Studi Sun Life 2026 mencatat sebanyak 23 persen dari 1.000 responden terpaksa menguras dana tabungan (makan tabungan) untuk memenuhi kebutuhan hidup.
IDXChannel—Hasil studi Sun Life Asia Financial Resilience Index 2026 menunjukkan bahwa hanya 14 persen masyarakat Indonesia yang saat ini merasa sangat aman secara finansial (financially secure).
Meskipun begitu, studi kolaborasi antara Sun Life Asia dan GenPop pada April 2026 ini juga membawa kabar positif. Secara umum, indeks ketahanan finansial masyarakat Indonesia menunjukkan tren penguatan.
Hal ini tampak dari proporsi individu dengan tingkat ketahanan finansial tinggi, naik dari 30 persen pada 2025 menjadi 34 persen pada tahun ini.
Ada tiga faktor utama yang masih mengganjal rasa aman finansial jangka panjang masyarakat Indonesia. Yakni tekanan biaya hidup, beban tanggung jawab finansial terhadap keluarga besar (sandwich generation), serta ketidaksiapan menghadapi inflasi yang berkelanjutan.
Untuk menyiasati lonjakan biaya hidup, masyarakat terpaksa melakukan penyesuaian anggaran belanja sehari-hari.
Berdasarkan riset terhadap 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas pada studi Sun Life tersebut, tercatat sebanyak 23 persen responden terpaksa menguras dana tabungan (makan tabungan) demi memenuhi kebutuhan hidup.
Sementara itu, 26 persen lainnya memilih memangkas atau menunda pengeluaran nonprioritas. Fenomena pengetatan ikat pinggang ini mulai berdampak sistemik pada sektor riil.
Pelaku usaha, khususnya di sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta industri ritel, kini dituntut memutar otak akibat terjadinya perubahan pola konsumsi masyarakat.
Para pelaku usaha dipaksa lebih adaptif dalam mengatur ulang strategi harga, program promosi, dan menjaga perputaran arus kas (cash flow) agar bisnis tetap bertahan di tengah pelemahan daya beli.
Indikator ketahanan finansial responden menunjukkan bahwa 45 persen mampu bertahan hidup lebih dari enam bulan jika mendadak kehilangan penghasilan dan 68 persen optimis dan percaya diri mampu mencapai tujuan keuangan jangka panjang mereka.
“Bagi banyak masyarakat Indonesia, rasa aman finansial erat kaitannya dengan kemampuan memenuhi tanggung jawab terhadap orang-orang terdekat. Di tengah kondisi yang terus berubah, kehadiran mitra keuangan yang tepercaya menjadi semakin krusial," ujar President Director Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, dalam keterangan resminya, Selasa (23/6/2026).
Studi ini menggarisbawahi bahwa tingkat pendapatan bukan satu-satunya penentu ketahanan finansial, melainkan literasi keuangan.
Masyarakat yang memiliki rencana keuangan jangka panjang terbukti memiliki tingkat kepercayaan diri tiga kali lipat lebih tinggi dalam mencapai target finansialnya (86 persen) dibandingkan dengan mereka yang hidup tanpa rencana (hanya 25 persen).
Menariknya, kemajuan teknologi digital juga mulai mendominasi lanskap manajemen keuangan personal di Indonesia. Tren pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) mencatatkan angka yang cukup masif.
Sebanyak 68 persen responden menggunakan generative AI untuk panduan keuangan dan 67 persen memproyeksikan peningkatan penggunaan AI 12 bulan ke depan.
Pun dengan perkembangan AI yang pesat, Albertus mengingatkan bahwa literasi keuangan konvensional tetap menjadi fondasi paling utama.
Kemampuan literasi yang baik sangat diperlukan agar masyarakat tetap kritis dalam mengevaluasi setiap informasi keuangan berbasis AI sebelum mengambil keputusan investasi atau alokasi dana.
(Eugenia Siregar)





