JAKARTA, KOMPAS.TV - Peneliti Poshdem Universitas Andalas, Feri Amsari, menilai aksi unjuk rasa atau demonstrasi berbayar tidak sekadar membungkam gerakan mahasiswa, tetapi juga mengalihkan pokok persoalan.
Ia menyampaikan pendapat itu merespons pernyataan Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK) yang mengaku menerima uang saat aksi unjuk rasa pada 15 Juni 2026,
Menurut Feri, dengan adanya dugaan penerimaan uang tersebut, mau tidak mau pembahasan akan teralih pada asal usul uang itu.
Baca Juga: Pengakuan Ketua BEM FH UBK Terima Uang Rp20 Juta usai Demo, Dibagi ke Ketua BEM Lainnya
“Iya, tidak sekedar membungkan mahasiswa, ini bahkan bisa mengalihkan kepada pokok persoalan sesungguhnya,” kata Feri dalam dialog Kompas Petang, Kompas TV, Selasa (23/6/2026).
“Sekarang, kita mau tidak mau akan teralihkan bicara soal dari mana uangnya, siapa yang punya kepentingan, kenapa gerakan mahasiswa kemudian disusupi dengan gerakan uang seperti ini.”
Dengan adanya pengakuan itu, menurut dia, aksi yang dilakukan oleh mahasiswa lain, termasuk tuntutan mereka, akan sedikit terlupakan.
“Ini menjauhkan kita kepada pokok persoalan. Sesungguhnya aksi-aksi mahasiswa semacam ini dan banyak aksi lainnya akan selalu ada kepentingan yang menyusupi, ada keinginan untuk mempengaruhi mereka,” ucapnya.
“Saya bersyukur ya, teman-teman UBK, para aktivisnya mengadili pelaku-pelaku rente ini, yang punya kepentingan-kepentingan politik sesaat, mengubah dan merusak gerakan publik.”
Menurut dia, hal itu menunjukkan bahwa UBK memiliki kesadaran berkonstitusi yang sangat baik dan menyadari bahwa gerakan publik tidak boleh dinodai oleh segelintir orang.
Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- feri amsari
- ketua bem fh ubk
- universitas bung karno
- ubk
- aksi mahasiswa
- demo berbayar




