Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Selasa (24/6/2026) seiring dengan optimisme investor bahwa konflik di Timur Tengah segera berakhir, meski pasar masih bergerak fluktuatif.
Melansir CNBC International, harga minyak jenis Brent untuk pengiriman Agustus naik 0,36% menjadi US$78,18 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus naik 0,45% menjadi US$74,19 per barel.
Sebelumnya, harga minyak sempat melemah pada perdagangan Senin malam setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) menerbitkan lisensi selama 60 hari yang mengizinkan produksi, pengiriman, dan penjualan minyak Iran. Kebijakan tersebut juga memungkinkan impor minyak mentah Iran ke AS serta pembayaran transaksi menggunakan dolar AS. Lisensi tersebut berlaku hingga 21 Agustus 2026.
Meski demikian, sejumlah pihak mengkhawatirkan potensi penggunaan pendapatan dari penjualan minyak untuk membangun kembali kekuatan militer Iran. Presiden AS Donald Trump pun ditanya mengenai kemungkinan tersebut dalam sebuah acara penandatanganan perintah eksekutif di Gedung Putih pada Senin.
“Mereka seharusnya tidak melakukan itu, jadi kita lihat saja nanti,” ujar Trump.
Dia menegaskan bahwa dana hasil penjualan minyak seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Iran yang saat ini tengah menghadapi kesulitan ekonomi.
Baca Juga
- Harga Minyak Kembali ke US$80 per Barel Usai Kesepakatan Damai AS-Iran Goyah
- Harga Minyak Dunia Turun di Bawah US$80 per Barel Usai AS-Iran Sepakat Damai
- Prabowo Optimistis Ekonomi Menguat, Harga Minyak Turun Jadi Sentimen Positif
“Mereka seharusnya menggunakan uang itu untuk membeli makanan bagi rakyat mereka karena saat ini rakyat mereka sangat kelaparan. Mereka membeli jagung dan kedelai hampir sepenuhnya dari kami,” kata Trump.
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance menyebut telah terjadi kemajuan besar dalam perundingan yang berlangsung di Swiss. Pernyataan tersebut muncul meskipun Iran pada akhir pekan lalu mengumumkan penutupan Selat Hormuz.
Namun, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan jalur pelayaran strategis tersebut masih tetap terbuka.
Perkembangan terbaru itu dinilai meningkatkan keyakinan pelaku pasar bahwa konflik yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir berpotensi menemukan penyelesaian yang lebih permanen.
Managing Director US Equity Strategy Citi Research Scott Chronert mengatakan, pergerakan harga minyak dalam dua pekan terakhir menunjukkan pasar semakin yakin bahwa konflik di kawasan tersebut mendekati akhir.
“Jika melihat pola perdagangan harga minyak selama beberapa minggu terakhir, pasar tampaknya semakin percaya bahwa kita semakin dekat dengan berakhirnya konflik,” ujarnya.
Menurut Chronert, meredanya tekanan harga energi juga berpotensi mengurangi risiko inflasi global dalam beberapa bulan mendatang.
“Tekanan dari harga energi terhadap inflasi kemungkinan akan semakin berkurang dalam beberapa pekan dan bulan ke depan,” katanya.





