JAKARTA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh Tengah melakukan penyedotan limbah tinja di dua lokasi hunian sementara (huntara) warga yang terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tengah, Aceh.
Ketua Posko Wilayah Percepatan Rehab-Rekon (PRR) Aceh Safrizal ZA, mengatakan, aksi tanggap darurat yang dilakukan kurang dari 24 jam sejak adanya laporan ini menyasar Huntara warga Kampung Burlah di Pondok Balik dan Huntara Warga Kampung Bintang Pepara di Jalan Tengah, Kecamatan Ketol.
‘’Pemerintah daerah memang harus hadir secara aktif dan tanggap dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana,’’ujar Safrizal ZA, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, langkah cepat yang dilakukan BPBD dan DLHK Aceh Tengah menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam merespons kebutuhan mendesak warga.
“Sudah semestinya di masa kebencanaan pemerintah daerah harus aktif dan tanggap membantu masyarakat,’’ujarnya.
Baca Juga:Brimob Sterilisasi Stadion JIS Jelang Laga Persija vs Semen Padang‘’Kami sangat mengapresiasi jajaran Pemkab Aceh Tengah, khususnya BPBD dan DLHK, yang langsung menerjunkan armada sedot tinja ke lokasi begitu menerima laporan teknis,” lanjutnya.
Safrizal ZA meminta seluruh Tenaga Ahli Satgas PRR di berbagai daerah untuk senantiasa membangun komunikasi aktif dan sinergis dengan pemerintah daerah setempat.
“Keberadaan tenaga ahli di lapangan menjadi faktor penting sebagai penyambung lidah masyarakat dan penggerak instansi teknis. Terus jalin koordinasi agar setiap persoalan di lapangan cepat terdeteksi, dan pemulihan fisik serta ekonomi warga pascabencana bisa diatasi secara bersama-sama,” pungkasnya.
Aksi cepat pemda tersebut merupakan tindak lanjut langsung dari rekomendasi tertulis yang dilayangkan oleh Tenaga Ahli Satgas PRR Aceh Posko Wilayah, Zam Zam Mubarak.
Dalam laporannya, Zam Zam mengungkapkan fasilitas septic tank MCK komunal di Huntara Desa Bintang Pepara telah penuh dan meluap, sehingga berisiko memicu Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular.
“Kondisinya meluap dan sangat berisiko memicu penyebaran penyakit kulit, ISPA, hingga diare, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia di huntara,’’kata dia.
Baca Juga:LKK-UNPAM Perkuat Harmonisasi Keagamaan di Era ModernDitambah lagi, warga tidak memiliki akses armada sedot WC dan anggaran mandiri,” lanjut Zam Zam dalam laporan lapangannya setelah berkoordinasi dengan Reje atau Kepala Desa Bintang Pepara.
Selain persoalan sanitasi yang kini telah teratasi oleh pemda, laporan Satgas PRR Aceh juga mencatat dua persoalan krusial lain di Kecamatan Ketol yang membutuhkan intervensi lanjutan.
Seperti lumpuhnya akses ekonomi akibat ruas jalan produksi menuju perkebunan warga mengalami longsor setelah dilanda curah hujan tinggi, sehingga biaya angkut hasil bumi melonjak drastis.
#nasional




