jpnn.com, JAKARTA - PT Wulan Cipta Sejati (PT WCS) memperkenalkan konsep ekosistem pertanian modern terintegrasi berbasis teknologi presisi dan data dalam ajang Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (PENAS KTNA) 2026 di Gorontalo.
Melalui branding Aerotron Industries, PT WCS menampilkan berbagai solusi agritech yang mengintegrasikan mekanisasi, otomasi, analisis data, hingga edukasi operator dalam satu sistem yang saling terhubung.
BACA JUGA: Demi Kedaulatan Pangan, Jazuli Juwaini DPR: Setop Alih Fungsi Lahan Pertanian
Vice President Pengembangan Bisnis PT WCS Danung Wicaksono mengatakan kehadiran perusahaan dalam PENAS KTNA 2026 tidak sekadar memperkenalkan produk, tetapi juga menunjukkan arah pengembangan teknologi pertanian yang lebih komprehensif.
"Bagi kami, pertanian modern tidak bisa lagi dilihat secara terpisah antara alat, pengguna, distribusi, teknologi, data, dan layanan purnajual. Semuanya harus dibangun sebagai satu ekosistem," kata Danung dalam keterangannya, Selasa (23/6).
BACA JUGA: Hyundai i20 Generasi Baru Hadir dengan Sentuhan Modern, Harga Rp 300 Jutaan
Menurutnya, kebutuhan petani saat ini tidak hanya sebatas alat yang andal, tetapi juga teknologi yang mudah digunakan, didukung pelatihan, serta mampu menghasilkan keputusan berbasis data.
"PT WCS ingin mengambil peran sebagai jembatan antara teknologi global, rekayasa lokal, data agronomi, dan kebutuhan riil di lapangan," ujarnya.
BACA JUGA: Banjir Merendam Lahan Pertanian 2 Desa di Parimo
Dalam pameran tersebut, PT WCS menampilkan sejumlah produk dan teknologi, antara lain drone pertanian Aerotron Agra30, teknologi pembenihan Aerotron PowerGro SP-300 Seed Germinator, DOJO Pumps, serta traktor YTO ESK454 dan YTO NLX1054.
Pengunjung juga dapat mencoba drone simulator dan tractor simulator yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi operator secara aman dan interaktif.
PT WCS turut menggandeng sejumlah mitra strategis, seperti YTO International Limited, CV Palupi Agri Berdikari (PARI), Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan), Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI), Agrilabs.id, serta Ilssang Industry Co., Ltd. dari Korea Selatan.
Salah satu kolaborasi yang menjadi perhatian ialah kerja sama dengan Agrilabs.id dalam pengembangan pertanian presisi berbasis data dan kecerdasan buatan (AI).
Melalui kolaborasi tersebut, teknologi lapangan seperti drone dan alat mekanisasi dapat diintegrasikan dengan analisis nutrisi tanaman, rekomendasi pemupukan, hingga prediksi hasil panen.
"Pertanian presisi tidak bisa hanya berhenti pada alat. Drone, traktor, pompa, dan mesin pertanian akan jauh lebih bernilai ketika penggunaannya didukung oleh data yang baik," tutur Danung.
Sementara itu, Vice President Agritech & Engineering PT WCS Febry Hardyono menegaskan setiap teknologi yang dikembangkan harus mampu menjawab kebutuhan nyata di lapangan.
"Drone pertanian, pompa, seed germinator, maupun simulator tidak cukup hanya terlihat canggih. Produk tersebut harus bisa digunakan, dirawat, dipahami oleh operator, dan benar-benar memberi manfaat dalam proses pertanian," ujar Febry.
Di sektor mekanisasi, PT WCS juga memperkuat kerja sama dengan PARI dan YTO International Limited untuk memperluas akses petani terhadap alat dan mesin pertanian modern.
Perwakilan PARI Mario E. Sihombing menilai kebutuhan mekanisasi pertanian di Indonesia terus meningkat dan membutuhkan dukungan distribusi yang kuat.
"Kemitraan ini bukan hanya tentang menjual traktor. Ini tentang membangun kepercayaan pasar, menghadirkan solusi mekanisasi yang tepat, dan memastikan produk yang kami bawa benar-benar dapat mendukung produktivitas pertanian Indonesia," kata Mario.
Melalui partisipasinya di PENAS KTNA 2026, PT WCS ingin menunjukkan pentingnya integrasi teknologi, data, mekanisasi, dan penguatan sumber daya manusia dalam mendorong transformasi pertanian Indonesia menuju sistem yang lebih modern dan berkelanjutan.(kkp/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Khawatir Bebani Petani Sawit, SPKS Soroti Klausul Margin DSI
Redaktur : Elfany Kurniawan
Reporter : Kenny Kurnia Putra




