Jakarta: Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyebutkan pembinaan atlet untuk menghadapi ajang Olimpiade seharusnya dilakukan minimal enam tahun sebelum ajang tersebut. Pembinaan atlet jangan dilakukan secara terburu-buru.
"Kalau kita tahu ada Olimpiade, jangankan (Olimpiade) 2028, Olimpiade 2032 itu atletnya dibina dari sekarang, enam tahun sebelumnya. Bukan satu tahun, satu tahun sebelum Olimpiade baru terburu-buru," kata Erick Thohir kepada awak media di Jakarta, dilansir dari Antara, Selasa, 23 Juni 2026.
Menpora menjelaskan Presiden Prabowo Subianto juga menginginkan agar pembinaan atlet untuk bisa berprestasi di panggung dunia tidak dilakukan dalam jangka waktu satu atau dua tahun, melainkan secara berkelanjutan selama bertahun-tahun. Presiden telah memastikan dukungan anggaran pemerintah untuk pelaksanaan pemusatan latihan jangka panjang.
Menurut dia, hal itu sejalan dengan harapan semua cabang olahraga karena mereka dapat menyiapkan atlet secara optimal untuk bisa mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Menpora mengatakan pembinaan jangka panjang merupakan kunci untuk melahirkan atlet-atlet berprestasi.
Dia mencontohkan atlet senam Filipina peraih dua emas di Olimpiade Paris 2024 yang dibina sejak masih berada di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk bisa berprestasi di panggung Olimpiade.
"Jadi pelatnas tidak bisa menjadi single years atau per tahun. Pelatnas itu harus multi-years, bertahun-tahun," kata Menpora.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir. Foto: Antara.
Dia mengatakan pelatnas jangka panjang tersebut tidak hanya untuk menghadapi Olimpiade, namun juga ajang seperti Asian Games. Pihaknya terus berkomunikasi dengan Kementerian Keuangan sesuai arahan dari Presiden agar bisa mendapatkan dukungan anggaran yang cukup. Dia juga memastikan seluruh anggaran dari kementerian yang dipimpinnya akan digunakan secara efisien dan tepat sasaran.




