Swiss Berinovasi Kelola Sampah Jadi Energi, Indonesia Jajaki Kerja Sama

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

ZURICH, KOMPAS-Pengelolaan sampah masih jadi tantangan di banyak negara, termasuk Indonesia. Meski demikian, dengan membangun ekosistem ekonomi sirkular berbasis inovasi teknologi, Swiss membuktikan pengelolaan sampah bisa mengurangi emisi sekaligus mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi.

Salah satu perusahaan global yang bergerak di bidang pengelolaan sampah, Kanadevia Inova, memelopori dan menghadirkan teknologi hijau. Perusahaan yang berbasis di Zurich, Swiss, ini mampu mengubah limbah menjadi energi berkelanjutan dan bahan bernilai ekonomi.

Menurut Manajer Senior Penjualan Kanadevia Inova, Matthias Baur, saat ditemui di area pabrik Kanadevia Inova, Hagenholz Zurich Plant, Zurich, Swiss, Senin (22/6/2026) waktu setempat, perusahaan Kanadevia yang beroperasi lebih dari 60 tahun ini tak hanya beroperasi di Swiss.

Perusahaan tersebut juga menjangkau 17 negara antara lain di Dubai, Uni Emirat Arab, dan London, Inggris. Instalasi pengolahan sampah di Dubai berkapasitas paling besar yakni 2,5 juta ton per tahun.

Baca JugaIndonesia Lanjutkan Kerja Sama Bilateral Investasi dengan Swiss

“Misi kami, yakni, sampah diolah dan menghasilkan energi serta mendaur ulang sampah. Pengolahan limbah bukan hanya menghasilkan energi tetapi juga menghilangkan limbah. Kami mendorong dekarbonisasi, keamanan pasokan, dan sirkularitas sumber daya untuk komunitas kami,” tuturnya.

Untuk itu pihaknya mengembangkan desain pabrik holistik dan keahlian untuk mengintegrasikan teknologi pengolahan sampah dan produksi biogas. Kanadevia pun mengubah listrik jadi gas sintetis seperti hidrogen dan metana, serta pemulihan, penangkapan debu, pencairan, dan pembekuan karbon dioksida.

Sampah diolah dan menghasilkan energi serta mendaur ulang sampah. Pengolahan limbah bukan hanya menghasilkan energi tetapi juga menghilangkan limbah.

Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) urusan Swiss dan Leichtrnstein, Francis Wanandi, saat ditemui di Bern, Swiss, pada Senin (22/6/2026), menyatakan, penerapan konsep waste to energy sangat penting bagi kota-kota padat penduduk. Hal ini seiring dengan konsep kota sehat (health city).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan konsep kota sehat kini diminati masyarakat dan menjadi prasyarat bagi permukiman disebut kota modern. Komponen kota sehat meliputi kebersihan kotanya, fasilitas jalan, dan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.

Baca JugaJanjikan Bebas Sampah Plastik 2040, Indonesia Didesak Serius

” Persoalan sampah dihadapi kota-kota besar yang padat penduduk. Melalui konsep waste to energy (WTE), sekarang teknologi memberikan solusi yang bahkan kauh lebih baik. Jadi sampah bisa menjadi lebih bersih setiap kota dan menghasilkan energi positif menggantikan energi fosil yang banyak digunakan di Indonesia, terutama dari sisi batubara dan minyak,” ujar Francis Wanandi.

Namun, lanjutnya, pemerintah harus mengkaji dengan baik para pemain di bidang waste to energy. Tujuannya, agar tak hanya dari sisi mesin yang dibeli tetapi juga ekosistem yang dibangun, agar bisa dimanfaatkan warga kota.

Dalam hal ini, kedekatan lokasi pabrik pengolahan sampah dengan sumber pasokan bahan baku, yakni sampah, menjadi penentu keberhasilan bisnis pengolahan sampah.

Selain itu pasokan bahan baku harus terjamin dan berkelanjutan. Harga keekonomian bisnis pengolahan sampah untuk menghasilkan energi membutuhkan pasokan sampah minimal 3.000 ton. Sejauh ini, menurut Francis, tidak semua kabupaten atau kota bisa menjamin volume sampah sesuai kontrak.

Baca JugaSampah dan Limbah Akan Menjadi Sahabat di Masa Depan

“Untuk menarik minat swasta mengembangkan bisnis pengolahan sampah, mesti ada skema investasi dari pemerintah,” ujarnya. Dalam lelang pengolahan sampah, lanjutnya, perhatikan detail penawaran, termasuk apakah sistem pengolahan sampah menyediakan tempat pembuangan sekaligus mengatasi soal sampah.

Sebagian pemerintah daerah, menurut Duta Besar RI untuk Swiss, I Gede Ngurah Swajaya, masih keberatan dengan besaran dana untuk pengumpulan dan pengangkutan limbah atau sampah ke tempat pengolahan. “(Agar pengelolaan sampah berhasil) Sistem pengumpulan dan pengolahan sampah di masyarakat mesti dibangun seperti dilakukan di Swiss,” ucapnya.

Menurut Swajaya, saat ini pemerintah tengah menjajaki peluang kerja sama dengan sejumlah negara untuk mengelola sampah agar menghasilkan energi dan produk bernilai ekonomi lainnya. Swiss menjadi salah satu negara yang dilirik untuk bermitra mengelola sampah berbasis inovasi teknologi.

Untuk menarik minat swasta mengembangkan bisnis pengolahan sampah, mesti ada skema investasi dari pemerintah.

Sejak usia dini

Matthias mengingatkan, bahwa pengumpulan dan pemilahan sampah menjadi bagian pendidikan di rumah tangga dan dimulai sejak usia anak-anak. Kuncinya adalah pendidikan lingkungan, serta memiliki titik pengumpulan dan pemilahan sampah untuk memudahkan mendaur ulang sampah.

Baca JugaPilah Sampah di Jakarta Sia-sia Tanpa Aksi Nyata, Ini Solusinya

Selain itu lokasi pabrik sebaiknya dibangun sedekat mungkin dengan kawasan perkotaan. Hal ini bertujuan mempercepat pengangkutan sampah menuju lokasi pabrik pengolahan limbah dan meningkatkan frekuensi pengumpulan sampah dalam sehari demi menekan emisi dari pengangkutan sampah.

Dalam pengelolaan sampah, perlu penerapan sistem digitalisasi untuk memantau proses produksi energi dan produk lainnya dari hasil daur ulang sampah. Selain itu nilai investasi yang dibutuhkan untuk membangun pabrik pengolahan sampah minimum 500 juta euro atau sekitar Rp 10,2 triliun dengan kurs Rp 20.510 untuk 1 euro.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerasan di Sleman: Motor Korban Dipepet, Diancam dengan Pisau Lipat
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Mendikdasmen Targetkan Revitalisasi Sekolah di Pidie Selesai Tahun Ini
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kebakaran Hutan Diperkirakan Meningkat, BMKG Luncurkan Sistem Prediksi
• 2 jam lalukompas.id
thumb
Pemerintah Siapkan Blueprint Giant Sea Wall Pantura untuk Lindungi Pesisir dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi
• 21 jam lalupantau.com
thumb
Kejagung Tolak Permohonan Justice Collaborator Sony Sonjaya di Kasus MBG
• 12 menit lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.