Medan (ANTARA) - Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menegaskan status green card atau kartu hijau Geopark Kaldera Toba dari organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) UNESCO harus memberi dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.
"Kunci utamanya adalah bagaimana menjadikan label green card yang hari ini sudah kita capai lewat kerja keras bersama benar-benar menghasilkan satu nilai tambah yang baik," kata Bobby usai menerima jajaran pengelola Badan Pengurus Toba Caldera Unesco Global Geopark di Aula Tengku Rizal Nurdin, Rumah Dinas Gubernur Sumut, Medan, Selasa.
Gubernur juga memberikan dua catatan atas keberhasilan mempertahankan status kartu hijau Geopark Kaldera Toba dari UNESCO, yakni kunjungan ke kawasan Danau Toba harus meningkat.
Kemudian, masyarakat di sekitar danau yang dikelilingi tujuh kabupaten di Sumatera Utara harus mendapatkan imbasnya secara langsung.
Geopark Kaldera Toba menerima status green card keanggotaannya dari UNESCO Global Geopark pada sidang Komite Eksekutif ke-11 Konferensi Global Geopark Network di Kutralkura, La Araucania, Chile, Sabtu, 6 September 2025.
"Pertama, untuk pariwisata kita tentu kunjungan meningkat. Kedua, masyarakat harus merasakan manfaat ekonominya secara langsung," ujar Bobby.
Gubernur juga menyampaikan apresiasi atas kerja keras seluruh pihak terkait yang terlibat sehingga Geopark Kaldera Toba mempertahankan status revalidasi dari UNESCO.
Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pengembangan pariwisata dan kelestarian lingkungan di kawasan Danau Toba sebagai destinasi super prioritas.
"Rumah kita ini menjadi salah satu jawaban masa depan pariwisata yang menjaga keseimbangan alam," kata Bobby.
General Manager Toba Caldera Unesco Global Geopark Azizul Kholis melaporkan hasil revalidasi telah resmi diakui oleh UNESCO dan sertifikat kelulusan sudah diterbitkan.
"Untuk sertifikat, meski sempat terkendala keberangkatan ke Prancis akibat situasi geopolitik global dan pembatasan penerbangan, namun legalitas dokumen tersebut kini telah sah diterima," katanya.
Azizul juga memaparkan kesiapan pelaksanaan Geotourism Festival and International Conference (Geofest) ke-7 dan pengembangan rute perjalanan wisata (Geo-Trail) baru diterapkan per 1 Juli 2026.
Ia juga menyampaikan sejumlah capaian kerja sama internasional, di antaranya program pendanaan pemberdayaan masyarakat, termasuk aksi penanaman hampir 2.000 pohon di kawasan kaldera.
Pihaknya juga merencanakan pengembangan perjalanan wisata internasional terpadu yang menghubungkan Danau Toba langsung dengan Phuket di Thailand.
"Selain itu, juga dijajaki peresmian pusat studi riset geopark pertama di tingkat Asia, didukung jejaring pakar global serta Badan Riset dan Inovasi," tutur Azizul.
"Kunci utamanya adalah bagaimana menjadikan label green card yang hari ini sudah kita capai lewat kerja keras bersama benar-benar menghasilkan satu nilai tambah yang baik," kata Bobby usai menerima jajaran pengelola Badan Pengurus Toba Caldera Unesco Global Geopark di Aula Tengku Rizal Nurdin, Rumah Dinas Gubernur Sumut, Medan, Selasa.
Gubernur juga memberikan dua catatan atas keberhasilan mempertahankan status kartu hijau Geopark Kaldera Toba dari UNESCO, yakni kunjungan ke kawasan Danau Toba harus meningkat.
Kemudian, masyarakat di sekitar danau yang dikelilingi tujuh kabupaten di Sumatera Utara harus mendapatkan imbasnya secara langsung.
Geopark Kaldera Toba menerima status green card keanggotaannya dari UNESCO Global Geopark pada sidang Komite Eksekutif ke-11 Konferensi Global Geopark Network di Kutralkura, La Araucania, Chile, Sabtu, 6 September 2025.
"Pertama, untuk pariwisata kita tentu kunjungan meningkat. Kedua, masyarakat harus merasakan manfaat ekonominya secara langsung," ujar Bobby.
Gubernur juga menyampaikan apresiasi atas kerja keras seluruh pihak terkait yang terlibat sehingga Geopark Kaldera Toba mempertahankan status revalidasi dari UNESCO.
Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pengembangan pariwisata dan kelestarian lingkungan di kawasan Danau Toba sebagai destinasi super prioritas.
"Rumah kita ini menjadi salah satu jawaban masa depan pariwisata yang menjaga keseimbangan alam," kata Bobby.
General Manager Toba Caldera Unesco Global Geopark Azizul Kholis melaporkan hasil revalidasi telah resmi diakui oleh UNESCO dan sertifikat kelulusan sudah diterbitkan.
"Untuk sertifikat, meski sempat terkendala keberangkatan ke Prancis akibat situasi geopolitik global dan pembatasan penerbangan, namun legalitas dokumen tersebut kini telah sah diterima," katanya.
Azizul juga memaparkan kesiapan pelaksanaan Geotourism Festival and International Conference (Geofest) ke-7 dan pengembangan rute perjalanan wisata (Geo-Trail) baru diterapkan per 1 Juli 2026.
Ia juga menyampaikan sejumlah capaian kerja sama internasional, di antaranya program pendanaan pemberdayaan masyarakat, termasuk aksi penanaman hampir 2.000 pohon di kawasan kaldera.
Pihaknya juga merencanakan pengembangan perjalanan wisata internasional terpadu yang menghubungkan Danau Toba langsung dengan Phuket di Thailand.
"Selain itu, juga dijajaki peresmian pusat studi riset geopark pertama di tingkat Asia, didukung jejaring pakar global serta Badan Riset dan Inovasi," tutur Azizul.





