Kondisi ekonomi yang memukul masyarakat terutama kalangan menengah ke bawah sangat terasa menjelang tahun ajaran baru. Orangtua berjuang mencari uang untuk biaya pendidikan anak yang jumlahnya tidak sedikit.
Tak hanya itu, mereka juga berjibaku mencari sekolah bagi anak-anak di tengah pemberlakuan sistem zonasi untuk sekolah negeri. Banyak orangtua dan anak menginginkan pendidikan berkualitas yang tidak selalu tersedia di zona tempat tinggal mereka.
"Anak saya gagal masuk SMA. Pendaftaran online baru buka dua menit, kuota langsung penuh. Kita berjuang cari uang, juga berjuang cari sekolah. Pusing," kata Yus Mboeik (51), orangtua murid yang ditemui di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Selasa (23/6/2026).
Yus adalah orangtua tunggal yang masuk kategori ekonomi lemah. Ia mencari penghidupan sebagai buruh serabutan dengan penghasilan tidak menentu. Untuk mendaftarkan anak ke jenjang SLTA, ia menyiapkan biaya sekitar Rp 2 juta yang ditabung sejak tahun lalu.
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) diikuti dengan kelangkaan minyak tanah ikut seakan membalikkan "periuk makan" Yus. Tempat ia biasa jadi buruh serabutan tidak lagi membutuhkan tenaga. Ia biasa membantu di warung makan yang kini sudah mengurangi tenaga kerja.
Efisiensi itu dilakukan setelah meroketnya harga gas elpiji. Untuk ukuran 12 kilogram (kg), harga tukar per tabungnya dari Rp 250.000 melonjak hingga Rp 450.000. Ia semakin terpukul dengan kelangkaan minyak tanah. Di tingkat pengecer, harga minyak tanah mencapai Rp 10.000 per liter.
Kini, Yus mempersiapkan anaknya mendaftar secara online untuk penerimaan siswa baru jenjang SMK yang mulai dibuka selama tiga hari berturut-turut mulai Rabu (24/6/2026) besok. "Saya tidak sekolah (minim pengetahuan) jadi saya tidak tahu cara daftar. Saya minta tolong orang lain," ujarnya.
Serial Artikel
Kenaikan Harga Pertamax ”Sempurnakan” Penderitaan Warga Kupang
Ekonomi masyarakat makin terperosok. Apalagi, harga elpiji duluan meroket dan minyak tanah langka.
Kondisi serupa juga dialami Soni (30), warga lainnya. Saat ini, ia tidak lagi menjadi sopir keluarga. Majikan yang ia layani sudah menggunakan sepeda motor dengan alasan harga bahan bakar minyak jenis Pertamax naik beberapa waktu lalu. Harga naik dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter.
"Saya bingung karena tahun ini anak saya harus masuk sekolah dasar. Saya cari uang dari mana? Istri juga hanya di rumah saja. Kami rencana pinjam online untuk beli seragam anak," katanya.
Sebelumnya, Soni tidak digaji bulanan. Dia dibayar upah harian dengan tarif mulai Rp 50.000 sampai Rp 100.000, tergantung beban kerja setiap hari. Ia mengantar majikannya ke tempat kerja dan pasar atau supermarket untuk berbelanja. Hampir tiga tahun terakhir, ia bergantung pada pekerjaan itu.
Kini, ia kebingungan mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahlian sopir. Ada peluang yang bisa diambil, yakni melamar menjadi sopir taksi daring. Ia berencana menyewa mobil dari majikan mobil di daerah itu.
Di berbagai obrolan grup percakapan, banyak orangtua mengeluh dengan tingginya biaya masuk sekolah. Di sekolah negeri untuk jenjang SLTA, orangtua membayar hingga Rp 2 juta. Sekolah mematok sejumlah item termasuk uang seragam dan uang pembangunan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Ambrosius Kodo mengatakan, pendaftaran secara daring dilakukan dengan transparan. Ia menjamin tidak ada "permainan" dalam seleksi penerimaan calon siswa baru. Proses dilakukan dalam pengawasan pihak internal maupun eksternal.
Ambrosius juga menegaskan, sekolah harus menggratiskan biaya pendidikan bagi anak-anak miskin. Pemberlakuan uang komite dibatasi paling tinggi Rp 100.000 per siswa per bulan. "Jika ada sekolah yang melanggar, laporkan kepada kami," katanya.
Hari-hari ini, menjelang dimulainya tahun ajaran baru, para orangtua dihadapkan pada banyak masalah. Mereka tak hanya pusing mencari uang di tengah himpitan ekonomi, mereka juga berjibaku mencari sekolah yang berkualitas bagi anak mereka.
Serial Artikel
NTT Masih Berkutat dengan Baca Tulis
Dulu, NTT mengirim guru-guru ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan sampai ke Malaysia.





