Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh lebih tinggi pada Mei 2026, jika dibandingkan bulan sebelumnya.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan posisi M2 tercatat mencapai Rp 10.451,9 triliun atau meningkat 10,8 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
“Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 15,3 persen yoy dan uang kuasi sebesar 6 persen yoy,” ujar Ramdan melalui keterangan tertulis, Selasa (23/6).
Ramdan menjelaskan perkembangan M2 pada Mei 2026 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan aktiva luar negeri bersih. Penyaluran kredit tumbuh 10,8 persen (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada April 2026 yang sebesar 9,4 persen (yoy).
“Sementara itu, aktiva luar negeri bersih pada Mei 2026 tumbuh sebesar 5,2 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 3,7 yoy,” ungkap Ramdan.
Kemudian, Ramdan melaporkan uang beredar sempit (M1), yang memiliki porsi 57,8 persen dari total M2, tercatat sebesar Rp 6.025 triliun pada Mei 2026 atau tumbuh 15,3 persen secara yoy.
“Perkembangan M1 dipengaruhi oleh pertumbuhan giro rupiah sebesar 23,9 persen yoy, meningkat dibandingkan bulan April 2026 yang tumbuh sebesar 21,3 persen yoy," tulis BI dalam laporan “Analisis Perkembangan Uang Beredar M2 - Mei 2026”, dikutip Selasa (23/6).
Lebih lanjut, uang kartal di luar bank umum dan BPR serta tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu masing-masing tumbuh 16,6 persen yoy dan 8,3 persen yoy. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang masing-masing tercatat sebesar 15,7 persen yoy dan 7,1 persen yoy.
Pertumbuhan Uang Primer Capai 14,2 PersenDi sisi lain, Ramdan mencatat uang primer (M0) adjusted tumbuh 14,2 persen yoy pada Mei 2026, melanjutkan pertumbuhan pada April 2026 yang sebesar 14,3 persen yoy, sehingga mencapai Rp 2.214,6 triliun.
“Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 17,4 persen yoy dan uang kartal yang diedarkan sebesar 15,8 persen yoy,” lanjut Ramdan.
Dari sisi faktor pendorong, Ramdan mengatakan pertumbuhan uang primer telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas dalam pelaksanaan kebijakan pengendalian moneter.




