnya merupakan respons terhadap serangan Hizbullah terhadap pasukan Israel yang ditempatkan di zona keamanan.

Menurut militer Israel, pasukan mereka diserang pada malam hari sehingga diperlukan tindakan balasan untuk menghilangkan ancaman yang berasal dari wilayah Lebanon Selatan.

Israel menegaskan bahwa operasi tersebut ditujukan terhadap target-target militer dan infrastruktur yang digunakan Hizbullah untuk melakukan serangan terhadap pasukan maupun wilayah Israel.

Korban Sipil Terus Bertambah

Sementara itu, otoritas Lebanon melaporkan bahwa sedikitnya 30 orang tewas di berbagai wilayah negara tersebut sepanjang 20 Juni 2026.

Dari jumlah tersebut, 16 korban jiwa berasal dari kawasan Nabatieh, wilayah yang menjadi pusat operasi militer terbaru Israel.

Selain korban meninggal, sedikitnya 12 orang dilaporkan mengalami luka-luka, termasuk seorang anggota militer Lebanon yang berada di area terdampak konflik.

Meningkatnya jumlah korban sipil kembali menimbulkan kekhawatiran komunitas internasional mengenai risiko meluasnya konflik menjadi perang regional yang lebih besar, terutama di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel, Hizbullah, dan Iran.

Ketegangan Regional Memasuki Fase Baru

Penguasaan pusat komando bawah tanah Hizbullah di Ali Taher Ridge menandai perkembangan penting dalam konflik yang terus berlangsung di perbatasan Israel-Lebanon. Bagi Israel, keberhasilan tersebut dianggap sebagai langkah strategis untuk mengurangi kemampuan komando dan kendali Hizbullah di Lebanon Selatan.

Namun di sisi lain, ancaman Iran terkait Selat Hormuz dan kemungkinan keterlibatan aktor-aktor regional lainnya membuat situasi menjadi semakin kompleks.

Dengan korban yang terus bertambah, operasi militer yang masih berlangsung, serta ketegangan geopolitik yang semakin meluas, kawasan Timur Tengah kini kembali menghadapi risiko eskalasi yang dapat berdampak jauh melampaui perbatasan Israel dan Lebanon. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PAN Sleman Buka Peluang Pendampingan Hukum untuk Raudi Akmal usai Jadi Tersangka
• 11 menit lalukumparan.com
thumb
Menuju Lima Abad Jakarta, Urusan Transportasi Masih Jadi Tantangan
• 9 jam lalukompas.id
thumb
Purbaya: Dana untuk Patriot Bond Tak Akan Diutak-atik Sumbernya dari Mana
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
TERKINI! Suasana Kampus UBK di Tengah Kabar Uang Suap Ketua BEM FH UBK yang Juga Bertemu Gibran
• 3 jam laludisway.id
thumb
BMKG: Hujan Landa 24 Wilayah Hari Ini, Jawa Barat Paling Perlu Diwaspadai
• 10 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.