China Dukung Perundingan AS-Iran di Swiss demi Stabilitas Timur Tengah

matamata.com
8 jam lalu
Cover Berita

Matamata.com - Pemerintah China menyatakan dukungan penuh atas kelanjutan perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang tengah berlangsung di Swiss. Beijing berharap kedua negara dapat terus berdialog, mempersempit perbedaan, dan mencapai kesepakatan konkret demi perdamaian kawasan.

"China mendukung upaya mediasi oleh pihak-pihak terkait, termasuk Pakistan dan Qatar. Kami berharap Iran dan AS terus melanjutkan pembicaraan, mempersempit perbedaan lebih lanjut, dan berupaya mencapai kemajuan yang baik dalam negosiasi mereka," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing, Senin (22/6/2026).

Pernyataan dukungan dari Beijing ini mengemuka di tengah berjalannya negosiasi intensif antara delegasi Iran dan AS di resor Burgenstock, Pegunungan Alpen, Swiss.

Pembicaraan yang dimulai sejak Minggu (21/6/2026) ini merupakan implementasi dari Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad yang bertujuan membuka jalan bagi penghentian permanen konflik melibatkan AS, Israel, dan Iran.

Sebelumnya pada 14 Juni, lewat mediasi Pakistan, Iran dan AS telah menyepakati 14 poin kesepahaman untuk mengakhiri konflik. MoU tersebut resmi berlaku pada 18 Juni setelah ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump.

Poin-poin krusial dalam kesepakatan tersebut mencakup penghentian permusuhan di seluruh front (termasuk Lebanon), pembukaan kembali Selat Hormuz, serta pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran.

Kendati demikian, proses diplomasi di Swiss sempat berjalan alot dan diwarnai ketegangan. Pada hari pertama perundingan, Trump dilaporkan melontarkan ancaman akan kembali menyerang Iran jika Teheran gagal membujuk kelompok pro-Iran di Lebanon untuk menghentikan aksinya.

"Kami mungkin akan mengambil alih selat itu (Selat Hormuz) jika diperlukan," cetus Trump dalam wawancara bersama Fox News.

Pernyataan provokatif tersebut sempat memicu protes keras dari delegasi Teheran yang berujung aksi walk out (meninggalkan ruang sidang). Ketua tim negosiasi Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, langsung mendesak AS agar lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan yang dapat merusak proses diplomasi.

Meski sempat memanas, situasi berhasil diredam oleh pihak mediator. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Senin (22/6/2026) memastikan bahwa perundingan telah kembali berjalan dan menunjukkan kemajuan yang signifikan, khususnya dalam upaya mengakhiri konflik di Lebanon serta memulihkan perekonomian Iran.

Baca Juga
  • Pemerintah Bebaskan Bea Masuk Impor LPG, Bahan Baku Plastik, dan Suku Cadang Pesawat

"Mediasi tanpa henti dari Pakistan dan Qatar telah menghasilkan kemajuan besar untuk mengakhiri Perang Lebanon. Pembatasan terhadap ekspor minyak dan petrokimia dicabut, blokade diakhiri, sebagian aset yang dibekukan dilepaskan, dan program rekonstruksi besar diluncurkan untuk Iran," tulis Araghchi melalui akun resminya di platform X.

Dalam pernyataan bersama, Pakistan dan Qatar mengonfirmasi bahwa kedua belah pihak telah sepakat membentuk mekanisme koordinasi bersama yang melibatkan Pemerintah Lebanon. Mekanisme ini dibentuk untuk memastikan kepatuhan total terhadap penghentian operasi militer di lapangan.

"Ujian nyata pertama: mekanisme koordinasi Lebanon," tegas Araghchi menutup pernyataannya. (Antara)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pikap Terbakar Hebat di Tuban Picu Kepanikan Warga, Sopir Menghilang dari Lokasi
• 11 jam lalurctiplus.com
thumb
7 Alasan yang Membuat Kulkas Cepat Bau Tanpa Disadari
• 14 jam lalubeautynesia.id
thumb
Penahanan Ditangguhkan, Dokter Tifa: Kebenaran Tidak Padam di Negara Kita
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
Hotel Sumsel Tertekan Efisiensi Anggaran, PHRI Dorong Geliat MICE
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Prabowo Tegaskan Infrastruktur Jalan Kunci Ketahanan Pangan: Tak Boleh Ada Daerah Tertinggal
• 7 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.