Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengapresiasi langkah Polri yang menggelar kegiatan Bakti Kesehatan secara masif. Budi menyebut sinergi ini memudahkan masyarakat, khususnya kalangan buruh, untuk mengakses layanan kesehatan gratis di Rumah Sakit (RS) Polri.
Hal itu disampaikan Budi Gunadi saat menghadiri puncak bakti kesehatan Polri di Sespolwan Lemdiklat Polri, Jakarta Selatan, Selasa (23/6/2026). Dia menekankan pentingnya pencegahan penyakit melalui pengecekan kesehatan rutin.
"Pak Andi Gani (Presiden KSPSI) itu paling takut kalau anggotanya kehilangan kerja, tapi ada satu lagi yang sebenarnya para buruh lebih takuti yaitu kalau kehilangan nyawa," kata Budi Gunadi.
Budi menjelaskan penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian di Indonesia yakni stroke. Budi menyatakan bahwa RS Polri kini menjadi salah satu fasilitas yang siap melayani masyarakat untuk melakukan deteksi dini.
"Nomor 1, nomor 2, nomor 4 (stroke, jantung, ginjal) itu sekitar 750.000 kematian setahun bisa dihindari, asalkan semua buruh, semua wartawan, masyarakat itu mengikuti programnya Pak Presiden Prabowo, cek kesehatan gratis," tuturnya.
Budi pun mengimbau masyarakat untuk tidak menyepelekan kondisi tubuh meski merasa sehat. "Datang ke Puskesmas atau ke Rumah Sakit Polri sekarang sudah bisa untuk dapat obat gratis," lanjut dia.
Budi lantas membeberkan empat indikator kesehatan utama, yakni tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan obesitas. Jika indikator tersebut melampaui batas normal, dia menyarankan agar segera memanfaatkan fasilitas kesehatan milik Polri.
"Kalau gula darah di atas 200, jangan sok sehat. Nanti kena ginjal, nanti kena serangan jantung, meninggal juga atau cuci darah seumur hidup. Ini juga kalau di atas 200 datang ke Puskesmas cek kesehatan gratis, datang ke rumah sakitnya Pak Kapolri dikasih obat gratis tuh, Metformin," paparnya.
Selain pengecekan kesehatan, dia juga menyoroti masalah obesitas yang menjadi pemicu berbagai penyakit. Dia kembali menekankan elemen buruh agar tetap menjaga kondisi fisik dengan berolahraga.
"Kadang-kadang kita lihat, 'Pak saya seneng makan'. Enggak apa-apa, tapi harus lari. Lari 5 kilo, 10 kilo. Saya ikut lari maraton, jadi walaupun makan masuknya banyak, keluarnya juga masih banyak," tuturnya.
(ond/eva)





