BTN (BBTN) Siapkan Revisi Rencana Bisnis Demi Jalankan Buyback

idxchannel.com
2 jam lalu
Cover Berita

BTN (BBTN) berencana menggelar aksi korporasi pembelian kembali (buyback) saham perusahaan di pasar modal.

BTN (BBTN) Siapkan Revisi Rencana Bisnis Demi Jalankan Buyback. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menangkap sinyal positif untuk menggelar aksi korporasi pembelian kembali (buyback) saham perusahaan di pasar modal.

Langkah strategis ini digulirkan sebagai respons atas dorongan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) guna memaksimalkan penciptaan nilai (value creation) bagi pemegang saham di tengah kokohnya fundamental emiten berkode BBTN tersebut.

Baca Juga:
BTN (BBTN) Perkuat Kualitas Kredit, Rasio NPL Turun Jadi 3,1 Persen pada Kuartal I-2026

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu mengatakan, alokasi saham hasil buyback tersebut nantinya diorientasikan khusus untuk memfasilitasi kepemilikan saham bagi internal pegawai bursa.

Skema ini dipilih lantaran porsi kepemilikan saham masyarakat (free float) pada BBTN saat ini telah berada di posisi yang mepet dengan batas minimal ketentuan regulasi bursa, sehingga tidak memungkinkan jika hasil pembelian kembali didepositokan sebagai saham tresuri jangka panjang.

Baca Juga:
Laba BTN (BBTN) Capai Rp1,85 Triliun, Tumbuh 54,3 Persen hingga Mei 2026

“Saat ini harga saham BBTN sudah cukup undervalued, sehingga kemungkinan yang bisa kami kaji adalah pembelian saham untuk kebutuhan program karyawan seperti bonus atau stock option. Saat ini belum masuk dalam Rencana Bisnis Bank [RBB], tetapi akan kami coba kaji untuk dimasukkan dalam revisi RBB,” ungkap Nixon dalam keterangannya, Selasa (23/6/2026).

Rencana perbaikan harga saham ini sejalan dengan pandangan dari pihak induk pengelola investasi negara. Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menilai aksi buyback merupakan instrumen keuangan yang sangat lumrah dan sehat untuk dieksekusi, terutama saat harga saham di papan perdagangan melorot jauh di bawah nilai fundamental aslinya.

Baca Juga:
BTN (BBTN) Ajak Generasi Muda Kelola Financial di Tengah Perkembangan Digital

Dony menegaskan, dibanding jajaran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menempatkan kelebihan likuiditas mereka pada instrumen luar yang spekulatif, penguatan modal ke dalam internal korporasi jauh lebih menjanjikan.

“Buyback itu sebenarnya proses yang normal. Kalau kita melihat saham kita terlalu rendah, tentu bisa menjadi pilihan. Daripada investasi di tempat lain, lebih baik kita investasi pada saham perusahaan sendiri apabila memang fundamentalnya kuat,” kata Dony.

Menurut analisis Danantara, klaster portofolio BUMN saat ini mulai dari sektor perbankan, pertambangan, infrastruktur, hingga lini bisnis penunjang lainnya, memiliki fondasi operasional yang sangat tebal untuk terus mencetak pertumbuhan laba bagi para investor.

Di samping mematangkan rencana buyback, BTN bergerak agresif memperkuat mesin pertumbuhan bisnis organik dan anorganik. Langkah nyata dibuktikan lewat eksekusi akuisisi porsi portofolio kredit milik PT Bank SMBC Indonesia Tbk (sebelumnya Bank BTPN) dengan estimasi total nilai transaksi mencapai Rp19,92 triliun.

Berdasarkan laporan keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), manajemen BTN telah menandatangani kesepakatan pengalihan hak atas kredit pensiunan, pra-pensiunan, serta kredit pegawai aktif BUMN dan instansi pemerintah pada 22 Mei 2026. Transaksi ini menggunakan dua jalur perjanjian, yakni Conditional Portfolio Transfer Agreement (CPTA) dan Conditional Loan Asset Transfer Agreement (CLATA).

Melalui skema CPTA, BTN bersiap mencaplok portofolio pinjaman pensiunan yang dikelola PT Taspen (Persero) dengan taksiran nilai mencapai Rp12,58 triliun.

Sementara lewat skema CLATA, BTN menyerap portofolio kredit pensiunan Asabri, dana pensiun komersial lain, serta kredit pegawai aktif senilai Rp7,34 triliun.

Aksi korporasi ini menuai sentimen positif dari pelaku pasar. Analis Bahana Sekuritas, Razqi M Kurniawan, menilai pembelian jumbo atas aset produktif milik SMBC Indonesia ini menjadi solusi jitu bagi peningkatan profitabilitas bank tanpa perlu memicu risiko pengenceran (dilusi) saham bagi pemilik modal lama.

Langkah tersebut diyakini mampu membenahi struktur keuangan BTN lewat suntikan aset yang menghasilkan tingkat imbal hasil (yield) lebih tinggi, durasi instrumen yang lebih pendek, serta risiko kredit (non-performing loan) yang jauh lebih terukur dan aman.

(Febrina Ratna Iskana)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ajudan Danrem di Jogja Marathon Minta Maaf: Saya Lalai Lari Tak Gunakan Bib
• 23 jam laludetik.com
thumb
Episode Perdana Langsung Moncer, Lautan Cinta dan Sebening Cinta Ancam Tahta Terikat Janji
• 9 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Polri susun aturan pelaksanaan setelah Presiden sahkan revisi UU Polri
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Taufik Hidayat Tersangka Penyekapan Perempuan di Bandung Ditangkap
• 11 menit lalukompas.tv
thumb
Tubuh Penuh Luka Bacokan, Seorang Remaja di Deli Serdang Diduga Jadi Korban Tawuran hingga Tewas
• 4 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.